Polisi Segera Gelar Perkara Kasus Persetubuhan Anak Tahun 2018

  • Whatsapp
KASUBAG Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya. Foto: rik
KASUBAG Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya. Foto: rik

BULELENG – Dalam waktu dekat, penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng bakal melakukan gelar perkara terhadap kasus persetubuhan anak di bawah umur yang terjadi tahun 2018 lalu di Desa Banjar, Buleleng. Korban dalam kasus ini adalah Bunga (bukan nama sebenarnya) saat itu berusia 14 tahun. Sekarang korban sudah meninggal dunia. Persetubuhan ini diduga dilakukan oleh IBKS alias IG (65) yang tak lain paman korban sendiri.

Gelar perkara ini dilakukan penyidik untuk menentukan apakah kasus ini layak ditingkatkan ke penyidikan atau tidak. Polisi juga bakal berkoordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Buleleng untuk bisa menentukan langkah selanjutnya.

Bacaan Lainnya

Seizin Kapolres Buleleng, Kasubag Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya, mengatakan, gelar perkara akan tetap dilakukan oleh jajaran Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng kendatipun korban sudah meninggal dunia. “Dalam waktu seminggu ke depan akan dilakukan gelar perkara internal untuk menentukan langkah apa yang dilakukan. Walaupun korban sudah meninggal dunia, ini tidak menjadi hambatan penyidik dalam gelar perkara. Jadi, tetap bisa dilakukan,” kata Iptu Sumarjaya, Minggu (22/8/2021).

Jika nanti dalam gelar perkara keterangan korban sebelumnya dianggap cukup, maka segera akan ditindaklanjuti pemberkasan kasus. Dalam pemberkasan ini, penyidik akan berkoordinasi dengan JPU Kejari Buleleng. “Kasus ini masih akan dikoordinasikan dengan JPU Kejari Buleleng, apakah akan dilakukan langkah pemberkasan perkara,” ujar Iptu Sumarajaya.

Baca juga :  Tiga WNI Kru Kapal Pesiar Diamond Princess Terinfeksi Virus Corona

Hanya saja, diakui, hambatan yang akan terjadi ketika memasuki tahap pembuktian pada persidangan. Sebab keterangan saksi korban diperlukan ketika itu. Namun karena korban sudah meninggal dunia, sehingga kesaksiannya tidak dapat langsung didengarkan. Selama proses penyelidikansebelumnya, korban sendiri sulit dimintai keterangan.

Terlapor yakni IBKS alias IG sudah beberapa kali diperiksa untuk dimintai keterangan. Meski demikian, polisi akan terus berupaya menuntaskan kasus ini. “Hambatan penyidik karena sulit mendapat keterangan dari korban secara akurat karena saat itu korban mengalami depresi. Terlapor beberapa kali dipanggil dimintai keterangan,” pungkas Iptu Sumarjaya.

Kasus persetubuhan yang menimpa Bunga terjadi pada Februari 2018. Kasus ini dilaporkan keluarga korban pada bulan Maret 2018. Kasus ini mendapatkan perhatian banyak pihak, seperti Forum Advokat Buleleng Peduli Perlindungan Anak hingga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Bunga sempat mengalami depresi berat akibat peristiwa yang telah dialaminya, hingga sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli. Korban diduga sempat diancam oleh terlapor agar tidak memberi tahu peristiwa ini kepada orang lain, termasuk korban sempat mendapat kekerasan fisik. rik

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.