Waspadai Virus Nipah, Komisi II Desak Karantina Hewan Diperketat

  • Whatsapp
IGK Kresna Budi. Foto: hen
IGK Kresna Budi. Foto: hen

DENPASAR – Virus Nipah yang menyerang hewan babi belakangan dikhawatirkan menjadi momok baru untuk Indonesia, dan Bali khususnya. Sebab, di Bali banyak terdapat peternakan babi dan warga yang mengonsumsi daging babi. Sebagai langkah antisipatif, DPRD Bali mendesak agar memperketat karantina hewan di Bali. “Lebih baik mencegah daripada mengobati, dan salah satu cara terbaik itu adalah memperketat karantina hewan, terutama babi, masuk ke Bali,” kata Ketua Komisi II DPRD Bali, IGK Kresna Budi, belum lama berselang.

Menurutnya, serangan African Swine Fever (ASF) pada tahun 2020 lalu banyak merugikan peternak babi di Bali. Karena Bali sudah “kecolongan” dengan ASF, jangan sampai dibobol lagi dengan adanya virus Nipah. Dia minta Dinas Peternakan Provinsi Bali serius mencermati perkembangan virus Nipah, dan menyiapkan langkah antisipasi jika kemudian ahri ditemukan masuk Bali. “Minimal ada anggaran dari Dinas Peternakan untuk mengatasi, semoga saja tidak ada masuk Bali,” sambung politisi Golkar tersebut.

Bacaan Lainnya

Anggaran itu, sambungnya, dapat digunakan untuk hibah kepada peternak babi dalam bentuk bibit babi dan pakannya. Dinas juga diingatkan selalu berkoordinasi dengan asosiasi peternak babi, agar asosiasi membantu sosialisasi ancaman virus Nipah. Di sisi lain, peternak juga diingatkan menjaga sanitasi kandangnya agar kondisi kesehatan ternak mereka tetap terjamin.

Baca juga :  WNA Positif COVID-19 Meninggal di RSUP Sanglah

Pandangan berbeda diutarakan Ria Laksana selaku Sekretaris Perkumpulan Peternak Hewan Monogastrik Indonesia. Kata dia, isu virus Nipah itu sudah dipolitisir, karena saat ini harga babi sedang tinggi-tingginya. Dia menyesalkan mengapa isu ini bisa muncul ketika peternak sedang percaya diri dan bangkit dari trauma ASF tahun lalu. Padahal saat ini sedikitnya 40 persen peternak sudah menggeliat bangun.

“Saya mengajukan keberatan ke media. Ini virusnya ada di luar negeri, belum ada masuk ke Bali. Kenapa kok diembuskan begini? Kecuali kalau virusnya sudah ada (masuk Bali),” sesalnya.

Tanpa edukasi yang jelas tentang bagaimana sesungguhnya virus Nipah itu, ulasnya, situasi ini dapat dimanfaatkan pelaku bisnis jagal babi untuk dipakai alasan menurunkan harga babi. Dia merasa peternak seolah ditakut-takuti dan “dipaksa” menjual babi supaya tidak keduluan kena virus. Apalagi sekarang dekat Imlek, dan permintaan daging babi sedang baik.

“Setahu saya virusnya itu terjadi 20 tahun lalu, wajar kami curiga ada motif politis lain di balik itu. Persentasenya mematikan (babi) juga kecil. Bisa babak-belur kami kalau isu-isu saja tapi tidak ada beritanya (masuk Bali),” tambahnya dengan nada tinggi.

Karena masih sebatas kewaspadaan, Ria kembali minta agar jangan mempolitisir isu virus Nipah tersebut. Dalam kondisi lesu ekonomi akibat Covid-19 ini, dia berujar sektor pertanian dan peternakan masih bisa bertahan. “ASF oke ada tahun itu, tapi Nipah ini masih jauh. Jangan dipolitisir untuk kepentingan beberapa orang, bisa mati kita,” urainya menandaskan.

Baca juga :  Maung Bandung Terkam Elang Jawa, Robert Sebut Laga Melelahkan

Soeharsono, mantan penyidik penyakit hewan, dalam artikelnya di Harian Kompas (4/2) menulis antara September 1998 dan Mei 1999 ditemukan 265 orang tertular virus Nipah di Malaysia. 105 di antaranya meninggal dunia, dan tingkat kematian 39,6 persen dengan gejala radang otak akut. Selain Malaysia, virus ditemukan di Bangladesh pada tahun 1998, 2001 dan 2018. Diduga manusia tertular karena mengonsumsi daging babi yang terinfeksi virus yang diduga disebarkan kelelawar famili Pteropodidae. Bila virus menulari babi, akan terjadi wabah, kemudian menulari pekerja kandang seperti terjadi di Malaysia. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.