PTM Terbatas Harus Ada Izin Orang Tua Siswa

  • Whatsapp
VAKSINASI Covid-19 untuk anak-anak usia 12-17 tahun di SMPN 9 Denpasar. Foto: ist
VAKSINASI Covid-19 untuk anak-anak usia 12-17 tahun di SMPN 9 Denpasar. Foto: ist

DENPASAR – Bali termasuk Kota Denpasar masih diberlakukan perpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 sampai 13 September 2021.  Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kota Denpasar pun sudah menyiapkan skema pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas apabila PPKM di Denpasar turun level.

‘’Kami mengapresiasi Disdikpora Kota Denpasar telah menyiapkan skema PTM terbatas yang diawali dengan melaksanakan uji coba atau simulasi PTM terbatas untuk satuan pendidikan di Denpasar yang benar-benar siap, tentu jika PPKM di Denpasar telah turun level,’’ ujar Ketua Dewan Pendidikan Kota Denpasar, I Gusti Lanang Jelantik, Minggu (12/9/2021).

Bacaan Lainnya

Namun demikian, Lanang Jelantik mengingatkan, Pemkot Denpasar dalam hal ini Disdikpora Kota Denpasar tidak tergesa-gesa membuka PTM terbatas karena membutuhkan persiapan yang matang, mulai dari protokol kesehatan Covid-19 hingga capaian vaksinasi tingkat pelajar, tenaga pendidikan dan tenaga kependidikan. Dalam kondisi saat ini, semua pihak diharapkan ikut mengambil peran. Guru dan siswa diharap membantu pemkot memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Kami sarankan tidak tergesa-gesa melaksanakan PTM. Semua butuh persiapan matang, dan kami tidak mau PTM ini menyebabkan adanya klaster penyebaran Covid-19,” sarannya.

Baca juga :  PABSI Bali Bertamu ke KONI Badung, Siap Ikut Porprov 2022 di Badung

Ia mengatakan, jika nanti PPKM Kota Denpasar turun dari level 4 menjadi level 3, namun harus tetap menunggu Instruksi Pemerintah Dalam Negeri (Inmendagri) terbaru terkait PPKM. Selain itu, lanjut Lanang Jelantik, PTM juga harus berdasarkan aturan turunan dari Instruksi Gubernur dan Wali Kota.

Yang tidak kalah penting, izin orang tua. Pelajar yang ikut PTM terbatas harus mendapatkan izin orang tua. ’’Izin orang tua itu hukumnya wajib,’’ tegasnya, seraya mengatakan, sekolah hendaknya tidak mewajibkan wali murid membeli seragam baru. Sebab, kondisi ekonomi warga tengah limbung dihantam badai Corona.

Mantan Kadisdikpora Kota Denpasar itu mengakui, semenjak mewabahnya Covid-19 dan diberlakukanya pembatasan aktivitas di luar rumah untuk menekan angka penyebaran Covid-19 termasuk untuk kegiatan pembelajaran tatap muka langsung, berdampak pada kualitas pendidikan. ‘’Dalam situasi pandemi Covid-19 yang sudah sudah berlangsung hampir dua tahun pelajaran, sulit kalau bicara capaian mutu pendidikan,’’ ujar Lanang Jelantik.

Namun ditegaskan, sekolah untuk semua jenjang sudah terus berupaya untuk mencapai mutu karena para pendidik terus berupaya mentransfer ilmu kepada peserta didik walau PBM dilaksanakan secara daring. Termasuk evaluasi juga diupayakan berjalan dengan segala permasalahanya.

Di sisi lain, Lanang Jelantik, mengingatkan peran penting orang tua (guru rupaka) di rumah bisa mengajarkan dan menanamkan nilai kejujuran. Ia mencontohkan, sangat banyak orang tua yang mengerjakan PR dari gurunya, sementara anaknya tinggal setor hasil PR pada gurunya. ‘’Ini sudah tidak jujur,’’ lugasnya.

Baca juga :  Pengunjung Pasar Samplangan Difasilitasi Tes Antigen Gratis

Heterogenitas orang tua, sambung Lanang Jelantik, juga sangat heterogen tidak sama sosial ekonominya. Sehingga atensi terhadap pendidikan anaknya juga berbeda-beda.  ‘’Demikianlah kondisi pendidikan saat ini, dan semua stakeholder pendidikan tetap semangat  untuk mencapai  capaian pendidikan yang bermutu. Dan, mudah-mudahan pandemi Covid-19 (gering agung) cepat berlalu dan pembelajaran tatap muka segera bisa dilaksanakan,’’ pungkasnya. tra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.