Wow! Usia Produktif Dominasi Penderita HIV/AIDS di Buleleng

  • Whatsapp
WAKIL Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra. Foto: rik
WAKIL Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra. Foto: rik

BULELENG – Angka penularan HIV/AIDS di Buleleng selama setahun terakhir ini melandai. Bahkan dari data diperoleh hingga Oktober 2020, hanya ada di bawah 200 kasus penularan HIV/AIDS.

Angka itu banyak kasus yang tertular di luar wilayah Buleleng, tapi karena memiliki KTP Buleleng, sehingga data mereka masuk Buleleng.

Bacaan Lainnya

Wakil Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, mengatakan, sejauh ini pihaknya sudah menekankan untuk bisa menerapkan jargon Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (STOP) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Dan upaya ini, kata Sutjidra, berhasil menekan angka penularan virus HIV/AIDS.

“Tidak ada lonjakan serius, kami bisa menekan kasusnya. Dalam satu tahun terakhir, hingga bulan Oktober 2020 angka penyebaran hanya dibawah 200. Itu banyak kasus tertular di luar Buleleng. Tapi karena KTP-nya dari Buleleng, kami masukkan di daerah Buleleng,” kata Sutjidra, Selasa (1/12/2020).

Penyuluhan harus tetap dilakukan untuk memberikan pengertian kepada masyarakat bahwa orang dengan HIV/AIDS (ODHA) jangan dijauhi. Pasalnya, kata Sutjidra, penularannya diketahui berasal dari hubungan seksual yang tidak sehat, melalui cairan lender, dan juga jarum suntik.”Sosialisasi terus kami lakukan. Kami harus memberikan pengertian bahwa tidak boleh takut dengan penderitanya, tapi takutlah dengan penyakitnya. Karena HIV/AIDS ini bisa dicegah dan dikendalikan,” ujar Sutjidra.

Baca juga :  TPS 3R Minim, Sampah Diminta Kelola Jadi Eco Enzyme

Khusus untuk ibu hamil, Sutjidra menjelaskan,akan dilakukan tindakan awal oleh petugas kesehatan ketika melakukan pemeriksaan kondisi kehamilan. Akan dilakukan tes Voluntary Counseling and Testing (CVT). Tes CVT adalah tes yang dilakukan untuk dapat mengetahui status HIV.

Jika hasil tes CVT-nya dinyatakan reaktif, maka dilakukan perlakuan khusus sebagai bentuk langkah lanjutan. “Tidak boleh melahirkan normal, dan tidak boleh menyusui, sehingga tidak terjadi penularan kepada bayinya. Screening dengan tes CVT ini wajib, dan difasilitasi oleh pemerintah. Kami sudah lakukan hal ini sejak tiga tahun lalu,” jelas Sutjidra.

Khusus di Buleleng, diakui Sutjidra, kebanyakan yang tertular HIV/AIDS ini dari kalangan wiraswasta pada usia produktif, dengan kisaran umur 20 tahun sampai dengan 45 tahun. Upaya penekanan terus dilakukan sehingga target di bawah dua digit angka penularan dapat tercapai per bulannya.

“Hambatan disini, keterbukaan dari mereka. Banyak yang tidak ingin diekspos, tidak mengaku. Mereka malah menularkan ke orang lain, itu yang menjadi masalah. Hingga kini relawan-relawan kami masih tetap mengawasi di lapangan,” pungkas Sutjidra. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.