Wujudkan “Bali Smart Island”, Diskominfos Bali Pilih AWS

  • Whatsapp
KEPALA Seksi Aplikasi Informatika Diskominfos Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Puspa Udiyana. Foto: ist
KEPALA Seksi Aplikasi Informatika Diskominfos Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Puspa Udiyana. Foto: ist

DENPASAR – Mewujudkan program “Bali Smart Island” Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali memilih Amazon Web Services (AWS) sebagai penyedia cloud. Ada tiga manfaat memanfaatkan AWS. Yakni ketersedian layanan, cepat dalam implementasi, dan pay as you go. Hanya membayar layanan yang kita gunakan saja.

Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi Aplikasi Informatika Diskominfos Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Puspa Udiyana. Dia mengatakan, dipilihnya AWS ini karena berkaca dari pengalaman yang telah dijalani. Sebelumnya, pihaknya mencoba pelbagai penyedia, namun tak ada yang tepat. Akhirnya, pihaknya memilih AWS karena keunggulan layanan pelanggan, skalabilitas, serta solusi-solusinya yang terintegrasi.

Bacaan Lainnya

Puspa Udiyana mengatakan bahwa dengan cloud AWS dapat mengembangkan aplikasi-aplikasi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf kehidupan penduduk Bali. “Total ada 29 aplikasi yang kami kembangkan,” ujarnya dalam acara media briefing secara virtual melalui aplikasi Amazon Chime, Kamis (7/10/2021).

Dia mencontohkan, saat terjadinya lonjakan kasus terkonfirmasi positif di Bali yang berujung pada kelangkaan oksigen, pihaknya mengembangkan aplikasi dalam memonitoring ketersedian bantuan pernapasan ini, sehingga tidak terjadi keterlambatan pasokan untuk pertolongan kepada pasien. “Khususnya saat puncak kasus pandemi Juli-Agustus, kami melakukan monitoring oksigen melalui aplikasi,” ungkapnya.

Baca juga :  Buka Lewat Jam Operasional, Satgas Kelurahan Tonja Beri Peringatan Keras Dua Toko Modern

Dia mengatakan, banyak aplikasi kritikal lain milik Pemda Bali yang juga dibangun menggunakan solusi AWS, seperti sistem sensus desa adat, sistem monitoring oksigen fasilitas kesehatan, sistem manajemen aset, sistem Bali satu data, pameran virtual, hingga Bali Media Center. “Dari segi biaya yang dikeluarkan, lebih baik dibandingkan yang lain. Rerata Rp18 juta per bulan sejak Januari hingga September 2021,” ujarnya.

Dia juga menyampaikan terkait absensi elektronik yang digunakan hampir 20 ribu ASN dan non ASN se-Bali. Absensi ini direspon positif karena mendata tidak hanya kehadiran kinerja, tapi juga bisa memantau keberadaan pegawai.

Pihaknya tak menampik, memang diawal banyak keluhan. Karena pengguna banyak lupa password. Namun semakin ke belakang, banyak yang merasakan efisiensinya. “Termasuk juga surat elektronik hingga tanda tangan elektronik yang telah berhasil kami kembangkan,” bebernya.

Puspa Udiyana menambahkan, ke depan untuk mewujudkan digitalisasi di seluruh Bali, Diskominfos akan memanfaatkan teknologi sistem antri di layanan-layanan kesehatan, rumah-rumah sakit, serta masih banyak lagi lainnya. “Layanan ini akan memudahkan masyarakat, khususnya melakukan registrasi untuk menghindari antrian. Ini akan lebih efisien,” jelasnya. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.