Petani di Pemuteran Kembangkan Sorgum sebagai Alternatif Pangan

  • Whatsapp
KETUA Petani Suka Makmur, Rasik, memperlihatkan hasil panen jagung sorgum. Foto: ist
KETUA Petani Suka Makmur, Rasik, memperlihatkan hasil panen jagung sorgum. Foto: ist

BULELENG – Produk pertanian pangan nonberas yakni sorgum atau dikenal dengan jagung gembal ini mulai dikembangkan petani di Buleleng. Salah satunya adalah Serikat Petani Suka Makmur, Sendang Pasir, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Buleleng. Mereka saat ini mulai untuk mengembangkan produk pertanian ini di lahan seluas 1 hektar lebih.

Mereka melirik tanaman sorgum ini karena punya nilai ekonomis yang menjanjikan. Selain itu, kandungan gizi dalam produk tanaman ini dinilai gizi lebih tinggi dibandingkan beras. Sebab, sorgum memiliki kandungan protein, kalsium, zat besi, fosfor, dan vitamin B1 yang lebih tinggi dibanding beras.

Bacaan Lainnya

Ketua Serikat Petani Suka Makmur, Sendang Pasir, Rasik, mengatakan, para petani di Sendang Pasir ini mulai mengembangkan tanaman sorgum karena memiliki nilai ekonomis menjanjikan. Sebagai tahap awal, dijelaskan Rasik, hanya ditanam bibit sorgum ada lahan seluas 1 hektar dan telah dilakukan panen perdana beberapa waktu lalu.

‘’Sorgum ini bisa dipanen dalam masa tiga kali panen dan bergantung perawatan. Usai panen tanaman sorgum masih bisa tumbuh lagi dan menghasilkan sorgum dengan kualitas yang sama,’’ kata Rasik, Senin (12/10/2020).

Untuk awal penanaman, diakui Rasik, hanya memerlukan modal Rp10 juta. Modal itu mulai dari penyiapan bibit perawatan hingga panen dalam waktu tiga bulan. Bahkan, pada lahan 1 hektar itu diperoleh hasil sebanyak 8 ton sorgum sekali panen.

Baca juga :  Sekelumit Dinamika Komunikasi Publik Selama Dua Bulan Pandemi Covid-19

Saat ini, harga sorgum mencapai Rp35 ribu per kilo. Itupun dalam bentuk jadi. ‘’Kami mempunyai 8 ton sorgum, baik bentuk gabah maupun bibit. Bagi yang perlu bibit sorgum, kami mempunyai stok yang mencukupi,’’ jelas Rasik.

Meski demikian, diakui Rasik, para petani di Sendang Pasir ini masih memiliki kendala untuk mengelola sorgum pascapanen. Pasalnya, hingga kini belum tersedia mesin giling atau mesin perontok untuk memproses sorgum menjadi bahan pangan yang siap dimasak seperti beras.

Sebagai gantinya, untuk sementara, petani melakukan cara manual untuk memproses sorgum menjadi bahan pangan yang siap diolah menjadi makanan. “Kami memesan dua jenis mesin, yakni mesin perontok harganya Rp17 juta dan juga mesin giling sekitar Rp21 juta, dan kami pesan di Tanggerang,’’ ujar Rasik.

Pascapanen pada lahan seluas 1 hektar ini, rencananya akan kembali dikembangkan di lahan yang lebih luas. Ini dilakukan sebagai upaya alternatif makanan nonberas dalam menghadapi pandemi Covid-19. ‘’Semakin beragam bahan pangan alternatif nonberas, maka semakin baik karena banyak akan berubah, baik kesehatan maupun ketahanan pangan. Dan, petani kami memilih sorgum dikembangkan,’’ pungkas Rasik. 018

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.