POSMERDEKA.COM, TABANAN – Masyarakat Adat Juwuk Legi di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, mengikuti Paruman Banjar Adat Juwuk Legi di Balai Banjar Juwuk Legi, Selasa (28/7/2026). Paruman tersebut bertujuan untuk memberikan klarifikasi permasalahan, sehingga masyarakat luas mendapat pemberitaan dengan berimbang dan pemahaman atas permasalahan secara utuh dan menyeluruh.
Paruman tersebut dilaksanakan pascainsiden pencurian ternak ayam yang berujung pada pengeroyokan dan mengakibatkan terduga pelaku meninggal dunia. Dalam pertemuan tersebut juga dilengkapi dengan live striming kepada netizen oleh pegiat medsos I Wayan Setiwan.
Acara tersebut dihadiri Perbekel Desa Batunya, Bendesa Adat Banjar Juwuk Legi, perwakilan bendesa adat dari masing-masing desa se-Kecamatan Baturiti, babinsa dan bhabinkamtibmas desa setempat, serta masyarakat Banjar Juwuk Legi yang hadir sekitar 80 orang.
Hal yang mencuat ke permukaan, terungkap dalam pertemuan tersebut bahwa insiden pencurian ternak ayam yang berujung pada pengeroyokan dan mengakibatkan terduga pelaku meninggal dunia merupakan akumulasi permasalahan yang dari sejak lama belum menemukan solusi dan penanganan.
“Untuk itu, dalam paruman ini memberikan klarifikasi permasalahan, sehingga masyarakat luas mendapatkan pemberitaan yang berimbang dengan pemahaman permasalahan secara utuh dan menyeluruh,” ujar salah satu pengurus adat di Juwuk Legi.
Dikatakan bahwa dampak yang ditimbulkan sangat beragam di masyarakat, dan diharapkan penyelesaian permasalahan dilaksanakan secara seksama dalam penegakan hukum di lapangan, sehingga tidak menimbulkan permasalahan baru.
Sementara dari pegiat media sosial, I Wayan Setiawan, mengatakan dirinya hadir ke Banjar Juwuk Legi untuk mendapat informasi yang berimbang dan tanpa dipengaruhi pihak lain. “Semoga dengan penjelasan kronologis di lokasi oleh masyarakat dapat memberikan pemahaman informasi di masyarakat. Saya tidak memihak ke satu sisi ini, tapi hanya untuk berita yang berimbang,” ujarnya.
Menurutnya, kriminalitas ringan bisa berdampak besar di masyarakat. “Para wakil rakyat jangan hanya cari muka di medsos, malah membuat resah di masyarakat, pemahaman permasalahan yang dangkal. Kasian masyarakat yang memilih Anda terus jadi salah paham karena medsos penyampaian dari wakil rakyatnya,” imbuh Setiawan, tanpa menyebutkan nama.
Sementara itu Bendesa Adat Banjar Juwuk Legi, menyampaikan bahwa masyarakat Juwuk Legi merasa sangat menyesal atas kejadian itu, dan menyampaikan belasungkawa yang sangat mendalam kepada korban. “Kami masyarakat Bali tidak mungkin mau membunuh, apalagi ini manusia, namun kenyataanya berbeda di lapangan. Masyarakat kami sebagian besar petani dan peternak, karena kami di kampung sekali. Kami memang geram karena sering kehilangan hewan unggas ataupun ternak,” ungkapnya.
Sebelumnya, lanjut dia, sudah 16 ekor ayam yang hilang, dan si maling malah mengancam akan menembak masyarakat. Otomatis masyarakat tidak berani mendekat. Hal itu pula yang kemudian memicu emosi masyarakat dan spontan tanpa ada yang bisa mengendalikan.
Hal senada diungkapkan Perbekel Desa Batunya. “Batunya terdiri empat banjar, yang sebagain besar petani dan beternak. Kondisi kami sangat sederhana. Kami semua kena dampak, bukan hewan ternak saja yang hilang, bahkan unggas dan barang pertanian kami pun diambil. Kami berbela sungkawa atas almarhum dan keluarganya, serta meminta maaf sebesar besarnya,” tegasnya.
Keluhan dan keresahan maraknya kasus pencurian seperti itu pun disampaikan beberapa warga yang hadir. “Saya sebagai masyarakat yang kehilangan tidak melapor, saya rasa sudah tidak ada efek ataupun dampaknya. Yang saya tahu, ayam saya tidak akan kembali. Ayam ternak kami sangat berharga rata-rata ayam inpor harganya sekitar Rp3,5 juta itu yang masih anakan,” ujar salah satu warga.
Warga yang lain pun urun suara. “Ayam saya hilang empat ekor sudah jago semua, dan saya juga mendapat informasi di kampung lain di sekitar juga kehilangan di tiga tempat yang berbeda. Saya merasa miris apa yang mereka pikirkan, saya membesarkan ayam sampai tahunan baru bisa dijual terus mereka maling ayam saya,” tukasnya.
Muncul pula tanggapan dari warga, dengan harapan untuk bijak dalam penyelesaian permasalahan. “Penegak hukum mohon dijadikan pertimbangan. Jangan membela yang satu dan menghakimi yang lain. jadilah penegak hukum yang dapat dipercaya. Kejadian ini terakumulasi sejak lama dan menumpuk, kegeraman masyarakat akan gangguan kamtibmas yang berlarut-larut, dan tidak terselesaikan,” tandasnya. gap























