Petani Cabai di Bangli Gelisah Akibat Serangan Antraknosa

PETANI cabai di Bangli mengeluhkan serangan antraknosa. Kondisi ini membuat banyak cabai membusuk di pohon, dan membuat para petani memanen lebih awal sebelum busuk menyerang. Foto: gia
PETANI cabai di Bangli mengeluhkan serangan antraknosa. Kondisi ini membuat banyak cabai membusuk di pohon, dan membuat para petani memanen lebih awal sebelum busuk menyerang. Foto: gia

BANGLI – Intensitas hujan yang sering terjadi belakangan ini di daerah Bangli, membuat sejumlah petani cabai mulai gelisah. Hujan berpeluang besar menyebabkan merosotnya produksi, dan kondisi ini memaksa petani mengeluarkan biaya perawatan tambahan. Sebab, pada musim hujan seperti sekarang, pohon cabai banyak keriting dan buahnya membusuk sebelum panen dilakukan.

Ni Nyoman Sayang, salah satu petani cabai di Banjar Padpadan, Desa Pengotan, Kamis (8/10/2020) menuturkan, hujan deras yang sering mengguyur daerah Pengotan Barat mengakibatkan buah cabai gampang busuk, sehingga kualitasnya merosot. “Daun cabai menjadi menguning dan keriting, begitu juga dengan buahnya ikut busuk,” keluhnya.

Read More

Menurut dia, tanaman cabai bisa tumbuh dengan baik bila terpapar sinar matahari. Dia yakin hasil panen kali ini tidak begitu memuaskan dibanding hasil panen sebelumnya, bahkan bisa turun hingga 20 sampai 30 persen. Saat ini yang dibutuhkan adalah perawatan ekstra, dengan penyemprotan hama yang biasanya hanya sekali kini harus dilakukan dua kali. “Saya harus rutin melakukan penyemprotan,” katanya.

Penyakit yang menyerang buah cabai itu disebut busuk buah, dikenal dengan istilah antraknosa. Gejala awal serangan berupa bintik-bintik hitam di buah, dan berkembang menjadi bercak hitam cukup besar. Lama kelamaan bercak akan melingkari buah cabai, yang berakhir dengan rontoknya buah. Dibandingkan dengan penyakit antraknosa, serangan keriting daun lebih banyak dikeluhkan petani.

Banyaknya cabai yang membusuk di pohon, membuat para petani memanen lebih awal sebelum busuk menyerang. “Sebelum busuk cabainya sudah saya petik, semua masih hijau jadinya, tidak ada buah merah,” cetusnya bernada lesu. gia

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.