MATARAM – DPC PDIP Mataram mendorong pemerintah dan masyarakat untuk mendaur ulang limbah sampah plastik. Selain untuk menjaga lingkungan, gerakan tersebut juga dapat bermanfaat secara ekonomi. Pandangan itu dilontarkan Ketua DPC PDIP Mataram, Made Slamet, saat mengunjungi Komunitas Gerakan Lingkungan Sampah Nihil (Gelisah) Kampung Banjar di Ampenan, Lombok, Selasa (25/5/2021) malam.
Menurut Made, seharusnya kreativitas kelompok Gelisah ini didukung dan dibantu pemerintah. Salah satunya dengan bantuan mesin penghancur limbah plastik yang representatif. “Ketimbang dana pemerintah dipakai tidak jelas untuk proyek fisik yang menghamburkan uang daerah cukup besar, saya mendorong kelompok daur ulang sampah inilah yang dibantu pengembangan hingga pendampingannya,” kata Made didampingi Sekretaris DPC, Nyanyu Ernawati.
Untuk diketahui, masyarakat Pulau Lombok di pesisir Pantai Kecamatan Ampenan, yakni Lingkungan Banjar, mengambil langkah menciptakan komunitas daur ulang sekaligus mencegah pantai dan sungai mereka dicemari sampah plastik. Adalah Komunitas Gerakan Lingkungan Sampah Nihil (Gelisah) Kampung Banjar dipimpin Ulfa, pada tahun 2019 mencoba mengumpulkan sampah di pantai hingga sepanjang kali di wilayah setempat. 18 bulan kemudian gerakan ini berkembang menjadi gerakan pengumpulan limbah plastik dari setiap kepala keluarga di lingkungan itu.
Ulfah yang mengajak beberapa remaja sebayanya, mampu mengubah limbah tak terurai menjadi pernak-pernik, mainan, dompet, sampul dan pembatas buku hingga piring. Mereka menjual produknya lewat media sosial dan gerai mini untuk menciptakan ekonomi yang berkesinambungan.
“Jumlah sampah rumah tangga berserakan di setiap gang, pantai dan kali Gedur telah merusak lingkungan. Jadi, kami perlu bertindak meski dari lingkungan kecil, sebelum terlambat dan menghadapi situasi seperti di wilayah lain di Indonesia,” kata Ulfah kepada tamunya itu.
Dia mengakui Pemprov NTB ada program NTB Zero Waste. Namun, tindak lanjut di Kota Mataram melalui sekolah ramah lingkungan untuk mendidik masyarakat pentingnya membuang sampah secara bertanggung jawab, belum masif dilakukan.
Untuk produk yang dihasilkan, dia berkata dijual dengan harga bervariasi. Sebuah bangku rias bahkan dijual seharga Rp1,8 juta. Sampah ban bekas dan bungkus bahan minuman kemasan “disulap” menjadi tas tangan, taplak meja, gantungan kunci, sampul buka dan alas piring.
Menyimak penjelasan itu, Made berkata dengan tidak adanya TPA di Kota Mataram saat ini, pembentukan kelompok pendaur ulang sampah di semua lingkungan menjadi vital dilakukan. Inovasi itu akan bisa mengurangi tonase sampah yang dikirim ke TPA Regional Kebon Kongok. Dia menyebut seharusnya gerakan memilih dan memilah sampah dari hulu ini yang difokuskan daripada menambah pembelian alatnya.
“Apalagi dana lingkungan dan kelurahan cukup besar selama ini, tinggal diarahkan saja untuk memperbanyak kelompok pemilah sampah itu,” jelas Made.
Lebih jauh di menyarankan diadakan alat penghalau sampah (trashboom) atau pemasang jaring untuk membantu menanggulangi polusi saluran air, sekaligus mencegah limbah di sungai sampai ke lautan. Pemprov NTB dan Pemkot Mataram perlu berkolaborasi menanganinya. Karena itu, daur ulang plastik melalui pembentukan kelompok ini harus masif dilakukan. “Sebab, akan bisa pula menjadi solusi mengatasi pengangguran di lingkungan atau desa yang kian meningkat akibat dampak Covid-19,” ulasnya.
Dia berjanji membantu memasarkan produk limbah plastik dari Gelisah untuk dibawa ke setiap kegiatan partai. Dia membeli beberapa produk Gelisah, antara lain sampul buku dan piring itu, untuk dikenalkan ke DPP sebagai bukti sampah bisa menjadi produk berdaya guna. “DPP akan bisa menjadikan program daur ulang sampah menjadi program partai ke depan,” lugasnya menandaskan. rul























