Waspada Flu Burung! Peternak Ayam di Bangli Diminta Konsisten Menerapkan Biosecurity

PETERNAK ayam petelur di Banjar Juukbali, Desa Susut. Mewaspadai potensi munculnya penyakit yang menyerang unggas seperti flu burung, peternak ayam diminta konsisten menerapkan biosecurity secara ketat. Foto: ist
PETERNAK ayam petelur di Banjar Juukbali, Desa Susut. Mewaspadai potensi munculnya penyakit yang menyerang unggas seperti flu burung, peternak ayam diminta konsisten menerapkan biosecurity secara ketat. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, BANGLI – Peternak ayam di Bangli diharap selalu mewaspadai potensi munculnya penyakit yang menyerang unggas seperti flu burung. Salah satu caranya dengan konsisten menerapkan biosecurity secara ketat.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Bangli, I Wayan Sarma, Minggu (10/9/2023) mengatakan, selama ini sebagian besar peternak ayam di Bangli menerapkan biosecurity dan sanitasi kandang dengan baik. Hal itu perlu diterapkan konsisten untuk mencegah penyebaran penyakit yang menyerang unggas, misalnya flu burung.

Read More

Dia menuturkan, kasus flu burung pernah merebak di Bali beberapa tahun lalu. Kondisi tersebut sampai membuat banyak peternak gulung tikar, dan dia berharap kasus flu burung tidak lagi muncul di Bali. “Untuk mencegah itu itu harus selalu waspada dan konsisten menerapkan biosecurity, pun memperhatikan sanitasi kandang ayam,” pesannya.

Untuk mengantisipasi ayam terkena penyakit, dia menyarankan rutin melakukan penyemprotan. “Memang sampai saat ini belum ada ayam peliharaan terkena penyakit. Untuk mencegahnya agar rutin melakukan penyemprotan hingga dua kali sehari,” sarannya.

Bila ada peternak ayam yang menemukan gejala klinis flu burung seperti mati mendadak dalam jumlah besar, dia minta agar segera melaporkan ke Dinas PKP. Selain itu, ayam yang mati agar dikubur atau dibakar, jangan malah dikonsumsi.

“Jumlah peternak ayam di Bali cukup banyak, populasi ayam petelur di Bali mencapai 1.236.500 ekor dengan produksi telur mencapai 17.109 ton. Bangli berkontribusi 50 persen terhadap produksi telur di Bali,“ pungkasnya. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.