Pemkab Busel Kunjungi Desa Wisata Penglipuran

  • Whatsapp
BENDESA Adat Penglipuran, I wayan Supat, memberikan menjelasan terkait keberadaan desa wisata kepada Bupati Buton Selatan bersama rombongan. Foto: ist
BENDESA Adat Penglipuran, I Wayan Supat, memberikan menjelasan terkait keberadaan desa wisata kepada Bupati Buton Selatan bersama rombongan. Foto: ist

BANGLI – Pemkab Buton Selatan (Busel), Sulawesi Tenggara melakukan studi tiru ke Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Jumat (20/11/2020). Rombongan dipimpin Bupati Buton Selatan, La Ode Arusani; dan diterima Bupati Bangli, I Made Gianyar, di wantilan Desa Adat Penglipuran. Gianyar didampingi Kadis Disparbud I Wayan Adnyana dan Bendesa Adat Penglipuran, I Wayan Supat.

La Ode Arusani dalam sambutannya menyampaikan, Penglipuran dipilih sebagai lokasi studi banding, karena Penglipuran terkenal di dunia. Desa ini juga banyak memperoleh penghargaan, dan yang terpenting yakni Penglipuran tempat wisata terbersih nomor 3 di dunia. “Untuk itu kami bersama rombongan terdiri dari tokoh adat ingin tahu lebih dekat cara pengelolaan, untuk nanti bisa dikembangkan dan diterapkan di Kabupaten Buton Selatan,” jelasnya

Bacaan Lainnya

Usai mengucapkan selamat datang kepada tamunya, Bupati Made Gianyar menyampaikan di Bali lebih dikenal Kintamani daripada Bangli. Namun, sekarang Desa Penglipuran menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Bangli. Sebelum Desa Penglipuran ditetapkan menjadi desa wisata tahun 1993, dulu tidak ada keinginan menjadikan des aini sebagai objek wisata.

Bermula dari banyaknya orang datang melihat keunikan bangunan yang tidak ada duanya di Bali masih dilestarikan, tuturnya, paruman Desa Adat membuat badan pengelola. Setelah terkenal dan banyak penghargaan yang diterima, ketua badan pengelola sering diundang di tingkat nasional maupun internasional. “Sebelum ada slogan Sapta Pesona, Desa Adat Penglipuran lebih dulu melaksanakan,” pujinya.

Baca juga :  Warga Miskin NTB Bertambah 13,9 Persen

Bendesa I Wayan Supat menambahkan, nama Desa Penglipuran berasal dari kata pengeling dan pura yang artinya mengingat tempat suci (para leluhur). Awalnya masyarakat desa berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani yang bermigrasi ke Desa Kubu Bayung (sekarang menjadi Desa Penglipuran), dan akhirnya menetap dengan senantiasa menjaga keluhuran falsafah budaya. Di setiap rumah ada pintu gerbang disebut angkul-angkul, dan semua rumah di desa ini seragam secara ukuran meski bentuknya tidak sama.

“Ada 985 jiwa dalam 234 kepala keluarga, tersebar di 76 pekarangan yang terbagi rata di setiap sisi dari luas total 112 hektar. Di sini ada hutan bambu di sebelah utara, di belakang pura desa, dan menebang pohon bambu harus seizin tetua desa,” ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat Penglipuran sangat menghormati perempuan sejak zaman leluhur, aturan adat unik yang jarang diketahui orang banyak. Ini adalah satu-satunya desa di Bali yang tegas melarang poligami. Mereka yang melanggar aturan adat tidak bisa lagi tinggal bersama masyarakat di desa, melainkan diasingkan di karang mamadu di selatan rumah penduduk. 

“Sanksi sosialnya cukup berat, antara lain tidak boleh bergabung melaksanakan upacara adat dengan masyarakat, dilarang masuk pura mana pun di Penglipuran, dilarang melintasi perempatan desa di bagian utara, dan dikucilkan (kasepekang) oleh masyarakat. Karang mamaduartinya tempat khusus bagi yang beristri lebih dari satu, dengan luas lahan yang disiapkan 921 meter persegi,” katanya.028

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.