Ratusan anak panah yang dilepaskan Srikandi dan Arjuna saat palagan Bharatayuda menembus tubuh, tapi jiwa Bisma tetap belum meninggalkan raga. Bisma punya keistimewaan dapat memilih waktu kematiannya, dan dia memilih akan mengembuskan napas terakhir ketika melihat Hastinapura diperintah pemimpin baik. Keistimewaan itu merupakan berkah Dewata atas sumpah Bisma yang tidak akan menikah seumur hidup demi membuka jalan bagi ayahnya, Raja Santanu, agar dapat menikahi Satyawati.
ULANG tahun ke-75 Megawati Soekarnoputri, biasa disapa Mega, dirayakan para kader PDI Perjuangan (PDIP) di Bali pada Redite, 23 Januari 2022. Perayaan ulang tahun Mega sekaligus rangkaian HUT ke-49 PDIP itu berbentuk aksi peduli lingkungan dengan menanam 21 ribu bibit mangrove. Namun, dari acara ultah Mega itu, yang paling menyedot perhatian penulis justru munculnya foto Prananda Prabowo, putra Mega, di spanduk penanaman mangrove.
Ada tiga foto dipasang dalam spanduk, yakni Soekarno sebagai Presiden pertama sekaligus Bapak Bangsa dengan posisi paling tinggi. Kemudian Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum (Ketum) PDIP dengan posisi di bawah Soekarno, dan ketiga adalah Prananda. Ada yang memasang foto Prananda persis di bawah Mega, menampakkan pesan alih generasi dari kakek sampai cucu; ada juga menempatkan di seberang gambar Soekarno dan Mega, memberi impresi kesejajaran Prananda dengan ibu dan kakeknya. Pemosisian itu jadi unik mengingat jabatan Prananda “hanya” Ketua Bidang Ekonomi Kreatif DPP PDIP, dan karena itu menarik dibincangkan secara semiosis.
Menimbang usia Mega kini 75 tahun, niscaya internal maupun eksternal PDIP tergerak mengulik regenerasi takhta Ketum. Data Badan Pusat Statistik RI, rerata angka harapan hidup masyarakat Indonesia pada tahun 2019 adalah 73,3 tahun bagi wanita, dan 69,4 tahun bagi pria. Makin berumur seseorang, secara alami kemampuan fisik dan psikisnya juga menurun. Karena itu keterlaluan jika ada pihak yang terus mendorong Mega tetap bercokol di singgasana, dengan segala retorikanya. Mirip gaya Harmoko yang mengklaim Soeharto masih layak jadi Presiden meski berusia 76 tahun, dan Harmoko juga yang melantik tapi lalu minta Soeharto mundur sebagai Presiden tahun 1998.
Terlepas apakah foto Prananda itu atas petunjuk DPP atau sekadar kreativitas kader, terselip pesan simbolik di dalamnya. PDIP sebagai partai ideologis memang acapkali berkomunikasi dengan gaya high context memakai simbol-simbol tertentu. Dan, dengan memahami konteksnya, foto Prananda di spanduk itu dapat diinterpretasikan sedikitnya dalam tiga hal.
Pertama, Prananda kian kencang dikenalkan sebagai suksesor Mega. Dengan cara ini, Prananda dan kliknya dapat mengukur respons internal. Bahwa selama ini Prananda jarang muncul ke publik, justru itu memberi keuntungan untuknya. Sebab, makin sedikit hal diketahui tentang dia, makin sulit mencari titik lemah, apalagi menyerangnya. Berbeda dengan Puan Maharani, yang rekam jejak politiknya berikut kontroversinya berserakan di media.
Berstatus sama-sama anak kandung Mega, selama ini terlihat ada perbedaan perlakuan antara Prananda dan Puan. Prananda lebih sering muncul mendampingi Mega, antara lain saat Kongres V di Denpasar, Bali pada Agustus 2019. Prananda seakan mulai tampil sebagai penerus Mega dalam hal solidarity maker (pengikat solidaritas) di PDIP. Kelebihan solidarity maker adalah dia akan “abadi” sejauh tidak terjadi turbulensi ekstrem.
Satu parameter Prananda layak sebagai pengikat solidaritas itu adalah gemuruh tepuk tangan utusan Kongres V PDIP –yang terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara DPD serta DPC seluruh Indonesia– ketika dia masuk Agung Ballroom Hotel Bali Beach, Sanur dan namanya diumumkan. Yang jelas, suasana lebih heboh tinimbang saat nama Puan disebut pembawa acara.
Kemudian, Prananda sebagai Ketua DPP PDIP juga menandatangani surat undangan Rakernas PDIP IV tahun 2019. Rakernas merupakan pintu awal untuk menggelar Kongres V di Bali. Saat itu isu “lancangnya” Prananda menandatangani surat partai dimaknai sebagai sinyal akan segera terjadi alih generasi. Padahal saat itu, bahkan sampai sekarang, Mega masih still in control atas partainya, bukan berangsur menjadi subordinat sosok tertentu.
Kedua, secara simbolik PDIP seakan menutup ruang diskursus dan analisis soal siapa pengganti Mega, mengingat terdapat batasan afiliatif bagi kader. Penting diingat, Prananda sebelumnya sebagai Kepala Ruang Situasi PDIP, dengan tugas mengurus ideologi partai dan perkembangan politik Tanah Air. Menimbang strategisnya posisi itu, sulit dibantah peran Prananda dalam mempengaruhi, minimal ikut mewarnai, kebijakan dan ayunan langkah PDIP dengan memakai nama besar Ibu Ketum.
Terlebih Mega saat Kongres V sempat berucap “capek jadi Ketum”, suatu isyarat sadar diri bahwa dia juga dibatasi usia. Meski, ibarat Bisma, hanya Mega yang tahu dan berhak menentukan kapan waktunya dia mewariskan kursi Ketum PDIP.
Ketiga, terlihat skenario Mega menjalankan balance of power (keseimbangan kekuasaan) di internal partai. Di satu sisi dia mengerahkan kekuatan PDIP untuk mengantarkan Puan tetap berkuasa di pemerintahan, entah sebagai capres, cawapres atau tetap Ketua DPR RI. Ini berarti memberi Puan kesempatan mencari logistik, tapi konsekuensinya tidak memiliki kendali atas partai.
Di sudut lain, Prananda bertugas mengontrol partai. Sebab, cara menjamin partai tetap dalam kendali adalah memastikan pemimpin berikutnya ada kedekatan genealogis dengan pemimpin sebelumnya. Pendek kata, politik dinasti. Dalam sejarahnya, tidak ada partai yang tidak berkonflik meski konflik itu, menurut Lewis Coser, hanya bersifat nonrealistik. Partai Demokrat sukses menjalankan strategi itu dengan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai suksesor Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan skenario Puan di eksekutif atau legislatif dan Prananda sepenuhnya di partai, sejatinya yang berkuasa tetaplah Mega. Kelebihannya: (1) Mega tetap jadi ikon partai, (2) Mega lebih bebas memerankan king maker di pentas politik nasional, dan (3) PDIP terjamin tetap menjadi wahana menjalankan ajaran Tri Sakti Bung Karno. So, berbeda dengan Bisma yang takkan naik takhta, rasanya cuma masalah waktu saja Prananda sang Putra Mahkota ditabalkan di singgasana. Gus Hendra























