POSMERDEKA.COM, GIANYAR – Teriknya matahari Sasih Kalima tak mengendorkan semangat krama adat Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar untuk menyusuri jalanan aspal sejauh 2 km menuju Pura Prajurit dan Pura Penyimpenan Ida Bhatara Masceti. Dengan berpakaian adat, ribuan warga adat Keramas diiringi gemuruh enam barung gong baleganjur dan Gong Beri berjalan mengikuti prosesi mendak nuwur Ida Bhatara.
Bendesa Adat Keramas, I Nyoman Puja Waisnawa, ditemui di sela-sela prosesi nuwur, Senin (31/10/2023) malam, mengatakan, nuwur Ida Bhatara di Sasih Kalima merupakan proses ritual warisan tetua masyarakat Desa Adat Keramas. Prosesi ini bertujuan mohon keselamatan dan kesejahteraan di tengah Sasih Kalima, yang menurut pandangan masyarakat Bali secara umum dianggap sebagai musim yang sakral. Hanya, seiring dinamika yang terjadi, dresta nuwur ini tidak berjalan hingga bertahun-tahun.
“Sejak dua tahun ini, prajuru Desa Adat Keramas melalui keputusan paruman desa, mengembalikan prosesi “nuwur” untuk dilakukan,” ujarnya.
Dalam prosesi nuwur, masyarakat adat mendak Ida Ratu Gede Dalem Prajurit dan Ida Ratu Gede Masceti, kemudian dilakukan prosesi ngaturang ayaban dan linggih di Catus Pata Desa Adat Keramas hingga malam. Prosesi nuwur ini dirangkaikan piodalan di pelinggih Catus Pata tersebut.
“Prosesi nuwur dilakukan dua kali ini merupakan rekonstruksi dresta yang dilakukan Prajuru Desa Adat Keramas,” imbuh Penyarikan Adat Keramas, I Gusti Agung Gde Dharmada.
Menurutnya, dresta merupakan bagian dari sumber hukum Hindu yang bersumber dari ajaran Weda. Dresta ini disepakati sebagai hukum yang mengatur kehidupan masyarakat yang harus ditata kembali atau rekonstruksi. Pula selaras dengan semangat penguatan desa adat, sebagaimana dimaksud dalam Perda Provinsi Bali Nomor 4/2019 tentang Desa Adat di Bali. Melestarikan adat, budaya, agama dan kearifan lokal masyarakat adat merupakan maksud dan tujuan rekonstruksi dresta, sehingga dapat terwujud kasukertan Tri Hita Karana.
Upacara nuwur Ida Ratu Gede Pura Dalem Prajurit dan Ida Ratu Gede Pura Masceti di Desa Adat Keramas merupakan salah satu upaya rekontruksi dresta, terdiri dari purwa dresta, loka dresta, sastra dresta, dan desa dresta, masyarakat adat Keramas-Medahan, terutama secara khusus Desa Adat Keramas. Upacara nuwur atau ngerauhang disebut mengaplikasikan ajaran agama Hindu berdasarkan konsep dresta, yang berlaku dari dahulu secara turun-temurun di Desa Adat Keramas.
Di masa lalu, berdasarkan penuturan para tetua Keramas, tradisi nuwur ini dilakukan kelompok orang di bebanjaran (setiap banjar) dan kelompok dadia. Terakhir, upacara nuwur dilakukan kelompok maupun banjar di Desa Adat Keramas pada tahun 1970-an. Oleh Desa Adat Keramas pernah dilakukan sekali tahun 1990-an, tapi setelah itu tidak pernah lagi.
Setelah lama tidak dilakukan, pada 8 November 2022, Purnama Kelima, bertepatan dengan piodalan di Catus Pata Desa Adat Keramas, direkontruksi dresta yang sempat terlupakan. Untuk kali kedua, tahun ini dilakukan Senin (30/10/2023) 2023, bertepatan manis piodalan di Catus Pata Desa Adat Keramas. adi






















