Tampil di PKB, Bungbung Kepyak Jembrana, Satu-satunya di Bali

SEKAA Bungbung Kepyak, Duta Seni Kabupaten Jembrana tampil di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Jumat (8/7/2022). Foto: ist

DENPASAR – Sekaa Bungbung Kepyak, Duta Seni Kabupaten Jembrana tampil menghibur di panggung Pesta Kesenian Bali (PKB), Jumat (8/7/2022). Barungan Bungbung Kepyak ini diklaim keberadaannya satu-satunya di Bali.

Rekasadana (Pergelaran) Sekaa Bungbung Kepyak Lila Budaya Dewasana, Banjar Adat Kertha Sentana Dewasana, Desa Adat Kertha Jaya Pendem, digelar di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Denpasar. Dalam penampilannya, Sekaa Bungbung Kepyak ini menyuguhkan sebuah tabuh petegak dan empat tari Jejogedan.

Read More

Diawali tabuh petegak berjudul Suryak Cegur, menggambarkan suasana alam yang kian jarang kita jumpai di era modern ini. Suryak yang artinya debur, Cegur merupakan sebuah nama air terjun yang terdapat di Dewasana. Riah riuh deburan air terjun itu menjadi inspirasi yang diimplementasikan pada komposisi gamelan Bungbung Kepyak.

Sajian berikutnya berturut-turut mempersembahkan tari Jejogedan, masing-masing diberi judul Kembang Dewasana, kemudian Tuak Manis, Bajang Girang, dan Nedeng Mekar. Tarian Jejogedan tradisional seperti dalam tari Tuak Manis, nampak tanpa tersentuh oleh modernisasi yang menjadikan ciri khas tersendiri, disajikan apik oleh para seniman muda itu.

Begitupula dalam tarian Bajang Girang mengimplementasikan sebuah gambaran seorang gadis dengan penuh rasa gembira ketika menginjak masa remaja. Tingkah laku serta emosionalnya yang dicirikan dengan sebuah tarian dengan gerak yang energik selaras dengan pola gerak Tari Jejogedan Bali Kauh Negaroa.

Tari Jejogedan Nedeng Mekar, menggambarkan sebuah bunga yang sedang mekar dengan kecantikan, keindahan serta keharumannya yang sangat menarik hati sehingga kadang kala serasa ingin memetiknya.

Selaku pembina sekaligus Bendesa Adat Kerta Jaya Desa Pendem, I Nengah Candra, membenarkan keberadan Bungbung Kepyak di Banjar Kerta Jaya Pendem sebagai satu-satunya model Bungbung Kepyak di Bali. “Kalau awal Jejogedan muncul di Yeh Kuning, Negara, sekitar tahun 1935, kemudian hijrah dari Yeh Kuning ke Desa Pendem tahun 1986, hingga sekarang masih kita lestarikan,” ungkapnya.

Ia menceritakan, dalam penampilan di ajang PKB tahun ini, memang sepenuhnya menyajikan pergelaran Joged Bungbung Kepyak yang tradisi. Simbol-simbol tradisinya bisa dilihat dari pemasangan obor, kemudian barungan bambu lengkap tanpa menggunakan gong, kendang dan cengceng.

“Kenapa obor? Karena dulu belum ada listrik, sekarang kita simbolkan saja. Begitupula kepyak yang artinya pegganti cengceng, dulu nggak ada cengceng, jadi bambu kepyak ini peggantinya,” jelasnya.

Antusias pemuda di Desa Pendem luar biasa. Semangat membangkitkan warisan Bungbung Kepyak ini berlanjut hingga kini. “Mereka sangat antusias melestarikan tradisi yang diwarisi. Spesial hari ini hanya ada dua penabuh yang cukup tua, sisanya kalangan milenial, berjumlah 35 orang,” tandas Nengah Candra.

Barungan Bungbung Kepyak, kata Jro Bendesa, biasanya ditampilkan saat upacara di Pura Tri Kahyangan Desa. Selain itu Jejogedan ini disajikan saat ada upacara yadnya. “Tidak jarang Jejogedan kami diupah tampil ke luar desa,” katanya. rap

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.