POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Mahasiswa didorong menjadi subjek aktif yang menjaga kedaulatan hak-hak demokratis guna menciptakan sistem pemilihan yang adil dan inklusif. Hal tersebut ditegaskan Kordiv Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Provinsi Bali, Gede Sutrawan, dalam kegiatan Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) DPC GMNI Tabanan di Kampus Unhi, Sabtu (25/4/2026).
Sutrawan menekankan pentingnya pemahaman mendalam mengenai hak memilih dan dipilih di kalangan intelektual muda. Mahasiswa diingatkan tidak sekadar menjadi peserta pasif, melainkan harus memiliki kesadaran penuh dalam menentukan arah kepemimpinan bangsa melalui instrumen hak suara yang dimiliki. “Nilai-nilai demokrasi harus terus dijaga dan diperjuangkan, terutama di tengah berbagai tantangan yang berpotensi membatasi kebebasan berpendapat dan berpartisipasi,” terangnya.
Pemaparan tersebut sekaligus menjawab berbagai pertanyaan kritis peserta mengenai peran mahasiswa dalam iklim demokrasi saat ini. Sutrawan menilai kesadaran kolektif dari kalangan intelektual menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem pemilihan yang transparan. Dia juga mengingatkan agar ideologi tidak menjelma menjadi pemahaman sempit, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.
Lebih jauh, Sutrawan menguraikan bahwa spirit Marhaenisme dapat dijadikan landasan perjuangan yang relevan bagi mahasiswa melalui nilai gotong royong. Dalam konteks kekinian, Marhaenisme dipandang mengalami perkembangan yang lebih adaptif, sehingga mahasiswa didorong mengimplementasikannya dengan pola pikir mandiri, logis, dan filosofis tanpa menanggalkan ciri kesederhanaan.
Semangat gotong royong disebut sebagai manifestasi konkret dari ideologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi antarmahasiswa, baik dalam spektrum akademik maupun aktivitas sosial, dianggap sebagai bentuk nyata perjuangan kolektif yang berorientasi pada kemaslahatan bersama.
Sebagai penutup, Sutrawan menegaskan Marhaenisme masa kini bukan lagi sebatas wacana tekstual semata. “Ini telah menjadi kerangka berpikir dan bertindak yang relevan, kritis, serta solutif dalam menghadapi berbagai dinamika sosial dan politik, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat luas,” pungkasnya. hen
























