DENPASAR – Pelaksanaan Pemilu pada 14 Februari 2024 yang bertepatan dengan Hari Valentine diyakini menyediakan kemudahan untuk sosialisasi, terutama menyasar kaum milenial. Menyasar kelompok ini, Bawaslu Bali menyiapkan video pendek berisi konten sosialisasi terkait Pemilu serta aturan-aturannya. Di sisi lain, momentum Hari Valentine juga mesti digunakan peserta Pemilu untuk membuktikan rasa sayangnya kepada para pemilih.
Anggota Bawaslu Bali, I Ketut Rudia, Jumat (4/2/2022) mengakui terselip kemudahan untuk proses sosialisasi dengan Pemilu dilangsungkan pada 14 Februari, khususnya di kalangan generasi milenial. Salah satu strategi yang akan dijalankan yakni bagaimana menggugah mereka agar sayang dengan demokrasi, sekaligus sayang dengan orang-orang yang dicintai. Media yang dipilih yakni video pendek dengan kemasan konten yang komunikatif.
“Momen bersamaan ini bagi Bawaslu punya tambahan cara untuk sosialisasi Pemilu beserta aturannya. Untuk di Divisi Hukum sudah punya rancangan sosialisasi melalui film pendek. Teman-teman di (Bawaslu) kabupaten/kota juga kami minta untuk berkreasi dalam menyosialisasikan Pemilu,” urainya.
Rudia tidak memungkiri salah satu ukuran keberhasilan Pemilu adalah partisipasi masyarakat menggunakan hak pilih, dan hal itu digunakan secara sadar tanpa paksaan. Namun, bicara keadilan, pendekatan Bawaslu ada dua, yakni aspek hukum dan aspek sosial. Aspek hukum, jelasnya, apa yang tertuang dalam hukum itulah yang ditegakkan Bawaslu. Sementara dalam aspek sosial, pendekatannya berbeda-beda, bergantung karakteristik masyarakat setempat.
Jika kedua aspek ini berjalan beriringan, dia menilai partisipasi masyarakat untuk menyukseskan pesta demokrasi itu akan meningkat atas dasar kesadaran atas hukum dan kekuatan sosial. Jadi, pemilih akan hadir atas kesadaran sendiri, tanpa disertai aroma pelanggaran seperti politik uang, intimidasi, atau ancaman kekerasan.
Disinggung optimisme partisipasi masyarakat menggunakan hak pilih meningkat, khususnya dari generasi milenial, dengan momentum Hari Valentine, Rudia semula tidak menjawab lugas. Menurutnya, harus ada evaluasi Pemilu, apakah banyaknya sosialisasi berdampak langsung ke partisipasi masyarakat. Menimbang karakter pemilih yang tidak berbeda jauh dengan pemilu-pemilu sebelumnya, dan dengan meningkatkan kegiatan pendidikan politik kepada kelompok milenial, dia optimis momen Hari Valentine dan pencoblosan akan dimanfaatkan maksimal oleh kelompok milenial. “Kalau faktor pendukungnya tidak berubah, saya optimis angka (partisipasi masyarakat) naik,” pungkasnya.
Di kesempatan terpisah, akademisi FISIP Undiknas, Dr. Nyoman Subanda, juga melihat tanggal 14 Februari lebih “menjual” untuk menggerakkan orang menggunakan hak pilih. Dalam promosi, ucapnya, lebih mudah dan enak disosialisasikan ke masyarakat. “14 Februari itu kan orang tahu hari apa, dan itu mudah terkenang. Jadi, bisa diterima dan gampang untuk sosialisasi,” paparnya.
Hanya, Subanda kurang sepakat jika menggunakan hak pilih pada Hari Kasih Sayang itu kemudian terlalu didramatisasi sebagai wujud sayang kepada negara. Justru dia melihat itu sebagai momentum peserta Pemilu, partai dan politisi, untuk belajar memaknai kasih sayang secara politik. “Itu bagus dimaknai sayang pemimpin kepada rakyatnya. Namanya sayang atau cinta, tentu yang dipilih itu tidak akan ingkar janji kepada rakyat. Pesan ini saya rasa tidak kalah pentingnya digemakan,” tuturnya menandaskan. hen























