DENPASAR – Dari 24 nama bakal calon anggota DPD RI dari Dapil Bali yang mendapat akses Silon untuk input dukungan, terselip satu nama mantan wartawan yakni Gede Suardana. Akademisi salah satu universitas swasta di Bali itu turut menggairahkan pertarungan merebut satu dari empat kursi ke Senayan. Kesiapan mengarungi persaingan ke DPD RI diamplifikasi di akun media sosialnya. “Iya, benar (ikut mencalonkan diri),” katanya dihubungi, Minggu (25/12/2022).
Menurut Gede, sapaan karibnya, basis terbesar untuk dirinya ada di daerah Buleleng. Meski, dia juga mengklaim dukungan tersebar di semua kabupaten/kota seluruh Bali. Hanya, soal kapan akan menyerahkan syarat dukungan minimal, dia menyebut akan memilih detik-detik akhir. “Sambil kami memaksimalkan kerapian administrasi, sekalian mencari hari baik,” jawabnya.
Soal tagline “Kembalikan Baliku” yang diusung, dia menyebut konteksnya dalam semua bidang. Alasannya, Bali ternyata tak seindah yang dibayangkan. Disrupsi digital, disrupsi milenial, dan disrupsi membuka fakta bahwa Bali rapuh. Pun selama ini Bali salah kelola. Untuk menjawab tantangan di masa depan, urainya, maka kembalikan Bali kepada pemimpin muda yang relevan dengan tantangan masa kini dan masa depan.
“Misalnya kembalikan SMA Bali Mandara sebagai sekolah berasrama, karena terbukti mencerdaskan dan menyejahterakan anak-anak Bali. Kembalikan desa adat menjadi otonom, yang saat ini mulai kehilangan kemandirian dan otonomnya,” seru mantan Ketua KPU Buleleng ini.
Selain unsur “kemudaan” karena berusia di bawah 50 tahun, Gede mengaku yang ditawarkan ke publik dalam kontestasi kali pertama dia ikuti itu adalah tradisi politik baru di Bali. Yang dimaksud adalah politik ide dan gagasan, dan dia mengklaim masih banyak masyarakat Bali merindukan politik sehat. Masyarakat memiliki harapan untuk Bali jadi lebih baik, dan itu ada pada sosok pemimpin muda.
Didesak apakah dia sesungguhnya secara halus menuduh “sosok tua” di DPD RI saat ini kurang mampu menyuarakan Bali dalam perspektif menawarkan atau memperjuangkan harapan baru, Gede berkelit. Pertama-tama dia menyebut hormat dan mengapresiasi senior DPD sebelumnya, pula yang masih aktif. Namun, saat masa pandemi, DPD saat ini kurang energi untuk menyerap dan menyuarakan aspirasi publik.
“Maka butuh darah segar agar DPD Bali bisa optimal menyerap dan memperjuangkan aspirasi publik. Jadi, publik merasa masih memiliki harapan bahwa aspirasinya diperjuangkan,” lugas pemilik gelar doktor ini.
Visi soal mengembalikan SMA Bali Mandara dan otonomi desa adat, apa itu secara tidak langsung ditujukan sebagai antitesis kebijakan Gubernur Koster saat ini? “Sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah adalah bagian dari partisipasi publik dalam pembangunan, yang penting selalu terukur pada kebijakan publik yang menyimpang dan merugikan publik. Jika kebijakan publik baik akan didukung, misalnya saat saya mendukung kebijakan perpanjangan restrukturisasi kredit KUR yang diupayakan Gubernur,” kelitnya memungkasi. hen























