Pecat Anggota Bajing Kids Tanpa Pembinaan, Anggota DPRD Bali Sayangkan Kepala SMAN 2 Denpasar Arogan

SEJUMLAH siswa anggota Bajing Kids yang menyampaikan aspirasi ke rumah anggota Komisi I DPRD Bali, Dewa Nyoman Rai, Sabtu (22/7/2023) malam. Foto: ist
SEJUMLAH siswa anggota Bajing Kids yang menyampaikan aspirasi ke rumah anggota Komisi I DPRD Bali, Dewa Nyoman Rai, Sabtu (22/7/2023) malam. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, DENPASAR – Anggota Komisi I DPRD Bali, Dewa Nyoman Rai, menyayangkan adanya pemecatan siswa SMAN 2 Denpasar yang menjadi anggota geng Bajing Kids. Baik siswa maupun orangtuanya tidak mendapat kesempatan untuk pembinaan, itulah masalahnya. “Kepala sekolah percaya asumsi publik, main pecat saja dengan alasan itu viral. Kok arogan sekali?” sesal politisi PDIP itu, Sabtu (22/7/2023) malam.

Dia melontarkan pendapat itu setelah didatangi sejumlah anggota Bajing Kids yang masih pelajar SMP dan SMA di rumahnya. Para remaja itu sebagian didampingi orangtuanya, dan curhat atas persoalan mereka. Dari penuturan itu, dia mendaku apa yang kencang diberitakan tidak sepenuhnya benar.

Read More

“Anak-anak ini datang ke rumah saya didampingi orangtua, mereka katakan apa adanya, jujur mereka ceritakan. Saya juga orangtua, saya terima mereka sebagai bentuk sense of belonging,” cetus Dewa Rai.

Kegiatan yang dilakukan anggota Bajing Kids, katanya, tidak ada yang benar-benar negatif seperti dibayangkan publik. Misalnya memalak orang, atau memaksa orang masuk geng itu. Namun, anak-anak itu mengakui mereka minum minuman keras di sebuah vila. Uangnya dari patungan. Masalahnya, ketika mereka dipecat dari sekolah, citranya pasti negatif.

“Kepala sekolah itu arogan, pindahkan saja, Disdik Provinsi harus bersikap. Sebagai orangtua, itu kan anak mereka juga di sekolah. Kan bisa ditanya dulu, cari faktanya dulu, dan masih bisa dibina,” urainya bernada kesal.

Ibu Komang, orangtua Ar, pelajar SMAN 2 Denpasar, menuturkan, dia dipanggil ke sekolah pada Sabtu (22/7/2023) pagi. Pendek kata, anaknya diminta pindah sekolah karena kelakuannya masuk geng viral di media sosial. Tidak ada kebijakan sama sekali untuk Arya, meski dia baru dua minggu mencicipi duduk di bangku kelas I. “Kami disuruh tanda tangan meskipun sebenarnya tidak mau,” keluhnya dalam percakapan via panggilan video.

Dia pribadi berharap anaknya bisa melanjutkan sekolah di SMAN 2 Denpasar. Soal kenakalan anaknya, dia mendaku sudah menanyakan langsung. “Dia bilang cuma minum saja, tidak ada malak-malah begitu. Ceritanya aja (di luar) begitu,” imbuhnya dengan ekspresi sedih.

Pak Budi, orangtua Rm yang juga pelajar SMAN 2 Denpasar, turut menyuarakan keberatan dengan arogansi kepsek. Tanpa ada upaya pembinaan sama sekali, langsung memecat siswa gegara viral di media sosial. Dia tidak mau menandatangani surat pernyataan bersedia pindah, karena anaknya sudah kelas 3. Jika pindah, mau tidak mau perlu biaya lagi.

“Pak Kepala Sekolah itu baru tiga bulan, saya kesal karena dia hanya baca catatan, sampai nangis saya di sana. Pemalakan yang katanya Rp50 ribu itu tidak pernah ada. Ini main pecat saja, terlalu kejam,” kisahnya dengan nada kesal.

Dewa Rai melanjutkan, kakunya kepala sekolah dengan langsung memecat siswa anggota Bajing Kids, mesti jadi perhatian Dinas Pendidikan Provinsi Bali. Bagaimanapun para siswa itu masih punya hari depan yang jadi tanggung jawab pemerintah. Jangan hanya karena satu persoalan viral, hak pendidikan mereka seakan dirampas.

“Bagi saya main pecat itu sikap konyol. Kalau kita bandingkan, teroris yang bikin onar saja masih ada yang dibina oleh pemerintah, tidak langsung dibunuh. Ini anak-anak belum jelas salahnya, kok langsung dipecat? Kan kasihan,” tandasnya dengan nada menyesalkan. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.