Yenny Wahid Sebut Kadek Asih Kejutan Manis untuk Indonesia

ATLET panjat tebing Indonesia Kadek Adi Asih (kanan) meraih medali perunggu speed putri bersanding dengan peraih medali emas Miroslaw Aleksandra (tengah) dan medali perak diraih atlet China, Zhou Yafei di podium seri ketiga Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Pulau Peninsula, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (3/5/2025). foto: ist

POSMERDEKA.COM, MANGUPURA – Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) menilai prestasi atlet speed putri Kadek Adi Asih yang mempersembahkan medali perunggu pada Piala Dunia Panjat Tebing 2025 di Bali merupakan kejutan manis untuk tanah air.

“Sebetulnya kami tempatkan lebih cadangan tapi ternyata mempersembahkan medali, ini kejutan manis,” kata Ketua Umum FPTI Yenny Wahid di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (3/5/2025).

Read More

Menurut dia, atlet asal Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali itu ditempatkan sebagai cadangan karena baru debut di ajang bergengsi itu. Bahkan atlet muda berusia 19 tahun itu baru masuk tim nasional pada 15 April 2025 berlatih intensif untuk panjat tebing putri Indonesia bersama pelatih tim putri, Hendra Basir.

Dengan potensi dan usia yang terbilang muda, ia menilai Kadek Asih merupakan salah satu atlet speed potensial masa depan Indonesia. “Sangat potensial, usia baru 19 tahun, masih bisa Olimpiade dua kali,” ucap Yenni Wahid, seperti dilansir posmerdeka.com dari antaranews.

Kadek Asih mengalahkan wakil Korea Selatan (Korsel), Jeong Jimin dengan catatan waktu 7,27 detik pada perebutan juara ketiga untuk meraih medali perunggu.

Selain itu, Yenny Wahid memuji ketenangan Kadek Adi Asih dalam mengatur ritme dan strategi yang berperan penting dalam kompetisi ketangkasan itu.

Pada bagian lain, Yenny Wahid membesarkan hati wakil tuan rumah yang juga asal Kabupaten Buleleng, Bali, Desak Made Rita Kusuma Dewi yang terhenti pada babak perempat final yang saat itu terpeleset mendekati ujung papan dengan catatan waktu 9,17 detik.

Ia dikalahkan juara dunia asal Polandia, Miroslaw Aleksandra yang meraih medali emas dengan catatan waktu 6,37 detik. “Mungkin dia merasa ingin memberikan prestasi yang terbaik kepada masyarakat Bali, justru itu yang membuat tergelincir jadinya, tapi semangatnya pasti ingin menang, inilah suratan takdir,” pungkas Yenny Wahid. yes

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.