Rusa Timor Berkembang Biak dengan Baik di TWA Gunung Tunak

SEJUMLAH pengunjung tengah memberikan makan di penangkaran Rusa Timor di TWA Gunung Tunak di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Loteng, Senin (6/6/2022). Foto: ist
SEJUMLAH pengunjung tengah memberikan makan di penangkaran Rusa Timor di TWA Gunung Tunak di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Loteng, Senin (6/6/2022). Foto: ist

MATARAM – Rusa Timor atau lebih dikenal rusa Timorensis, habitatnya kini terus bertambah. Hewan asli Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, itu memiliki keunikan tersendiri dan tidak ditemukan di daerah lainnya di Indonesia, yakni postur tubuh tinggi meski memiliki bulu yang sama. 

Rusa Timor kini ditangkarkan dan berkembang biak dengan baik di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tunak. TWA seluas 1.217 hektare yang terletak di Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) sangat memikat wisatawan.

Read More

Jumlah rusa berjumlah sebanyak 48 ekor. Dari jumlah itu, 10 ekor sudah dilepasliarkan ke alam. ‘’Sedangkan, sisanya sebanyak 38 ekor rusa berada di penangkaran,’’ ujar Kepala Humas BKSDA NTB, Ivan Juhandara di sela-sela menerima kunjungan pejabat Kemenparekraf dan Kemenko Marinves di TWA Gunung Tunak, Senin (6/6/2022).

Menurut Ivan, dengan masuknya kawasan Desa Mertak sebagai tujuh desa penyangga Kawasan Destinasi Super Prioritas Nasional (DSPN) Mandalika, tentunya TWA yang dikelola Balai Konservasi dan Sumber Daya (BKSDA) NTB yang terbentang di ujung selatan Pulau Lombok menjorok ke Samudra Hindia sebagai salah satu sisi terluar pulau, memiliki potensi daya sangga yang paling potensial terhadap DSPN Mandalika. Baik dari kelestarian alamnya sebagai salah satu cagar biosfer, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang sudah berjalan dengan sangat baik.

‘’Sejauh ini, TWA Gunung Tunak hingga beberapa kali mendapat penghargaan nasional di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,’’ kata Ivan. 

Menurut dia, dengan potensi sumber daya alam Gunung Tunak, yakni dengan lekuk lekuk pantai tersembunyi diapit tebing tebing batuan gamping purba dengan backdrop hutan tropis dataran rendah dengan keanekaragaman flora dan fauna endemis yang masih terjaga menjadikannya sebagai salah satu destinasi wisata eksklusif yang paling diminati di Pulau Lombok.  Apalagi, jaraknya hanya sekitar 20 menit dari DSPN Mandalika. Karena itu, Gunung Tunak merupakan salah satu alternatif wisatawan yang berkunjung dan menginap di Mandalika.

‘’Di bawah supervisi BKSDA NTB dan dukungan salah satu Non Government Organization (NGO) yang bergerak di bidang penyelamatan hutan kerja sama Indonesia Korea, Korea Indonesia Forest Cooperation Center (KIFC), Gunung Tunak dikelola langsung oleh masyarakat melalui kelompok ekowisata Tunak Besopok,’’ jelas Ivan. 

Ia mengatakan, kerja sama dengan masyarakat dimulai pada tahun 2014, yakni diawali pengembangan kapasitas masyarakat hingga dibangunnya sarana prasarana penunjang pada tahun 2016-2017. Apalagi, beberapa sarana prasarana yang diresmikan setahun kemudian, 6 Maret 2018, yang diserah kelolakan kepada masyarakat di antaranya gedung visitor center, gedung serbaguna, 10 unit pondok wisata, pusat penangkaran kupu kupu, camping ground dan jalur forest healing (jungle track). 

‘’Keberhasilan pengelolaan wisata berbasis masyarakat di Gunung Tunak telah mentrigger kawasan sekitar di desa mertak yang sebelumnya dikenal kurang aman kini menjelma menjadi sebuah destinasi wisata yang tidak kalah menarik dengan destinasi lain di Pulau Lombok. Terlebih, Tunak Cottage dan restoran yang mampu bertahan di bawah pengelolaan masyarakat ekowisata Tunak Besopok,’’ jelas Ivan. 

Terkait jumlah satwa di TWA Gunung Tunak, lanjut dia, terdapat jenis satwa yang sudah langka. Yakni, burung gosong yang serupa dengan burung maleo, dua jenis elang bondol, yakni laut dan brontok serta, koak-kaok lombok 5. ‘’Untuk jenis reptil ada biawak dan monyet ekor pendek,’’ ucap Ivan. 

Sementara itu, General Manager TWA Gunung Tunak, Rata Wijaya, mengatakan, jumlah wisatawan yang berkunjung ke TWA Gunung Tunak jumlahnya stabil, yakni sekitar 100-200 per minggu.  Terkait biaya masuk menuju TWA Gunung Tunak dibagi menjadi dua karcis masuk.

Ada harga hari biasa dan ada harga weekend. Untuk hari biasa harga karcis masuk Rp5.000 per wisatawan. Untuk weekend dikenakan tarif Rp7.500 per wisatawan.

Masuk dari pintu kawasan TWA Gunung Tunak wisatawan bisa menggunakan roda dua atau roda empat. Jika mengendarai sepeda motor disarankan tidak berkunjung saat musim hujan. Jalanan yang berlumpur akan menyulitkan wisatawan melewati kawasan TWA Gunung Tunak.

‘’Kalau pakai motor lebih baik pakai tracker. Itu memerlukan waktu 10 menit sampai tebing di depan Gili Penyu,’’ kata Rata.

Jika memarkir kendaraan di depan satu Vila Tunak Cottage di pintu masuk TWA Gunung Tunak pengunjung bisa berjalan melewati area TWA Gunung Tunak selama 30 menit. ‘’Kelebihan jalan kaki atau treking bisa melihat konservasi Rusa secara langsung,’’ kata Rata.

Selama berada di TWA Gunung Tunak, wisatawan diharapkan membawa bekal pribadi. Karena di TWA Gunung Tunak tidak menyediakan fasilitas seperti stand UMKM atau warung kopi untuk sekedar membeli makanan ringan. “Kita hanya sediakan resto di vila cottage saja. Di sana menunya lengkap tapi jauh dari lokasi spot wisata tebing dan Gili Penyu,’’ kata Rata.

Menurut Rata, akses menuju TWA Gunung Tunak tidaklah jauh dari KEK Mandalika. Jarak antara Sirkuit Mandalika dengan TWA Gunung Tunak hanya 8 kilometer. Selain menyediakan area penginapan, pengelola juga menyediakan area camping ground di TWA Gunung Tunak.

‘’Kita sudah siapkan air, listrik, segala macam di sana. Jarak dari Kuta ke area kemah hanya 15 menit. Cukup dekat,’’ katanya.

Selain bisa menikmati keindahan tebing TWA Gunung Tunak, pengunjung juga bisa menikmati sunrise dan sunset ketika berada di TWA Gunung Tunak. Selain itu, wisatawan bisa mengambil foto di spot-spot foto Instagramable. ‘’Kita hanya sarankan untuk tidak terlalu ke pinggir tebing karena curam. Kalau bisa take foto dari kejauhan saja,’’ ujar Rata menandaskan. rul

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.