MATARAM – Rencana pemerintah pusat melalui Kementerian Perdagangan mengimpor 1 juta ton beras di tengah panen raya, menuai penolakan dari berbagai pihak. Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, Wayan Sugiartha, memastikan, pihaknya juga menolak setiap kebijakan yang dapat merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Hal itu dikatakan, Senin (22/3/2021).
“Kami menolak setiap kebijakan Menteri Perdagangan yang dapat merugikan negara serta menyengsarakan rakyat. PDI Perjuangan lahir dari rahim rakyat. Fardhu ain bagi seluruh kader partai untuk terus memperjuangkan apa yang menjadi amanah rakyat,” sebutnya.
Menurutnya, rencana impor beras itu akan membawa dampak kesengsaraan bagi para petani. Sugiartha juga mendaku telah membahas secara internal terkait masalah impor beras tersebut. Kata dia, semua fraksi di DPRD Kota Mataram juga ada kesamaan dengan PDIP untuk menolak kebijakan impor beras tersebut.
Dia mengkhawatirkan jika kebijakan tersebut dilakukan saat ini, maka banjir beras impor akan berdampak munculnya banjir air mata bagi para petani Indonesia. Apalagi di NTB terpantau pada Maret ini akan terjadi panen besar-besaran. Sesuai arahan Sekjen DPP PDIP, terangnya, justru sejak setahun terakhir PDIP melakukan gerakan menanam tanaman pengganti beras seperti umbi-umbian, ketela, sukun, dan pisang.
“Karena itulah sikap kami sesuai instruksi DPP PDIP adalah tegak lurus dari pusat hingga daerah menolak kebijakan impor beras tersebut,” serunya.
Sebagaimana yang disampaikan Menteri Perdagangan, M. Lutfi, pemerintah akan mengimpor beras sebanyak lebih dari 1 juta ton. Menurut Lutfi, kebijakan impor beras diambil untuk pemenuhan stok di Bulog. Sugiartha mendesak agar jajaran para menteri seyogianya tidak boleh dengan ego dan kepentingannya masing-masing dalam membuat langkah dan kebijakan, yang justru menjauh dari visi, misi, dan program dari Presiden Joko Widodo.
Dari data yang ada, sambungnya, Indonesia akan mengalami surplus produksi pada Januari–April 2021 hingga 6 juta ton beras. Namun, akibat adanya isu terkait impor beras ini, harga gabah telah mendapatkan tekanan. Karena itu, dia mengingatkan Menteri Perdagangan tidak hanya fokus soal impor semata. Sebab, masih banyak tugas-tugas lain yang harus diprioritaskan.
“Menyusun komoditas yang sangat diperlukan oleh pasar internasional dan memperkuat rantai pasok ekspor, menurut saya, jauh lebih bermanfaat bagi para petani maupun pelaku UMKM kita,” ucapnya menandaskan. rul
























