Bendesa Adat Kuta Nilai Ganjil-Genap Tidak Tepat

  • Whatsapp
BENDESA Adat Kuta, Wayan Wasista. foto: ist

MANGUPURA – Rencana pemberlakuan pembatasan arus lalulintas sistem ganjil-genap di daerah tujuan wisata, yang salah satunya di Kuta, membuat masyarakat Kuta gusar. Pasalnya, hal itu dinilai seolah mencederai upaya masyarakat Kuta yang ingin bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19. Baru mereka merasa senang dengan geliat kunjungan yang kembali tumbuh, hal itu justru kembali dicederai dengan aturan tersebut.

Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista, mengatakan, masyarakat Kuta sangat menyayangkan rencana tersebut, karena hal itu dinilai mencederai semangat dan upaya masyarakat Kuta yang berusaha bangkit dari dampak pandemi. Mereka merasa gusar bahwa kebijakan itu akan membuat kunjungan wisata yang mulai menggeliat nantinya kembali menurun.

Bacaan Lainnya

“Saya banyak mendapatkan keluhan dan pertanyaan hal itu dari masyarakat kami. Tapi terus terang saya belum bisa menjawab, karena saya belum tahu resmi informasinya seperti apa penerapan ganjil-genap itu,” sebut Wasista, Senin (20/9/2021).

Pihaknya mengaku cukup memaklumi jika masyarakat merasa gusar dan kecewa jika aturan itu jadi diterapkan. Sebab hal itu seolah menekan ekonomi dan psikis masyarakat, yang notabene sudah hampir dua tahun hidup hanya dari uang tabungan. Untuk itu ia meminta pihak yang mempunyai kewenangan dalam hal ini Pemprov Bali agar meninjau kembali aturan itu.

Baca juga :  Kun Adnyana Dilantik Sebagai Rektor ISI Denpasar

“Semoga urung diterapkan. Saat ini masyarakat Kuta sudah sangat kesulitan ekonomi, sehingga upaya pemulihan ekonomi sangat diperlukan. Semoga pihak yang berwewenang terkait aturan itu juga mempertimbangkan banyak sisi,” pinta Wasista.

Ia juga mempertanyakan, kenapa kebijakan itu hanya diterapkan untuk Kuta dan Sanur. Padahal di tempat lain di Badung cukup banyak DTW yang mirip dengan Kuta dan bahkan lebih ramai dari Kuta. Selama ini masyarakat Kuta diakuinya sangatlah menderita dengan imbas pandemi, yang melumpuhkan roda perekonomian masyarakat. Namun, ketika kunjungan mulai menggeliat, kenapa kunjungan itu justru seolah dibatasi.

Dia mengingatkan, kunjungan wisata masih relatif sepi atau baru terisi sekitar 30 persen dibandingkan hari normal, dan itupun baru terjadi akhir pekan kemarin saja. Terlebih kondisi jalan di Pantai Kuta juga belumlah macet dan penerbangan internasional belum dibuka. “Terus terang kebijakan ini menjadi sangat aneh di masyarakat kami. Apakah kita harus jual tanah dulu untuk bisa makan,” sentilnya.

Kekecewaan tersebut diakuinya sudah muncul saat pemerintah berencana membuka Bandara Ngurah Rai sebagai tempat entry point masuk wisatawan mancanegara. Namun kenyataanya hal itu justru menjadi PHP (pemberi harapan palus) bagi masyarakat, karena Bandara Ngurah Rai tidak masuk di dalamnya. Jika border internasional mulai dibuka ke Bali, moment itulah yang seyogyanya cocok mendapatkan atensi dari pemerintah dengan kebijakan tersebut.

Baca juga :  Pariwisata Bali Siap Sambut Tatanan Kehidupan Normal Baru

Hal senada juga diungkapkan Ketua PHRI Badung, IGN Rai Suryawijaya. Ia menilai kebijakan ganjil-genap tidak cocok untuk Bali, sebab Bali berbeda dengan kota lain yang menerapkan kebijakan tersebut. Jika kebijakan itu dipaksakan, hal itu justru akan sangat merugikan sektor pariwisata. Apalagi di tengah situasi yang baru mulai menggeliat saat ini.

“Kondisi Bali berbeda dengan Jakarta, yang sudah banyak memiliki transportasi umum dan masyarakatnya sudah terbiasa akan penerapan ganjil-genap. Di Bali itu kendaraan umum sangat jarang, masyarakat juga sudah terbiasa dengan kendaraan roda dua atau kendaraan pribadi untuk pergi kemana-mana,”terang Rai Suryawijaya.

Menurutnya, saat ini Bali belum memerlukan kebijakan ganjil-genap. Sebab belum ada kemacetan yang timbul dan jika terjadi itu durasinya singkat dan tidak selalu. Karena itu ia menyarankan agar kebijakan itu segera dikaji ulang, agar tidak menimbulkan permasalahan di lapangan. “Jadi kebijakan ini selain tidak tepat untuk Bali dan juga terkesan dipaksakan,”pungkasnya. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.