Belasan Ton Ikan Danau Batur Mati

SEMBURAN belerang di perairan Danau Batur, Kintamani sejak beberapa hari lalu menyebabkan belasan ton ikan nila, terutama hasil budidaya sistem karamba jala apung (KJA), mati secara sporadis. foto: gia

BANGLI – Semburan belerang di perairan Danau Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, sejak beberapa hari lalu menyebabkan belasan ton ikan nila, terutama hasil budidaya sistem karamba jala apung (KJA), mati secara sporadis.

Laporan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, Kamis (4/3/2021), tercatat sebanyak 14,3 ton ikan milik petani mati.

Read More

Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma, mengatakan, sebanyak 17 petugas dari perikanan bersama warga setempat bergotong royong membersihkan bangkai ikan. Sejak dua hari lalu, jelasnya, ikan yang mati sebanyak 14,3 ton dari 28 pemilik karamba yang tersebar di Desa Buahan yang paling banyak, dan Desa Abang Batudinding. “Sementara desa lainnya tidak kena dampak,” ujarnya.

Dengan tingginya tingkat kematian ikan tersebut, sebutnya, diestimasi total kerugian mencapai Rp 400 juta lebih. Estimasinya dengan hitungan standar harga ikan di tingkat petani Rp26 ribu sampai Rp28 ribu per kilo dikalikan 14,3 ton. Untuk sementara dia menilai tidak ada dampak dengan pasokan ikan di pasar. Harga ikan di pasar masih tetap Rp28 ribu sampai Rp30 ribu per kg.

Tindak lanjut dari itu, pagi kemarin instansinya gotong royong dengan melibatkan masyarakat sekitar bersama Polair Polres Bangli untuk membantu membersihkan bangkai ikan di danau. Bangkai ikan itu ada yang ditanam di ladang petani, dan yang tidak diserap diangkut ke wilayah Desa Pengotan untuk diolah menjadi pupuk.

Dia mengakui dampak semburan belerang tersebut memang paling banyak menyebabkan kematian pada ikan dalam karamba. Untuk ikan liar kematiannya sedikit, karena mereka lebih leluasa bergerak mencari tempat yang lebih aman. Sementara ikan yang di KJA lebih banyak mati, karena tidak bebas bergerak, terkukung dalam karamba yang menyebabkan banyak kematian.

Terkait kondisi terkini air Danau Batur, dia mendaku sudah normal. Fenomena di Danau Batur itu dikenal dengan sebutan upwelling, yakni terjadinya perputaran air danau ke dasar danau yang disertai dengan semburan belerang.

Kondisi galib terjadi di semua danau alam. Karena itu, dia berujar sejak awal sudah memperingatkan para petani ikan. Kalau tidak diantisipasi, bisa jadi tingkat kematiannya akan jauh lebih banyak dari itu.

“Tanggal 7 Februari saya kirim edaran untuk mempertegas kembali, jika sudah waktu panen agar dipanen lebih awal. Biasanya fenomena upwelling terjadi pada Januari sampai Maret, dan dari Juli sampai Agustus. Mudah-mudahan Juli dan Agustus tidak ada lagi,” pungkasnya. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.