”Tinjauan Kitab Suci Hindu dan Tradisi Nusantara”
Oleh Dr. I Ketut Suardana
DEWA Wisnu adalah daya pemelihara kehidupan. Ia hadir ketika keseimbangan dunia terganggu: ketika kekuasaan berubah menjadi kesewenang-wenangan, ketika manusia merusak alam, ketika masyarakat kehilangan keadilan, atau ketika agama tinggal menjadi upacara tanpa welas asih. Dalam ajaran Hindu, Wisnu bukan hanya sosok suci yang dipuja di pura dan candi, melainkan prinsip Ilahi yang menjaga kehidupan agar tetap berjalan di dalam dharma.
Karena itu, pemujaan kepada Wisnu di Jawa dan Bali tidak semata-mata berarti penghormatan kepada salah satu dewa. Pemujaan itu adalah penghayatan akan tanggung jawab untuk memelihara air, tanah, pangan, keluarga, kebudayaan, keadilan, dan kemanusiaan.
Di Jawa, nilai tersebut hidup dalam candi, kakawin, relief, serta wayang. Di Bali, ia bernafas dalam Kahyangan Tiga, pura-pura air, lontar, sistem subak, upacara, dan etika hidup yang menjaga keseimbangan sekala serta niskala.
Wisnu sebagai Penjaga Dharma
Jejak pemujaan Wisnu telah dikenal sejak zaman Veda. Ṛgveda menyebut: Tad viṣṇoḥ paramam padam sadā paśyanti sūrayaḥ (Para bijaksana senantiasa memandang kedudukan tertinggi Wisnu).
Parama padam tidak semata-mata berarti tempat tertinggi di langit. Ia juga menunjuk kesadaran luhur: cara memandang kehidupan sebagai satu kesatuan yang tertata. Wisnu dikenal melalui tiga langkah kosmis-Nya, Trivikrama, yang meliputi bumi, ruang antara, dan langit. Simbol ini mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendiri; hidupnya terhubung dengan alam, masyarakat, leluhur, dan semesta.
Dalam Bhagavad Gītā, Kṛṣṇa menjelaskan prinsip avatāra: Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati Bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmānaṁ sṛjāmy aham (Setiap kali dharma merosot dan adharma bangkit, pada saat itulah Aku menjelmakan diri-Ku).
Avatāra bukan sekadar kisah mukjizat. Ia adalah jawaban Ilahi terhadap krisis moral manusia. Rāma mengajarkan kesetiaan kepada kebenaran. Kṛṣṇa mengajarkan kebijaksanaan bertindak di tengah dilema. Narasiṁha menyatakan bahwa kesewenang-wenangan tidak akan abadi. Vāmana mengingatkan bahwa kesombongan kekuasaan harus dibatasi oleh dharma.
Wisnu dalam Peradaban Jawa
Pemujaan Wisnu memiliki jejak kuat dalam peradaban Jawa kuno. Candi Prambanan atau Śiwagṛha dibangun sebagai pusat pemujaan Hindu yang agung. Śiwa menempati candi utama, tetapi Brahmā dan Wisnu juga memperoleh kedudukan terhormat dalam susunan Tri Murti. Candi Wisnu berdiri di utara, berhadapan dengan Candi Garuḍa sebagai wahana suci-Nya. (whc.unesco.org, prambanan.slemankab.go.id)
Susunan Prambanan menyampaikan pandangan kosmis yang dalam. Brahmā melambangkan penciptaan, Wisnu pemeliharaan, dan Śiwa peleburan sekaligus pembaruan. Ketiganya bukan kekuatan yang saling bertentangan. Tanpa penciptaan tidak ada awal; tanpa pemeliharaan kehidupan tidak berlanjut; tanpa peleburan tidak ada pembaruan.
Kisah-kisah avatāra Wisnu kemudian tumbuh menjadi bagian dari jiwa kebudayaan Jawa. Rāmāyaṇa dan Mahābhārata tidak berhenti sebagai cerita dari India. Keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, diukir dalam relief, diolah dalam kakawin, dan dihidupkan melalui wayang.
Rāma menjadi teladan pemimpin yang mendahulukan dharma daripada kepentingan pribadi. Kṛṣṇa menjadi penuntun yang memahami bahwa kebajikan kadang harus diperjuangkan di tengah keadaan yang rumit.
