POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Pratisara Bumi Foundation (PBF), Fab Lab Bali, dan Culture Art Science Technology (CAST Foundation) melaksanakan program Traditional Technology Innovators Residence & Hackathon yang bermitra dengan Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dan Women’s Earth Alliance. Ajang Tradisi Temu Teknologi pada Minggu (18/5/2025) bertempat di Serangan menjadi acara puncak dari program yang sudah bergulir sejak Desember 2024 itu.
Program Traditional Technology Innovators Residence & Hackathon dimulai dari semangat mengajak generasi muda Indonesia usia 17-35 tahun untuk kembali mengembangkan pengetahuan lokal yang aplikatif di tempat asalnya melalui inovasi teknologi tradisional. Pada praktiknya, teknologi tradisional secara turun temurun bisa memenuhi empat dasar filosofi kebutuhan hidup dasar yaitu sandang (fashion), pangan (food), papan (shelter), sadar (wellness).
Setelah mengikuti seleksi cerita, tahapan berikutnya yaitu pemilihan 10 inovator dari 10 kabupaten berbeda yang lolos ke tahap Hackathon. Tahapan ini lebih intensif karena mempertemukan proses inovasi secara langsung. Seluruh inovator mengembangkan idenya menjadi prototipe low-fi, terhitung sejak 9 hingga 17 Mei 2025 bersama tim Fab Lab Bali dan para mahasiswa di Fakultas Teknik Elektro, Politeknik Negeri Bali.
Puncak dari program ini adalah acara “Tradisi Temu Teknologi: Pameran Inovasi Teknologi Tradisional”, dengan mengajak khalayak luas untuk ikut menyaksikan cerita dan inovasi teknologi tradisional secara langsung di Kelurahan Serangan, Kota Denpasar. Tradisi Temu Teknologidilaksanakan di Wantilan Desa Adat Serangan. Lokasi ini dipilih bukan hanya karena berada di dalam desa adat yang kental, namun juga karena ada benih-benih lahirnya teknologi modern yang akan dikembangkan oleh Fab Lab Bali, dengan mendirikan Kios Utak-Atik di Serangan.
Adapun 10 inovator terpilih program Indigenous Technology Innovators Residence & Hackathon. Abdul Muiz, inovasi teknologi tradisional: Salamun Tujuh Living Heritage, Mempawah, Kalimantan Barat. Akhmad Rizaldi, inovasi teknologi tradisional: Pemecah Cangkang Buah Tengkawang, Sanggau, Kalimantan Tengah. Deviani Gustia Reski, inovasi teknologi tradisional: Pengeringan Eungkot Kayee, Banda Aceh, Aceh.
Inovator berikutnya, Neno Anderias Salukh, inovasi teknologi tradisional: Ume Kbub Leko, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Ni Komang Ayu Trisna Dewi, inovasi teknologi tradisional: Bagu Chakra, Karangasem, Bali. Putri Handayani, inovasi teknologi tradisional: Eduwisata SITTPLBG, Banyuwangi, Jawa Timur. Rani Dwi Andriani, inovasi teknologi tradisional: Pengeringan Ragi Tempe Tradisional, Ponorogo, Jawa Timur.
Kemudian, Sintia, inovasi teknologi tradisional: Palet Warna Kain Jumputan Gambo, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Saiyidal Muhammad Nor, inovasi teknologi tradisional: Perangkap Ikan Tradisional ‘Pengilar’, Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah. Viedela Aricahyani Kodirin, inovasi teknologi tradisional: Sepeda Pemarut Singkong, Banjarnegara, Jawa Tengah.
Saniy Amalia Priscilla selaku Co-Founder Pratisara Bumi Foundation, menyampaikan, program ini berawal dari keprihatinan atas ketidakseimbangannya ekosistem bumi. Padahal, masyarakat Indonesia secara turun temurun memiliki warisan pengetahuan lokal dan teknologi tradisional yang selaras dengan alam. Pihaknya ingin membangkitkan kembali minat generasi muda terhadap pengetahuan, alat, metode ini agar tetap lestari.
“Dengan mengumpulkan dan mengembangkan cerita teknologi tradisional dari berbagai daerah, dan menginovasikan teknologi tradisional, kami ingin menunjukkan bahwa teknologi dapat menghubungkan komunitas, bekerja dalam batasan alam dan minim jejak emisi. Kami percaya ini adalah kunci untuk menjawab tantangan krisis iklim dan pelestarian kearifan lokal,” tutur Saniy.
Wan Zaleha Radzi, Co-Founder CAST Foundation menambahkan, teknologi tradisional sangat erat dengan wawasan keilmuan yang menjadi perhatian utama yayasan ini, yaitu culture, arts, science, and technology. Selain itu teknologi tradisional warisan masyarakat adat pada umumnya adalah teknologi yang selaras dengan alam sekitarnya.
“Ini adalah salah satu sebab mengapa program ini menjadi penting karena kami di CAST Foundation selalu aktif mendorong lahirnya inovasi teknologi ramah lingkungan yang memberikan dampak bagi peningkatan keselarasan alam dengan kesejahteraan hidup manusia di dalamnya,” ujarnya.
Bagi CAST Foundation, teknologi tradisional bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan benih masa depan—lahir dari kearifan lokal yang hidup dalam harmoni dengan alam. “Program ini penting bagi kami karena mempertemukan pengetahuan leluhur dengan teknologi masa kini untuk melahirkan inovasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga selaras dengan bumi, bukan malah merusak dan menguasainya. Sebab dalam banyak budaya kita, manusia bukanlah pemilik alam, tapi bagian darinya,” jelas Wan Zaleha.
Taffia Sabila, Lab Expert, Design Research-Biomaterials, Fab Lab Bali, sebagai salah satu mentor utama di program ini mengatakan, rogram residensi dan hackathon ini dirancang dengan pendekatan bertahap untuk mendampingi para inovator dalam mengembangkan ide inovasi berbasis pengetahuan ekologi tradisional (Traditional Ecological Knowledge/TEK). Program diawali dengan pelatihan untuk para local enabler (penggerak lokal) sebagai pendamping bagi para inovator selama proses residensi berlangsung di desa masing-masing.
Selama program residensi, para inovator dibekali dengan materi pembelajaran yang terstruktur, mulai dari metode riset lapangan berbasis etnografi, pemetaan tantangan lokal, hingga analisis dan sintesis data untuk merumuskan peluang inovasi. “Pendekatan meaningful design digunakan untuk memastikan bahwa solusi yang dikembangkan tetap berakar pada konteks budaya dan ekologis setempat,” tuturnya.
Selanjutnya di tahap hackathon, para inovator dibimbing dalam proses pembuatan purwarupa (prototyping), mulai dari pengembangan low-fidelity prototype hingga high-fidelity prototype menggunakan teknologi fabrikasi digital. Materi yang diberikan juga mencakup dasar-dasar desain produk, teknik kolaboratif, serta strategi presentasi untuk menyampaikan ide inovasi secara efektif,” tambah Tafia. rap























