DENPASAR – Daya tarik pariwisata Bali selama ini masih dengan menu utama pemandangan alam dan budaya masyarakatnya, meski terseok-seok karena pandemi. Untuk itu Bali perlu lebih serius menggemakan sport tourism (pariwisata olahraga), minimal untuk skala lokal, agar bisa menggeliatkan ekonomi pariwisata. Tersedianya infrastruktur olahraga menjadi titik ungkit sektor ini.
Ketua Komisi III, AA Ngurah Adhi Ardhana, menilai Bali memiliki peluang besar menggarap pariwisata olahraga. Meski diakui tidak semenggiurkan pariwisata budaya secara ekonomi, tapi dalam kondisi restriksi dunia seperti saat ini, justru pasar sport tourism lebih memungkinkan dijalankan. “Kalau pariwisata budaya pasarnya dari dalam dan luar negeri, kalau sport tourism kita bisa menyasar khusus domestik saja. Syarat utamanya adalah ketersediaan infrastruktur olahraga di Bali,” ucap politisi PDIP tersebut, Senin (25/1/2021).
Lebih jauh diutarakan, Bali memiliki potensi atlet berprestasi nasional di cabang renang. Dengan mengadakan satu kejuaraan renang saja seperti Piala Gubernur tahun 2019, pesertanya mencapai 300 lebih atlet lokal dari beberapa kategori. Itu baru atletnya, belum ofisial dan keluarga atletnya. Makin besar skala kejuaraan, makin besar pula jumlah atlet yang berkompetisi.
“Yang kategori anak-anak kan didampingi orangtua, berarti jumlahnya (yang datang) bertambah. Sekali menginap, itu sudah ratusan kamar hotel terisi, minimal di wilayah itu. Saya pikir upaya ini dapat memberi gairah ekonomi lokal daripada kita hanya mengeluh saja,” ulas Ketua Pengprov PRSI Bali itu.
Dari sisi ketersediaan fasilitas, dia menyebut Buleleng punya kolam renang bagus, dan cukup bagus aksesibilitasnya. Ketersediaan akomodasi di Buleleng lebih dari cukup. Untuk kategori open water (perairan terbuka) juga tersedia, tinggal mendata arus laut dan keamanan lainnya.
“Kami berharap infrastruktur jangka panjang bisa berkualitas baik, pembuatan dapat memakai APBD atau KBU (Kerjasama Badan Usaha). Menteri Pariwisata Sandiaga Uno juga mendorong pemulihan pariwisata Bali lebih cepat, karena itu sport tourism ini paling memungkinkan diakselerasi,” urainya.
Ardhana mengakui pasar pariwisata masih berkutat di Bali Selatan, dengan episentrum di Badung dan Denpasar. Ini berkonsekuensi jauh lebih mudah menjual lokasi di Badung daripada di Buleleng. Kalaupun Bali Selatan ingin dipakai menjajal sport tourism itu, dia menyebut Badung punya kolam renang cukup representatif di daerah Blahkiuh. Masalahnya, kolam itu di lahan pribadi, jadi agak sulit dikembangkan untuk venue kejuaraan.
Apakah Denpasar dengan infrastruktur dan aksesibilitas terbaik di Bali dapat yang mengambil peluang itu? “Ya, idealnya memang begitu, dan saya rasa Denpasar mestinya bisa mengambil posisi itu sebagai sektor ekonomi baru. Prinsipnya, semua kembali kepada penyediaan infrastruktur,” tandasnya. hen
