Di Jawa Timur, Wisnu juga menjadi lambang raja ideal. Airlangga diwujudkan sebagai Wisnu menunggang Garuḍa. Pesannya sangat tegas: pemimpin tidak dimuliakan karena besarnya kekuasaan, melainkan karena kemampuannya melindungi rakyat, menata negeri, dan menjaga kesejahteraan.
Perjumpaan Wisnu, Śiwa, dan Buddha di Jawa
Di Jawa, Hindu dan Buddha tidak tumbuh dalam ruang yang sepenuhnya terpisah. Prambanan sebagai kompleks Hindu berdiri tidak jauh dari Candi Sewu, Lumbung, dan Bubrah yang bercorak Buddha. Kedekatan ini memperlihatkan bahwa kedua tradisi pernah bertumbuh dalam satu lanskap budaya yang sama. (whc.unesco.org).
Pada masa Singhasari dan Majapahit berkembang corak Śiwa-Buddha. Namun, Śiwa-Buddha tidak berarti semua ajaran dilebur menjadi satu dan perbedaan dihapuskan. Tradisi Śiwa dan Buddha tetap mempunyai mantra, guru, disiplin, serta tata puja masing-masing.
Yang dibangun ialah kesadaran bahwa perbedaan jalan tidak harus berubah menjadi pertentangan. Nāgarakṛtāgama mencatat pemeluk Śiwa dan Buddha melakukan puja secara teratur. (repositori.kemendikdasmen.go.id, phdi.parisada.or.id).
Dalam ruang spiritual seperti itu, Wisnu hadir sebagai daya penjaga harmoni. Ia bukan pusat utama penyatuan Śiwa-Buddha, tetapi nilai-nilai Wisnu—ketertiban, perlindungan, kesejahteraan, dan pemeliharaan dharma—memberi dasar etis agar kehidupan bersama tidak pecah oleh perbedaan.
Buddha dalam Wacana Avatāra Waisnawa
Dalam sejumlah tradisi Waisnawa dan teks Purāṇa Hindu, Buddha ditempatkan sebagai salah satu avatāra Wisnu. Śrīmad Bhāgavata Purāṇa 1.3.24 menyebut:
Tataḥ kalau sampravṛtte
sammohāya sura-dviṣām
buddho nāmnāñjana-sutaḥ
kīkaṭeṣu bhaviṣyati.
Sloka tersebut menyebut kemunculan Buddha di wilayah Kīkaṭa pada awal Kali Yuga (vedabase.io). Dalam beberapa daftar Daśāvatāra, Buddha ditempatkan sebelum Kalki, meskipun terdapat pula tradisi yang menempatkan Balarāma pada posisi tersebut.
Pandangan ini adalah pembacaan teologis Hindu terhadap kehadiran Buddha. Dalam penafsiran yang lebih mendalam, Buddha-avatāra dapat dimaknai sebagai kehadiran daya pemelihara yang datang bukan dengan senjata, melainkan dengan kebijaksanaan dan welas asih.
Ketika agama kehilangan jiwanya, ketika kekerasan dibenarkan atas nama kesucian, dan ketika manusia lupa bahwa semua makhluk merasakan penderitaan, ajaran tentang ahiṁsā, pengendalian diri, dan kejernihan batin menjadi panggilan dharma yang mendesak.
Bila cakra Wisnu melambangkan ketegasan terhadap adharma, ajaran Buddha mengingatkan bahwa akar adharma juga berada di dalam diri manusia: ketamakan, kebencian, dan kebodohan batin.
Namun, hal ini perlu dipahami secara jujur dan hormat. Buddhisme tidak memandang Siddhārtha Gautama sebagai avatāra Wisnu. Dalam ajaran Buddhis, Buddha adalah manusia yang mencapai pencerahan sempurna melalui kebijaksanaan, disiplin etis, dan meditasi.
Karena itu, wacana Buddha sebagai avatāra Wisnu sebaiknya dibaca sebagai jembatan pemahaman dalam tradisi Hindu, bukan sebagai upaya menghapus identitas Buddhisme.
