Praktisi Pariwisata Dr. Gusti Kade Sutawa: Petani Bali Harus Dibantu Total Menuju Ekonomi Kerthi Bali

  • Whatsapp
Dr. Gusti Kade Sutawa foto: ist

DENPASAR – Bulan lalu Gubernur Bali, Wayan Koster meluncurkan Buku : ”Ekonomi Kerthi Bali” menuju Bali Era Baru. Buku yang disusun langung Wayan Koster itu, ingin mengubah struktur ekonomi Bali yang selama ini didominasi industri pariwisata, yakni 54 persen dibandingkan sektor lain seperti pertanian dalam arti luas.

Menurut gubernur, sektror pertanian, kelautan dan sektor kerajinan harus mulai mendapat perhatian, sebab sektor pariwisata sangat rentan dengan kondisi eksternal. Contohnya, gempabumi, Gunung Agung meletus, sampai pandemi Covid-19 memporak porandakan industri pariwisata, sehingga pertmbuhan ekonomi masyarakat Bali menjadi minus.

Bacaan Lainnya

Menanggapi ide Gubernur Bali itu, praktisi pariwisata, Dr. Gusti Kade Sutawa , SE., MM., MBA., mengatakan, sangat setuju dengan sikap itu. Ide gubernur itu bukannya tanpa dasar, sebab sesuai dengan visinya “Nangun Sat Kerthi Loka Bali”, kekuatan Bali terletak pada Manusia Bali, Alam Bali dan Kebudayaan Bali itu sendiri. Baik manusianya, alam dan kebudayaan Bali memiliki keunggulan tersendiri sehingga terkenal di dunia.

Gusde Sutawa, panggilan sehari-hari doktor jebolan Unud yang kini menjadi Ketua Umum Nawacita Pariwisata Indonesia (NCPI) itu mengatakan, pasalnya petani Bali belum mendapat perhatian total dari pemerintah. Menurutnya, petani dalam arti luas termasuk peternak, nelayan perlu pendampingan dan dukungan modal dan teknologi. Di samping itu juga akses pasar dan proteksi setelah petani menghasilkan.

Baca juga :  Cek Ketersedian Pangan, Polres Gianyar Intensifkan Patroli Dialogis ke Pasar

Harus ada proyeksi penghasilan petani. Jika petani mengikuti saran pemerintah menanam apa, memelihara apa dan seterusnya, jika menghasilkan akan mendapat untung sekian rupiah. Jangan petani dibiarkan berjuang sendiri, dibohongi para ‘calo’ pertanian dan hasilnya diijon samasih di sawah.

“Selain dibantu teknologi dan permodalan, jika perlu ada pemodelan (contoh riil), dengan langsung diawasi pihak terkait. Dalam hal ini Dinas Pertanian dan Kelautan menjadi ujung tombaknya,” kata Gusde Sutawa yang juga dosen S2 IPBI Bali itu.

Gusde Sutawa yang mengaku sebagai anak petani itu mengatakan, banyak tanah pemerintah menganggur dapat dipakai percontohan (pemodelen), sehingga dapat memberikan motivasi kepada petani.

Selain itu perlu ada perjanjian dengan swalayan, supermarket, hotel dan restoran untuk menyalurkan hasil pertanian, peternakan dan kelautan. Harus benar-benar ada yang bertanggungjawab terhadap proyek ini, sehingga semua dapat dieksekusi sesuai rencana. Ada roadmap dan peta jalan yang dibuat. Intinya pemerintah harus membantu bidang teknologi, bibit, pupuk, modal dan pemasaran.

Jika hal ini dilakukan dan semua pihak bersatu padu, maka Ekonomi Kerthi Bali akan berhasil dengan baik. Generasi muda pun akan tertarik menjadi petani.

“Saya sepakat dunia pariwisata hanya sekadar bonus bagi Bali. Sektor pertanian dan kelautan dalam arti luas harus menjadi ujung tombak kehidupan masyarakat Bali, sebab budaya dasarnya memang seperti itu,” kata Gusde Sutawa yang juga Anggota Dewan Penasihat HKTI Bali. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.