Sempat Isoter Karena Terpapar Covid-19, IRT Alami Depresi, Tak Punya Biaya Berobat, Kondisi Kian Parah

  • Whatsapp
NI Wayan Dewi Gita Segarti didampingi I Wayan Budiyasa dan ketiga anaknya saat ditemui di tempat kosnya. Foto: rap
NI Wayan Dewi Gita Segarti didampingi I Wayan Budiyasa dan ketiga anaknya saat ditemui di tempat kosnya. Foto: rap

DENPASAR – Di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini, masyarakat tidak saja berhadapan dengan ancaman terpapar virus Corona. Yang tidak kalah mengancam adalah peningkatan tekanan mental atau gangguan kejiwaan.

Seperti yang dialami Ni Wayan Dewi Gita Segarti, ibu rumah tangga (IRT) yang saat ini tinggal di sebuah kos-kosan di bilangan Jalan Akasia, Kota Denpasar. Perempuan tiga anak ini mengalami depresi. Sebelumnya sempat dinyatakan terpapar Covid-19. Menurut pengakuan suaminya, I Wayan Budiyasa, setelah menjalani isolasi terpusat (isoter) di Renon, kondisi kejiwaan istrinya semakin parah.

Bacaan Lainnya

Bertepatan pada hari Purnama Katiga, Minggu (22/8), Gerakan Purnama Punia Karma (PPK) berkesempatan mengunjungi tempat tinggal Wayan Dewi. Dalam kunjungan ini, relawan PPK membawakan mereka bantuan pangan berupa beras, mie instan, lauk (abon), dan biskuit, serta sedikit punia uang tunai.

Wayan Budiyasa menuturkan, awalnya Wayan Dewi mengalami badan panas, lalu diajak berobat ke sebuah puskesmas. Dari pemeriksaan di puskesmas, akhirnya istrinya dinyatakan terpapar Covid-19 sehingga dilanjutkan menjalani isolasi. “Oleh dokter di puskesmas sebenarnya disarankan isolasi di rumah, karena istri saya mengalami depresi. Tetapi karena desakan tetangga kos, akhirnya istri saya isolasi di Renon. Saya dan anak-anak saya juga ikut,” tuturnya.

Baca juga :  Peringati HKN, Dinas Kesehatan Denpasar Bagikan Masker

Lebih lanjut diceritakan, selepas 10 hari (tanggal 7 – 15 Agustus) menjalani isoter, Wayan Dewi diajak untuk pemeriksaan ke Rumah Sakit Sanglah. Kemudian, oleh dokter disuruh rujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli. Sayangnya, karena ketiadaan biaya, Wayan Budiyasa akhirnya mengajak istrinya pulang paksa dari rumah sakit. “Saya punya kartu BPJS, tetapi sudah setahun saya tak pernah bayar, jadi tak bisa digunakan. Biar bisa digunakan, saya harus melunasi 3,5 juta,” kisah Budiyasa.

Budiyasa sangat berharap mendapat bantuan pengobatan untuk istrinya. Sebab, kondisi Wayan Dewi kini semakin parah. Bahkan katanya perempuan ini sempat berupaya mencekik dan menggigit bibirnya sendiri hingga terluka. “Diajak komunikasi sudah susah, tidak mau makan, saya pasrah,” ujar pria asal Karangasem ini.

Wayan Budiyasa menuturkan, dia dan istrinya selama ini berjualan keripik keliling. Sejak Wayan Dewi terpapar Covid-19 awal Agustus lalu dan selanjutnya menjalani isolasi, dia pun tidak dapat berjualan. Terlebih setelah kondisi kejiwaan istrinya bertambah parah seperti saat ini. Budiyasa terpaksa diam di kos merawat istri dan ketiga anaknya.

Lebih jauh Budiyasa mengatakan, keterbatasan ekonomi tidak saja membuatnya kesulitan untuk mengupayakan pengobatan sang istri. Tetapi juga soal kelangsungan pendidikan bagi anak-anaknya yakni I Gede Deni Pranaya Saputra (11 tahun), Kadek Muliadi Santosa (10 tahun), dan I Komang Arjuna (7 tahun). Dari ketiga anaknya itu, kata Budiyasa, hanya si sulung yang masih bersekolah dan saat ini duduk di kelas 6 SD. Anak nomor 2 sudah putus sekolah. Sedangkan si bungsu sama sekali tidak pernah mengenyam bangku sekolah.

Baca juga :  Hingga Pertengahan Tahun, Disdukcapil Buleleng Terbitkan 431 Akta Perceraian

“Anak kedua terpaksa putus sekolah karena saya tidak mampu bayar SPP, sekolahnya di swasta. Anak pertama kebetulan dia sekolah di negeri, jadi masih bisa bertahan. Yang ketiga juga seharusnya sudah SD, tapi saya tak punya biaya. Anak-anak bantu saya jualan,” tuturnya.

Saat relawan PPK bertanya kepada anak keduanya, Kadek Muliadi, apakah mau kembali melanjutkan sekolah? Dengan penuh semangat anak ini menjawab, “Ya, saya mau sekolah lagi,” ucap anak yang mengaku keluar dari sekolah ketika duduk di kelas 3 SD.

Sementara itu, I Putu Gede Raka Prama Putra selaku penggagas Gerakan Purnama Punia Karma mengatakan, informasi tentang kondisi keluarga ini berawal dari postingan Wayan Budiyasa di Facebook yang menuliskan istrinya sedang sakit. “Tanpa sengaja kami melihat postingan itu, maka kami datangi. Kaget juga melihat kondisi ibu ini yang boleh dibilang cukup parah. Sudah tak bisa diajak bicara, saya lihat juga dia gemetar, dan sempat nangis,” ucapnya.

Dia pun berharap ada donatur maupun pihak pemerintah daerah khususnya Dinas Sosial Provinsi Bali dan Dinas Sosial Kabupaten Karangasem yang membantu memfasilitasi pengobatan Wayan Dewi. Selain itu, perlu dibantu pendidikan untuk ketiga anak tersebut. “Apalagi mendengar cerita dari keluarga ini, ternyata dua anaknya tidak bersekolah. Tentu ini harus jadi perhatian pihak terkait,”pungkas Raka Prama. rap

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.