Wisnu dalam Tradisi Hindu Bali
Di Bali, Wisnu dipuja dalam kesatuan teologi Hindu Bali yang kuat bercorak Śiwa-Siddhānta. Ia tidak dipisahkan dari Śiwa, Brahmā, para Devī, leluhur, dan kekuatan alam. Dalam tradisi mantra dikenal ungkapan: Om Nārāyaṇa evedam sarvam yad bhūtaṁ yac ca bhavyam (Nārāyaṇa adalah seluruh yang telah ada dan yang akan ada).
Ungkapan ini dikenal dalam tradisi Catur Weda Sirah, yang menghimpun mantra-mantra penting untuk pelaksanaan ritual di Bali. (basaibubali.org). Tradisi lontar Bali juga mengenal Vedaśīrṣa–Nārāyaṇopaniṣad–Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa, yang memperlihatkan kedudukan Nārāyaṇa dalam khazanah suci Bali. (tatkala.co).
Dalam pola Kahyangan Tiga, Pura Puseh lazim dikaitkan dengan pemujaan kepada Dewa Wisnu sebagai pemelihara. Pura Desa atau Bale Agung dikaitkan dengan Brahmā sebagai pencipta, sedangkan Pura Dalem dikaitkan dengan Śiwa sebagai pelebur serta pemurni. Meski demikian, tata pelinggih dan sebutan bhatara tetap dapat berbeda sesuai dresta desa adat setempat. (phdi.parisada.or.id, ojs.unud.ac.id).
Wisnu juga berkaitan dengan air, kesuburan, dan keberlanjutan pangan. Pura Ulun Danu Batur dipahami sebagai tempat pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi Wisnu, berdampingan dengan pemuliaan Dewi Danu sebagai sumber kehidupan melalui air. (phdi.parisada.or.id).
Dalam Lontar Prekempa Gunung, Wisnu hadir sebagai Nāga Basuki, daya yang terkait dengan laut, gunung, hutan, hujan, dan kesuburan bumi. (dpdhpibali.org). Pesan ini sangat relevan bagi zaman sekarang: merusak hutan, mencemari sungai, mengeringkan mata air, dan mengabaikan tanah berarti mengkhianati daya pemeliharaan yang menjadi hakikat Wisnu.
Pemujaan yang Menjadi Tindakan
Pemujaan Wisnu tidak cukup dilakukan melalui bunga, dupa, canang, mantra, atau hari suci. Semua itu penting sebagai sarana menyucikan batin, tetapi bhakti harus berlanjut menjadi tindakan nyata.
Mantra Om Namo Nārāyaṇāya mengajak manusia berserah kepada daya pemelihara semesta. Doa Śāntākāraṁ bhujagaśayanam mengajarkan ketenangan di tengah perubahan. Cakra Sudarśana mengajarkan ketajaman membedakan dharma dan adharma.
Śaṅkha membangunkan kesadaran. Gadā melambangkan keteguhan dalam membela kebenaran. Padma atau teratai mengajarkan kesucian: hidup di dunia tanpa tenggelam dalam kekotoran dunia.
Dalam kehidupan sosial, pemuja Wisnu seharusnya dikenal dari sikapnya. Ia tidak merusak yang harus dijaga; tidak menindas yang lemah; tidak memakai jabatan untuk memperkaya diri; serta tidak menjadikan agama sebagai alasan membenci. Ia menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, pembangunan dan alam, kemajuan dan kebijaksanaan.
Penutup
Pemujaan Dewa Wisnu di Jawa dan Bali adalah warisan besar yang mengajarkan bahwa dharma bukan hanya soal percaya kepada Tuhan, melainkan keberanian memelihara kehidupan.
Di Jawa, Wisnu hidup dalam Candi Prambanan, kisah Rāma dan Kṛṣṇa, arca Garuḍa, serta cita-cita kepemimpinan yang melindungi rakyat. Di Bali, Wisnu hidup dalam Kahyangan Tiga, mantra Nārāyaṇa, pemuliaan tirta, kehidupan agraris, dan kesadaran bahwa alam adalah bagian dari tubuh suci semesta.
Pada akhirnya, memuja Wisnu berarti mengambil bagian dalam pekerjaan suci memelihara dunia. Ketika manusia menjaga alam, melindungi sesama, menegakkan keadilan, dan membangun kedamaian, di situlah dharma Wisnu hadir serta bekerja dalam kehidupan. (Penulis adalah pemerhati budaya dan juga dosen tidak tetap Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar)























