KARANGASEM – Sebagai wujud syukur atas hasil panen yang diterima, masyarakat Desa Apit Yeh, Manggis, Karangasem memiliki tradisi perang ketupat. Tradisi ini dilaksanakan setiap setahun sekali di catus pata desa setempat. Tradisi saling lempar ketupat ini dilaksanakan bertepatan dengan Rahina Kajeng Kliwon Sasih Sada.
Kelian Desa Adat Apit Yeh, I Nengah Kuta, menjelaskan, tradisi ini sudah ada sejak dahulu. Karena dipercayai sebagai wujud syukur atas hasil pertanian, perang ketupat dilakukan 15 hari setelah dilakukan mebiukukung di sawah.
Ketupat yang digunakan sebagai sarana perang tersebut, dikeluarkan oleh masing-masing krama setelah dihaturkan pada saat caru godel pada saat itu. “Masing-masing krama itu 12 biji mengeluarkan tipat sebagai sarana perang ketupat ini,” ujar Kuta, Kamis (19/5/2022).
Kuta menguraikan, perang ketupat ini mestinya dilakukan para krama yang sudah berkeluarga, tapi belakangan, karena terdapat kegembiraan, pelaksanaannya diwakili oleh para yowana atau anak muda. “Meskipun perang, tapi terdapat kegembiraan di dalamnya,” tegasnya.
Ketika tradisi ini dilakukan, Kuta menyebut para petani di desanya tidak pernah menemukan kendala dalam bertani mulai awal sampai panen. Namun, situasi berbeda terjadi ketika itu tidak dilaksanakan. “Waktu Covid-19 sedang marak-maraknya kan tidak diperbolehkan terjadi keramaian, makanya tidak diselenggarakan,” jelasnya.
Terbukti, ketika tidak dilaksanakan, para petani menemukan beberapa kendala dalam proses bertani. Meski hasilnya tidak terlalu banyak berkurang, tapi para petani ada sedikit kesulitan. “Penjualan tidak bagus, faktor terkendala pupuk, air, masalah hama,” tutupnya. nad























