Tangani Sampah Plastik, Bupati Tamba Jajaki Kerja Sama dengan Investor

  • Whatsapp
BUPATI Tamba bersama Direktur PT Hasura, T. Lukito, saat meninjau TPA Peh, Jumat (9/4/2021). foto: ist

JEMBRANA – Persoalan sampah apabila tidak cepat ditangani akan menjadi bom waktu. Hal ini karena volume sampah di Jembrana terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk yang jumlahnya terus meningkat. Guna menyelesaikan persoalan tersebut, Pemkab Jembrana terus mencarikan solusi, salah satunya dengan menggandeng investor.

Hal tersebut terungkap saat Bupati Jembrana, I Nengah Tamba, menerima rombongan dari PT Hasura Tanggerang, perusahaan yang bergerak dalam industri sampah plastik, Jumat (9/4/2021).

Bacaan Lainnya

Bupati Tamba mengatakan, estimasi timbunan sampah rumah tangga dalam setiap harinya di Jembrana sebanyak 164 ton. Sementara yang masuk ke TPA yang berlokasi di Dusun Peh desa Kaliakah sebanyak 46 ton setiap harinya.

“Jika persoalan sampah ini tidak mendapatkan solusinya dipastikan persoalan sampah di kabupaten Jembrana tinggal menunggu bom waktu saja. Karena itu kita akan cepat carikan solusinya, termasuk dengan menggandeng pihak ketiga yang sudah kompeten dalam industri daur ulang sampah plastik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Tamba mengatakan, persoalan sampah saatnya menjadi perhatian bersama. Karena itu, Ia sengaja mengajak investor dari PT Hasura dari Tanggerang.

“Kami telah didatangi oleh para investor terkait persoalan ini (sampah), namun belum juga mendapatkan solusi yang tepat. Rekanan telah kenal sejak lama dan beliau memang mempunyai industri pengolahan sampah secara langsung. Dengan demikian, tentu kita harapkan persoalan sampah yang ada di Jembrana ini tentu kita harapkan mampu dicarikan solusinya,” jelasnya.

Baca juga :  Taat Protokol Kesehatan dan Belajar Daring, Komisi IV DPRD Denpasar Apresiasi Bali Island School

Sementara Direktur PT Hasura, T. Lukito, mengaku, kalau kehadirannya ke Kabupaten Jembrana dalam rangka untuk melihat kondisi lingkungan khususnya terkait masalah sampah yang ada di kabupaten Jembrana.

‘’Ini tentu menjadi konsen kita bersama. Saat ini kami datang ke Jembrana bukan prodak yang kami jual namun solusi yang kami tawarkan. Dengan demikian, kehadiran kami saat ini bersama rombongan kami ingin melihat kondisi riil dilapangan. Tentunya apa yang mesti kami lakukan termasuk solusinya bangaimana,” ujarnya.

Menurut Lukito, selain limbah rumah tangga khususnya yang berasal dari limbah sampah plastik juga tidak luput akan dicarikan solusinya adalah limbah pertanian yang berasal dari petani dan masyarakat kecil. ”Kita harapkan di Jembrana ada anak-anak muda dari kalangan siswa SMK dan universitas bisa belajar menjadi pengusaha industri,” harapnya.

Terkait dengan limbah pertanian, kata Lukito, yang berasal dari limbah kulit padi dan batang padi. “Ke depan bagaimana kita menjaga ekosistem menjadi satu kesatuan yang bermanfaat melalui perpaduan antara limbah plastik dan limbah pertanian dengan komposisi 60 persen limbah pertanian dan 40 persennya limbah plastik. Untuk jangka panjangnya tentu ini akan menjadikan ini sebagai projek percontohan. Bukan saja untuk Jembrana namun juga Nasional,” pungkasnya. man

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.