Poling Koster Lampaui Giri Prasta di Medsos, Bawaslu-KPU Nilai Tidak Ada Pelanggaran

HASIL polingkita.com terkait Pilgub Bali yang diperoleh dari media sosial Facebook, Selasa (5/4/2022) pagi, Gubernur petahana I Wayan Koster masih menempati posisi teratas dari poling tersebut. Foto: ist

DENPASAR – Utak-atik sosok yang dinilai layak masuk kandidasi kepala daerah pada Pilkada Serentak 2024 di Bali, mulai ramai di media sosial dalam bentuk poling atau pemungutan suara. Meski poling tersebut terkesan untuk “ganteng-gantengan” saja, tapi yang menyalurkan vote atau pilihan lumayan banyak. Salah satunya untuk poling calon Gubernur Bali.

Dalam hasil polingkita.com terkait Pilgub Bali yang diperoleh dari media sosial Facebook, Selasa (5/4/2022) pagi, Gubernur petahana I Wayan Koster masih menempati posisi teratas dari poling tersebut. Dia mendulang 82.696 suara, dan disusul di posisi kedua oleh figur yang digadang-gadang menjadi kompetitor di internal PDIP, yakni Bupati Badung, Nyoman Giri Prasta, dengan raihan 20.016 suara.

Bacaan Lainnya

Di posisi ketiga terdapat nama IB Rai Dharmawijaya Mantra dengan yang memilih sebanyak 1.615 suara. Sesungguhnya masih ada sejumlah nama cukup populer lainnya dalam poling tersebut, tapi pemilihnya sangat kecil.

Dari data tiga besar tersebut, terlihat ada jurang sangat lebar antara posisi pertama dengan posisi kedua, apalagi ketiga. Selisih antara pemilih Koster dan Giri Prasta dalam poling mencapai 62 ribu suara lebih.

Jika dibandingkan dengan Rai Mantra, pemilih Koster bahkan ibarat “langit dan sumur”, terlalu njomplang. Dan, membaca jumlah pemilih di medsos dalam poling yang mencapai puluhan ribu orang itu, terlihat ada keseriusan para pihak untuk menggunakan poling ini sebagai justifikasi popularitas.

Baca juga :  Mencuri di Kos-kosan, Cening Diciduk Polisi

Ketua KPU Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, Selasa (5/4/2022) menilai poling semacam itu bisa dilakukan siapa saja, karena memang tidak ada aturan yang dilanggar. Apalagi tahapan Pilkada 2024 juga belum dimulai, sehingga tidak ada masalah jika dijalankan.

“Yang diatur itu misal kalau ada pihak ingin jadi pemantau. Kalau poling (di medsos) kami belum berwenang masuk ke dalam itu,” tuturnya.

Menurutnya, poling hanya upaya bagi seseorang untuk mengukur popularitas diri sendiri, atau semacam cek ombak respons masyarakat apakah dia mungkin diterima atau tidak.

Meski itu hak pribadi, dia berharap poling tersebut tetap menjunjung tinggi kejujuran pada hasilnya. Pendek kata, tidak membuat kebohongan publik dalam arti merilis hasil yang tidak benar, atau metodologinya tidak benar.

“Soal apakah lembaga yang merilis poling itu kredibel atau tidak, itu silakan masyarakat menilai. Saya ingin masyarakat dicerdaskan, dan saya pikir masyarakat juga dicerdaskan dengan poling seperti itu,” lugasnya.

Anggota Bawaslu Bali, I Wayan Widyardana, di kesempatan terpisah, juga menilai sah-sah saja ada poling dalam situasi menjelang proses elektoral seperti Pilkada. Ini menandakan situasi mulai menghangat, dan ada pihak yang ingin menampilkan tokoh untuk masuk dalam bursa calon kepala daerah.

Sosok yang dimunculkan juga punya nama kapasitas dan pengalaman, meski bukan berarti nama-nama tersebut pasti akan turun dalam palagan politik dimaksud.

Baca juga :  Denpasar Awali PTM dengan Kapasitas 50 Persen

“Hasil poling itu kan juga bisa dipakai acuan peserta pemilu untuk pilihan dalam elektabilitas. Di era keterbukaan hari ini, itu sifatnya positif dan tidak ada pihak dirugikan,” paparnya.

Senada dengan Lidartawan, dia juga berharap poling dibuat dengan menitikberatkan pada kejujuran hasil. Jika kelak kemudian ada figur dalam poling yang merasa pemilihnya terlalu kecil misalnya dibandingkan realita, tentu yang membuat poling juga wajar dipertanyakan. Semua itu kembali kepada proses metodologi poling tersebut.

Hanya, sekali lagi dia menegaskan, membuat poling bukan urusan elektoral yang harus diawasi Bawaslu. “Poling itu bukan bagian dari urusan elektoral yang menjadi ruang kerja dan kewenangan kami melakukan pengawasan. Silakan saja buat poling,” sebutnya memungkasi. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.