POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Pandemi Covid-19 menjadi masa yang sulit bagi banyak pelaku usaha di Bali. Ketika pintu-pintu hotel tertutup, toko-toko sepi, dan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian, sebuah usaha di Tegalalang justru menemukan cara bertahan dengan cara yang tidak biasa. Usaha itu bernama Sari Timbul Glass Factory, pabrik kerajinan kaca tiup yang menjelma menjadi destinasi wisata estetik nan inspiratif.
Terletak di kawasan sejuk Tegalalang, Sari Timbul Glass Factory awalnya dikenal sebagai tempat produksi kaca tiup yang memanfaatkan limbah kaca dan kayu, menjadi karya seni bernilai tinggi. Namun, di masa pandemi, pabrik ini bertransformasi menjadi spot wisata foto yang memukau dan kini ramai dikunjungi wisatawan.
I Gede Rediawan, sang pemilik, tidak pernah menyangka masa penuh keterbatasan justru akan membuka peluang besar bagi dirinya dan puluhan pekerjanya. “Waktu itu semua usaha tutup, tapi saya berpikir kalau kita berhenti, semua orang di sini akan kehilangan pekerjaan. Jadi saya cari cara supaya tetap bisa jalan,” tutur Rediawan, Minggu (23/11/2025).
Alih-alih melakukan pemutusan hubungan kerja seperti kebanyakan perusahaan lain, Rediawan justru menampung banyak pekerja yang terkena PHK. “Di saat pandemi Covid-19, kita di sini tidak ada PHK. Malahan kami menampung yang kena PHK, bahkan ada mantan manajer hotel ikut bekerja. Walau harus norok (berutang) untuk bayar gaji, yang penting mereka tetap bisa makan,” ungkapnya.
Gagasan besar itu bermula dari hal sederhana — sebatang akar pohon leci tua. Suatu hari, seorang warga yang kesulitan membuang akar pohon besar menyerahkannya ke Rediawan. “Awalnya saya hanya menampung, siapa tahu nanti bisa berguna. Setelah beberapa bulan, ternyata ada pembeli dari Kalimantan yang meminta dibuatkan patung Medusa dari akar itu,” ucapnya.
Dari pesanan itu, muncul inspirasi baru. Rediawan mulai aktif membeli akar pohon, yang kemudian dipahat menjadi karya seni bernilai tinggi. “Puji syukur, saat pandemi justru ada yang membeli hasil karya akar ini. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak sekalian dikembangkan dengan ciri khas budaya Bali,” tuturnya.
Dia pun mengajak masyarakat sekitar untuk ikut serta. Melihat banyak teman yang kehilangan pekerjaan, Rediawan membentuk kelompok kecil untuk mencari dan memahat akar pohon. Dari sanalah lahir berbagai karya seni monumental yang kini menghiasi kawasan Sari Timbul.
Kecintaan Rediawan terhadap alam mendorongnya untuk menata setiap sudut pabrik menjadi lebih dari sekadar galeri. Dia membangun spot foto tematik yang indah, dipenuhi karya pahatan kayu berukir barong, kolam ikan berkabut, serta pepohonan rindang yang menciptakan suasana seperti negeri dongeng.
“Karena saya memang suka konsep alam, jadi semua saya tata. Ada rumah pohon, barong, kolam ikan, embun, dan tanaman yang memperindah tempat ini. Dari situlah akhirnya lahir spot foto Sari Timbul seperti sekarang,” kisahnya.
“Pandemi mengajarkan saya satu hal, bahwa rezeki bisa datang dari mana saja asal kita mau berusaha dan berbagi. Saya hanya ingin teman-teman di sekitar sini tetap bisa hidup dan berkarya,” cetusnya menandaskan. adi
























