Sampah Kiriman Muncul di Pantai Barat-Timur Badung

  • Whatsapp
PEMBERSIHAN sampah kiriman yang dilakukan oleh DLHK Badung. Foto: ist
PEMBERSIHAN sampah kiriman yang dilakukan oleh DLHK Badung. Foto: ist

MANGUPURA – Sejak tiga hari belakangan, sampah kiriman mulai menepi di sepanjang pesisir pantai barat dan timur Badung. Bahkan khusus di pesisir timur, sampah kiriman telah menepi sejak pertengahan September 2020. Hal tersebut aneh, saat musim angin barat  sampah kiriman cenderung menepi di pantai barat.

Kabid Pengelolaan Kebersihan dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun DLHK Badung, AA Gede Agung Dalem, menerangkan, sejak tiga hari belakangan ini sampah kiriman mulai terlihat menepi di pantai barat Badung. Namun kondisinya belum terlalu intens dan belum merata sebarannya.

Bacaan Lainnya

Seperti contoh di Kuta dan Kedonganan ada beberapa sampah kayu dan sampah plastik mulai menepi, sedangkan di Pantai Kelan belum ada sampah kiriman. Kondisi tersebut justru berbeda dengan di pesisir timur, dimana sampah kiriman terus menepi sejak pertengahan September di Pantai Nusa Dua dan Tanjung Benoa. ‘’Memang tahun ini sampah kiriman menepi di pesisir pantai di Badung, baik di pantai barat dan pantai timur. Tapi volumenya belum terlalu banyak,’’ terangnya, Senin (7/12/2020).

Ia mengakui kondisi itu memang aneh dan mulai terjadi sejak dua tahun belakangan ini. Dimana musim hujan yang disertai angin barat biasanya terjadi dari bulan September sampai Maret, kini cenderung mundur dari perkiraan. ‘’Total dari tanggal 20 November sampai 7 Desember 2020, kami telah mengevakuasi 34 truk sampah kiriman dari 12 zona pantai di Badung. Untuk di zona barat dari Pantai Kedonganan sampai Pererenan, kami mengevakuasi 27 truk sampah kiriman. Sedangkan di pantai timur sebanyak 2 zona, kami mengevakuasi 7 truk sampah kiriman,’’ paparnya.

Baca juga :  Pramuka Kwada Bali Serahkan Bantuan Sembako di Klungkung

Atas kondisi tersebut, pihaknya mengaku belum bisa memperkirakan apakah kondisi sampah kiriman tersebut akan mundur masa puncaknya. Sebab saat ini kondisi musim hujan juga belum bisa diperkirakan kapan memasuki musim puncaknya. Dimana sampah kiriman tersebut sangat erat kaitannya dengan musim hujan tersebut. Namun untuk mengantisipasi puncak musim, pihaknya mengaku telah menyiagakan empat alat berat ditambah dua alat berat tambahan yang disewa.

Sedangkan armada angkut, pihaknya juga menyiagakan 20 armada truk dari DLHK ditambah 4 armada truk yang disewa. ‘’Untuk alat berat, kita baru menerjunkan 4 alat kita. Itu ditempatkan di wilayah Kuta dan Nusa Dua. Untuk armada truk, kita baru menerjunkan 4 kendaraan dari truk yang kita sewa untuk mengevakuasi saat ini. Sebab sebagian truk kita masih kita service dan sehingga truk kita saat ini masih dipergunakan untuk pengambilan sampah rutin. Ketika  intensitas meningkat, maka ini akan kita kerahkan semua,’’ jelasnya.

Saat ini proses evakuasi sampah kiriman yang dilakukan petugas URC DLHK, dibantu tenaga padat karya dari hibah pariwisata yang disalurkan DLHK. Dimana jumlah total tenaga padat karya tersebut mencapai 800 orang, dengan pembagian tugas pembersihan per zona wilayah.

Adapun zona yang dimaksud seperti di pantai, mangrove, objek wisata, mangrove, TPST, sampah liar dan sebagainya. Masing-masing tenaga di setiap zona berjumlah 20-30 orang. ‘’Tenaga URC yang kita siagakan sebanyak 12 orang untuk seluruh zona pantai. Tapi saat ini setiap zona pantai mendapatkan tenaga tambahan dari tenaga padat karya, masing-masing 20 orang. Jadi progran padat karya ini sangat membantu kami di lapangan,” ujarnya. gay

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.