DENPASAR – Pembangunan pelabuhan segi tiga Sanur, Sampalan dan Bias Munjul adalah hadiah Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) kepada masyarakat Bali atas keberhasilan meraih suara 91,68 persen dalam Pilpres 17 April 2019 lalu. Di mana saat itu hasil hitung cepat mencapai 92 persen.
Hal tersebut diungkapkan Gubernur Bali, Wayan Koster, di hadapan Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi; Dirjen Perhubungan Laut Agus Purnomo; Wakil Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara; dan Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, dalam acara peletakan batu pertama Pembangunan Pelabuhan Sanur – Denpasar, Sampalan dan Pelabuhan Bias Munjul, yang barlangsung di Pantai Matahari Terbit, Sanur, Sabtu (12/12/2020).
“Tanggal 18 April 2019, sekitar pukul 22.00 Wita. Saya sedang menghitung suara Pilpres di semua kecamatan di Bali. Waktu itu, saya telpon satu-satu untuk merekap suara Pilpres. Pas lagi kerja, Bapak Presiden Jokowi telpon. Beliau menyampaikan kepada saya, pak gubernur saya menelpon gubernur yang pertama adalah Pak Koster. Karena quick count sudah selesai, dan dapat suara 92 persen, waktu itu. Beliau menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Bali,” tutur Koster.
Lanjut Koster, ia pun diundang ke Istana Negara Jakarta pada tanggal 22 April 2019 dengan mengajak Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta. Waktu itu, kata dia, Jokowi didampingi Menteri PU, Menteri Dalam Negeri, Sekretaris Negara, Menteri Sekretaris Kabinet, Menteri Keuangan dan Menteri ATR. “Waktu itu Menteri Perhubungan tidak ada. Dalam arahannya waktu itu, bapak Presiden menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Bali dan ada point bagus yang disampaikan bapak Presiden. Bapak gubernur, apa yang saya harus bantu untuk Bali. Begitu respon beliau,” beber Koster.
Dirinya yang sudah membawa daftar pembangunan infrastruktur darat, laut, udara secara terkoneksi dan teringtegrasi sebagai pelaksanaan dalam Visi Pembangunan Daerah Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali, melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. “Yang saya sampaikan, pertama adalah Pusat Kebudayaan Bali di Kabupaten Klungkung, shortcut Singaraja-Denpasar, kemudian pelabuhan segi tiga, Sanur, Nusa Penida dan Nusa Lembongan,” ujarnya.
Saat dirinya menyampaikan pembangunan Pusat Kebudayaan Bali, Jokowi langsung memerintahkan memprogramkannya. Begitu dirinya menyampaikan pembangunan pelabuhan segi tiga Sanur, Sampalan, dan Nusa Ceningan, lanjut dia, Jokowi langsung bangun dari duduknya untuk meminta ajudannya menelpon Menteri Perhubungan.
“Bapak presiden menelpon pak Menteri, kira-kira kaitannya pembangunan pelabuhan ini. Astungkara bapak Menteri oke. Dan kemudian, saya kawal terus pembangunan ini dan koordinasi dengan bapak Menteri Perhubungan yang sudah berkunjung ke lokasi di sini, kemudian juga Tanah Ampo, dan bahkan sudah berkunjung ke Nusa Penida. Astungkara program ini terwujud di tahun 2020 untuk tiga pelabuhan yaitu pelabuhan Sanur, Sampalan, Bias Munjul di Ceningan dengan anggaran penuh dari APBN yang dianggarkan bapak Menteri Perhubungan,” tandasnya.
Sebelumnya, Koster juga menuturkan bahwa pembangunan pelabuhan ini karena keprihatinan dirinya terhadap kondisi penyeberangan dari Bali menuju Nusa Penida. Di mana sekitar tahun 2017 silam, dirinya yang akan menyeberang dengan speed boot untuk bersembahyang ke Ratu Gede Dalam Peed. Namun karena ombaknya besar, dan tidak ada fasilitas pelabuhan, para penumpang yang membawa sesajen pun terpaksa harus digendong naik ke speed boat agar tidak basah. Bahkan dirinya melihat seorang ibu-ibu membawa sesajen yang akan bersembahyang ke Pura Dalem Peed, juga harus digendong.
Menyikapi hal itu, dirinya pun menghubungi Wakil Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara, kemudian Ketua DPRD Kota Denpasar Ngurah Gede, dan juga Anggota DPRD Bali Agung Kompyang (alm) untuk meninjau langsung penyeberangan ini. Waktu itu, terbesit dalam benaknya jika nanti menjadi gubernur, dirinya akan membangun pelabuhan agar masyarakat mudah untuk menyebrang ke Nusa Penida.
“Dengan fasilitas pelabuhan ini, maka akan meningkatkan kualitas pelayanan trasportasi untuk tiga kepentingan yaitu, transportasi masyarakat Bali dari Sanur menuju Nusa Penida pada saat ada upacara piodalan di Pura Dalem Ratu Gede, transportasi aktivitas harian masyarakat Bali menuju Nusa Penida dan Nusa Ceningan, dan memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi wisatawan menuju Nusa Penida dan Nusa Ceningan,” tandasnya.
Sementara itu, Budi Karya Sumadi, mengungkapkan, bahwa pembangunan pelabuhan segi tiga ini diambil APBN dengan total sebesar Rp555 miliar, yang terdiri dari anggaran pembangunan Pelabuhan Sanur sebesar Rp376 miliar, untuk Pelabuhan Sampalan sebesar Rp82 miliar, dan Pelabuhan Bias Munjul sebesar Rp97 miliar. “Masyarakat Bali sangat beruntung karena memiliki gubernur yang luar biasa, begitu tangkas, begitu ramah, dan hamble sehingga bisa membawakan Bali sebagai suatu daerah yang memang harus dikembangkan,” ujarnya.
Budi Karya Sumadi menambahkan, pembangunan infrastruktur ini merupakan program sesuai arahan Presiden Jokowi untuk mendukung peningkatan kualitas layanan transportasi publik dan wisatawan yang berkunjung ke Bali, mengingat Bali merupakan tujuan wisata dunia yang harus dilengkapi dengan sarana prasarana yang memadai. “Dengan adanya pelabuhan ini, akan semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke Nusa Penida dan Nusa Ceningan sebagai destinasi wisata yang sangat diminati oleh masyarakat dunia,” ujarnya.
Secara desain, Budi Karya Sumadi yang juga seorang arsitek ini menjelaskan, Pelabuhan Sanur di desain dengan mengekspresikan kearifan lokal di pesisir Pantai Sanur, yakni Perahu Cadik dengan view menghadap ke Gunung Agung dan Pantai Sanur yang sangat indah.
Arsitektur Bali, Nyoman Popo Danes juga menambahkan bahwa dalam desain Pelabuhan Sanur terdapat juga ornamen Kepala Gajah Mina. “Setelah saya berkoordinasi dengan tokoh, seniman, dan budayawan dari Sanur, Kepala Gajah Mina dipercayai oleh masyarakat Sanur sebagai simbol yang memberikan keselamatan,” tutupnya. alt























