Selaq Marong, Pepadu Peresean Lombok yang Melegenda

PERTARUNGAN atau gladiator di Pulau Lombok dikenal merupakan seni Peresean yang merupakan tradisi Suku Sasak. Foto: ist

MATARAM – Pulau Lombok memiliki tradisi seni Peresean yang kini jadi kesenian daerah, dan sering dipentaskan kepada wisatawan. Peresean merupakan pertarungan dua lelaki bersenjata rotan atau disebut penjalin, dengan menggunakan perisai sebagai tameng untuk berlindung dari pukulan rotan lawan.

Tameng disebut ende dan terbuat dari kulit kerbau yang keras. Para petarung disebut pepadu akan saling pukul menggunakan rotan, diawasi wasit yang disebut pakembar. Selama pertandingan akan dihiasi suara musik khas Lombok.

Read More

Dahulu, Peresean sebagai ekspresi kebahagiaan prajurit saat menang perang, juga melatih ketangkasan prajurit. Kemudian tradisi tersebut difungsikan sebagai upacara adat minta hujan. Kini, Peresean menjadi kesenian tradisional Sasak untuk menghibur wisatawan.

Saat ini, pepadu yang tersohor dengan kepiawaiannya dalam Peresean adalah Selaq Marong. Pria berkumis asal Semayong, Lombok Tengah bernama asli Suminggah ini sering menari ketika serangannya mengenai musuh.

Jauh sebelum itu, dikenal seorang legenda pepadu yang memiliki nama Selaq Marong, yang berasal dari Desa Marong, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah.

Selaq Marong merupakan pepadu yang sering berlaga pada tahun 1980-an. Perawakannya besar, dengan mata yang melotot dan merah saat berada di arena yang menggetarkan lawan tandingnya. Karena itu dia dijuluki penonton dengan nama Selaq Marong.

Tokoh masyarakat di Desa Marong, Amaq Buan, mengatakan Selaq Marong memiliki ilmu “megat-male” yang sangat mematikan saat memukul lawannya. Dia selalu menang di arena dengan membuat lawannya sakit, bahkan sampai meninggal.

“Sosok perawakan besar dengan mata yang melotot. Selaq Marong kalau Peresean matanya menjadi merah, itu tanda ilmu megat male sudah masuk,” tuturnya, Jumat (3/6/2022).

Selaq Marong memiliki nama asli Haji Sriatun, dia tutup usia pada 2020. Namun, ketangkasan saat menjadi “gladiator” di arena Peresean selalu dikenang orang. Meski sangat kuat di arena, Selaq Marong memiliki pantangan saat bertanding.

Dia tidak boleh bertarung siang hari. Entah apa alasannya, konon matanya yang besar dan melotot membuat dia kesulitan bertanding di siang hari. Makanya selalu tampil sore hari. Ilmu megat male, ucapnya, didapat melalui mimpi. Selaq Marong tidak pernah berguru atau mencari ilmu untuk mendapat kesaktian.

Cucu keluarga Selaq Marong, Dayat, menambahkan, kebiasaan Selaq Marong saat Peresean yaitu selalu memegang rotan bukan pada ujung atau pegangan rotan. “Selaq Marong sebenarnya tidak terlalu seni saat bertanding, tapi kalau serangan kena lawannya, bahaya,” lugasnya.

Dayat mengatakan pernah terjadi keributan saat Selaq Marong Peresean di Masbagik Lombok Timur. Saat itu dia menyerang lawannya hingga meninggal, dan memantik kericuhan di arena.

Selaq Marong juga pernah bertarung dengan Haji Rijal yang memiliki julukan Arya Kamandanu. Itu adalah pertarungan dua pepadu perkasa di Lombok, dan Selaq Marong berhasil menang.

Konon saat Kapolda NTB ingin menobatkan Arya Kamandanu sebagai pepadu terbaik, pihak Selaq Marong protes karena keduanya belum bertanding lagi. Akhirnya waktu pertandingan disepakati.

Namun, karena Arya Kamandanu pernah kalah, saat waktu pertandingan di arena Arya Kamandanu menolak untuk bertanding. Akhirnya Selaq Marong terpilih menjadi pepadu terbaik.

Di kesempatan terpisah, Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik M-16, Bambang Mei Finarwanto, menyebut sosok Selaq Marong menjadi legenda di masyarakat Lombok. Banyak masyarakat Lombok sangat familiar dengan nama Selaq Marong. “Jadi, kalau kita bertanya ke masyarakat, siapa Selaq Marong ya pasti dijawab pepadu Peresean. Namanya sudah familiar,” katanya.

Dia menjelaskan, pepadu Peresean saat berlaga tidak hanya untuk mencari hadiah uang, tapi juga simbol kehormatannya laki-laki Sasak, dan juga untuk merawat tradisi. “Mereka bertanding tidak hanya untuk mendapat bonus atau hadiah. Tapi sebagai bentuk kehormatan seorang pria Sasak, sekaligus untuk merawat tradisi,” katanya.

Lombok memiliki beragam destinasi wisata, dan juga memiliki banyak budaya dan tradisi. Hal tersebut menjadi atraksi pariwisata yang menjadi magnet menarik minat wisatawan berkunjung ke Lombok. “Makanya Peresean harus terus dilestarikan sebagai bagian dari atraksi pariwisata di Lombok,” tandasnya. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.