Aryani Stri Shakti Woman Circle Ashram Gandhi Puri, Kupas Relevansi dan Revitalisasi Peranan Perempuan dalam Gerakan Ahimsa Satya

  • Whatsapp
ARYANI Stri Shakti Woman Circle Ashram Gandhi Puri, kupas relevansi dan revitalisasi peranan perempuan dalam gerakan Ahimsa Satya menjawab tantangan masyarakat modern, Jumat (1/10/2021).

KLUNGKUNG – Stri Shakti Woman Empowerment Programme adalah salah satu dari Astakamala Project Delapan Konstruktif Work Shantisena Ashram Gandhi Puri. Dimana gerakan perempuan dan aktivitas sosialnya menjadikan Shantisena Putri lebih mandiri dan mempunyai jangkar untuk bergerak maju melangkah kalau sebelumnya hanya pada dua wing kini berlanjut pada wing ketiga dan keempat.

Stri Shakti ini sendiri memiliki bagian yaitu Aryani Klayana Mitra Stri Shakti yang mana berfokus kepada sahabat perempuan yang membeasiswai mereka Studi formal informal; Aryani Stri Shakti Mandapam yang berfokus membuat Hall khusus untuk pelatihan perempuan di Ashram Gandhi Puri Chhatralaya dan Ashram Gandhi Puri Sevagram; Aryani Stri Shakti Yoga for Health Wellness and Healing; dan yang terakhir Aryani Stri Shakti Woman Circle berfokus kepada spesifik dialog perempuan menghadapi tantangan dan masalah yang dihadapi di masyarakat serta solusinya membuka dialog Ida Rsi Putra Manuaba pendiri Ashram Gandhi Puri.

Bacaan Lainnya

Kegiatan Stri Shakti ini mulai dikembangkan untuk membantu setiap perempuan berpikir terbuka dan maju. Kegiatan ini dilakukan bersama dengan narasumber luar biasa, yang dapat membuat shantisena belajar banyak pengalaman yang mereka lewati sehingga sebagai shantisena putri di Ashram Gandhi Puri dapat menyetarakan kedudukan serta saling menghargai sesama perempuan.

Baca juga :  Nasib PON Ditentukan Mei 2020, Suwandi Pilih PON Ditunda

Kegiatan Stri Shakti dilakukan setiap bulan dalam kemasan 72 Hours for Peace yang berisi dialog, yoga, culture performance dan Suryanamaskar Yadnya. Khusus pada Jumat (1/10/2021) mendatangkan tokoh perempuan hebat yaitu Ni Wayan Sri Prabawati Kusuma Dewi, dosen UHN IGB Sugriwa; Komang Ari Ayu Ningrum, Ketua Golkar Klungkung; Guru Ma Savitri Devi, Pendiri Kundalini Yoga Bali, antusias membahas dialog tentang “Relevansi dan Revitalisasi Peranan Perempuan dalam Gerakan Ahimsa Satya menjawab tantangan masyarakat modern.”

Setiap narasumber memiliki cerita dan pengalaman masing-masing. Prabawati Kusuma Dewi mengatakan “Jika tidak ada yang sudi mempromosikan perempuan, biar sesama perempuan yang menjadi jurkamnya, mari tunjukkan simpati dan kemurahan hati. Kita sudah terbiasa bekerja lebih keras dari para pria, mari bangun lingkaran untuk saling membagi kekuatan, perasaan, dan keberanian. Percayalah kita tidak akan pernah sendirian dalam sebuah lingkaran,’’

Pernyataan itu dapat membuat shantisena merasa memiliki teman untuk saling melindungi dan berjuang bersama seperti layaknya R.A Kartini yang telah berjuang dalam memberi kelayakan berpendidikan bagi setiap perempuan di Indonesia. ernyataan itupun ditambah dengan pernyataan dari narasumber lainnya. “Kita semua memiliki kesempatan yg sama, kemampuan perempuan lebih tinggi sebenarnya dari laki-laki,’’ ucap Ayu Ningrum.

Sehingga setiap wanita memiliki hak dalam melakukan hal yang sama dengan laki-laki yang berbeda antara laki-laki dan perempuan hanya dalam empat kewajiban yang dimiliki perempuan yaitu menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui. Hanya itu saja yang membedakan laki-laki dan perempuan sisanya semua sama.

Baca juga :  Bangkai Lumba-Lumba Terdampar di Pebuahan

Dialog tentang relevansi dan revitalisasi peranan perempuan dalam gerakan ahimsa satya menjawab tantangan masyarakat modern, ahimsa dan satya dalam dialog tentang peranan perempuan bisa meningkatkan kehormatan perempuan yang mana ahimsa itu tidak hanya tidak membunuh namun juga tidak menyakiti, tidak merugikan diri sendiri, bentuk perlindungan dan harga diri serta rasa hormat seseorang. Satya sendiri dari panca satya yaitu hrdya, wacana, mitra, semaya dan laksana yang memiliki arti dan keterkaitan dengan perempuan.

Dialog tentang peranan perempuan juga didukung oleh narasumber ketiga. “Kita hidup zaman sekarang, zaman peminum yang berati banyak cara diselesaikan dengan sesempurna mungkin, dan guru pertama adalah ibu serta kita semua adalah Adi sakti,’’ ujar Guru Ma Savitri Devi.

Kegiatan ini sangat spesial untuk Shantisena putri karena bertepatan dengan 100 tahun Ibu Gedong Bagus Oka, serta 152 tahun Mahatma Gandhi yaitu bapak Perdamaian. Kegiatan dialog ini dapat menyadarkan shantisena putri bahwa jadilah wanita tangguh, jangan pernah merasa menjadi second class, tetap bersyukur, tunjukan diri, cintai diri sndri, hargai dan hormati diri sendiri lakukanlah yang terbaik untuk dirimu, tetap semangat dan optimis, jangan takut untuk mencoba hal baru dan pesan terakhir sesekali bisa lakukan yoga atau meditasi sesuai kebutuhan tubuh anda.

‘’Shantisena putra yang mengikuti kelas ini juga dapat menjadikan dialog ini sebagai ilmu dan membuka pikiran untuk menghormati perempuan serta memberikan hak yang setara,’’ tutup Direktur Shantisena AGP I Wayan Sari Dika, MIKom. rls

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.