Tri Pusat Pendidikan Jadi Filter Kenakalan Remaja

KADISDIKPORA Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, mengumpulkan secara khusus seluruh kepala SMP ngeri dan swasta setelah viralnya aktivitas geng Bajing Kids, Senin (24/7/2023) di SMPN 2 Denpasar. Foto: ist
KADISDIKPORA Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, mengumpulkan secara khusus seluruh kepala SMP ngeri dan swasta setelah viralnya aktivitas geng Bajing Kids, Senin (24/7/2023) di SMPN 2 Denpasar. Foto: ist

POSMERDEKA. COM, DENPASAR – Guru merupakan salah satu pilar pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Disamping itu peran orangtua juga sangat mempengaruhi dalam memberikan pendidikan di rumah.

Untuk menanggulangi kenakalan remaja saat ini dibutuhkan pendidikan bersama, tri pusat pendidikan yaitu sekolah, masyarakat, dan keluarga, jadi filter kenakalan remaja.

Read More

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar, AA Gede Wiratama, saat mengumpulkan secara khusus seluruh kepala SMP negeri dan swasta se-Kota Denpasar, Senin (24/7/2023) di SMPN 2 Denpasar, setelah viralnya aktivitas geng Bajing Kids. Agenda ini digelar untuk meningkatkan koordinasi dalam menghadapi isu serta tantangan ke depan meningkatkan mutu pendidikan dan mengantisipasi kenakalan remaja di Kota Denpasar.

“Pertemuan ini memang sengaja kita lakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya lagi kasus kenakalan remaja. Dan hal ini akan kita evaluasi terus. Untuk itu kami mohon media juga dapat menginformasikan hal baik ini, imbauan untuk anak usia sekolah supaya menghindari kegiatan yang dapat melawan hukum,” katanya.

Memasuki tahun ajaran 2023/2024 ini, menurut Agung Wiratama, merupakan sebuah momentum untuk merenung kembali serta mulat sarira atas apa yang sudah dan belum kita lakukan. Hal ini untuk selanjutnya menjadi pijakan pada langkah berikutnya.

Untuk itu Agung Wiratama mengimbau semua pihak untuk melakukan langkah-langkah antisipasi agar generasi muda tetap menjadi generasi emas di kemudian hari. Menurutnya kegiatan yang dilakukan tersebut merupakan langkah awal untuk saling berkoordinasi, mengisi dan memperkuat agar ke depan terdapat sebuah sistem untuk mengantisipasi terjadinya kenakalan remaja tersebut.

“Formula atau sistem yang pas saya harapkan dapat terbentuk untuk mengelola anak-anak kita ini tanpa harus melanggar aturan-aturan yang sudah ada,” lanjutnya.

Disampaikan Agung Wiratama, spirit atau semangat yang dimiliki generasi muda sangat luar biasa. Untuk itu spirit tersebut harus dapat disalurkan kepada hal-hal positif. Jangan sampai justru spirit yang besar ini tidak menjadi arti bahkan cenderung menjerumuskan.

Ia juga berharap ada perhatian lebih orangtua terhadap anaknya saat di luar jam sekolah. Peran serta orangtua, sambung Wiratama, sangat diperlukan dalam ikut mengawasi perkembangan anak. Pengawasan tidak hanya dari satu sisi, namun peran serta orangtua dan pengaruh lingkungan juga perlu diperhatikan.

Mengingat dari 24 jam dalam sehari, siswa di sekolah hanya 7 jam, sisanya lagi 17 jam ada di lingkungan luar sekolah. Jadi ia menekankan, pentingnya para kepala sekolah untuk berkoordinasi dengan orangtua siswa.

Di mana, kepala sekolah harus bisa memastikan jika siswa benar-benar sudah berada di rumah, saat kegiatan pembelajaran di sekolah selesai. “Kita juga berpesan kepada anak-anak untuk mengetahui mana yang baik atau buruk. Sehingga profil pelajar Pancasila benar-benar diterapkan dalam keseharian,” harapnya.

Di sisi lain, Wiratama juga meminta guru Bimbingan Konseling (BK) harus menjadi pencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan pada diri siswa, di antaranya masalah kenakalan remaja. “Jadi, guru BK bukan hanya menangani anak-anak yang bermasalah, tapi juga pencegahan pada anak-anak yang tidak memiliki masalah,” katanya.

Ia juga mengingatkan guru BK agar bisa menjadi sahabat bagi para siswa, sehingga keberadaan guru BK tidak ditakuti oleh siswa. Dengan demikian, siswa berani menceritakan hal-hal yang mengganjal dengan tujuan dapat mencegah masalah psikis remaja, seperti depresi akibat hubungan sesama teman, kekerasan seksual di sekolah, dan kenakalan remaja lainnya. “Ciptakanlah suasana hubungan yang humanis antara guru BK dengan siswa,” katanya.

Tidak hanya dengan siswa, katanya, guru BK juga harus menjadi sahabat bagi guru-guru lain, sehingga tercipta suasana pembelajaran yang berkualitas di sekolah. “Guru BK bisa memberi masukan kepada guru-guru lain terkait karakter siswa atau kelas, sehingga bisa digunakan untuk metode pembelajaran yang berkualitas bagus,” pungkasnya. tra

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.