Pariwisata Mandeg akibat Dampak Covid-19 di Bali, Apakah Masyarakat Otomatis Beralih ke Bidang Pertanian?

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto: net
Ilustrasi. Foto: net

WABAH Covid-19, khususnya bagi Bali memang membuat dunia pariwisata benar-benar anjlog, kalau tidak boleh dikatakan hancur lebur. Wisatawan nol persen, menyebabkan industri wisata mandeg sudah hampir tiga bulan terakhir ini.

Banyak pihak, atau yang mengaku diri sebagai pengamat, berhalusinasi, bahwa kini saatnya pertanian Bali bangkit. Rakyat akan kembali bertani, yang selama ini ditinggalkan karena lebih tertarik terjun ke dunia pariwisata, jasa dan sekitar itu. Apa betul demikian?

Saya kebetulan hidup di tengah-tengah petani. Selama krisis akibat Corona ini, tidak banyak melihat generasi baru aktif terjun membantu orangtuanya sibuk di sawah, ladang atau sektor nelayan.

Maaf, generasi baru (anak-anak muda) di mana orangtua mereka tekun sebagai petani–tetap saja bergaya seperti sebelum Covid-19 melanda dunia ini.

Baca juga :  Rai Iswara Ajak Masyarakat Denpasar Sukseskan Tahapan Pilkada 2020

Kalau tidak main layangan, trek-trekan di jalan dengan sepeda motor kebanggaannya. Kumpul-kumpul minum alkohol. Para pejudi asyik main ceki, karena tajen lagi sepi. Bahkan sama sekali tidak boleh ada sabungan ayam (tajen). Mereka yang ke sawah, ke ladang atau ke laut–tetap pemain lama, dengan postur kurus, jangkung, kusam namun tenaganya lebih kuat daripada generasi mereka.

Banyak yang berharap, pertanian Bali bangkit dengan jedanya dunia pariwisata yang selama ini menguasai 74 persen kehidupan rakyat Bali. Apakah itu terjadi?

Maaf, saya lihat tidak. Saya ragu masyarakat Bali akan beralih ke dunia pertanian. Apalagi, air di subak-subak semakin langka.

Kalau saya ikuti pemberitaan-pemberitaan di media massa, banyak kalangan berharap supaya dunia pariwisata kembali bangkit.

Baca juga :  Targetkan 30 Persen Perempuan di Parlemen, Menteri PPPA Dukung KPPI

Masyarakat masih lebih tertarik bergerak di bidang pariwisata, jasa dan bidang kreatif (seni kerajinan, seni ukir/pahat dan sejenis itu), guna mendukung pariwisata.

Sejumlah webseminar  yang dilakukan belakangan ini, belum ada yang membicarakan sektor pertanian dengan serius. Lebih banyak berkutat bagaimana membuat protokol kesehatan baru (new normal) di bidang pariwisata dilengkapi dengan dunia digitalnya.

Memang ada kecendrungan baru di masyarakat akibat Covid-19 ini. Apa itu? Banyak masyarakat rajin berolahraga pagi-pagi, sekalipun hari kerja. Kelihatan sektor kuliner makin marak, karena sudah dapat dipesan via grab, ojol dan lewat handphone. Itu pun terbatas dilakukan ibu-ibu muda dan keluarga yang ingin ada penghasilan baru setelah kena PHK.

Baca juga :  Jaya Negara Ajak Seluruh Elemen Putus Rantai Penyebaran Covid-19, 24 Pasar Rakyat di Denpasar Dipasang Bilik Antiseptik

Tetangga saya, seorang petani tetap juga mengeluh. Padinya sudah menguning, yang biasanya dijual di sawah (artinya tidak dipanen di bawa pulang), konon dihargai murah per-arenya. Calo memanfaatkan kondisi petani yang segera  memerlukan uang!

“Masih murah pak. Petani kan ya begitu-begitu saja,” katanya tanpa menyebut harga karena masih nego-nego.

Melihat kenyataan ini, saya akhirnya masih ragu pertanian akan boom setelah bencana Covid-19.  Masyarakat Bali, tetap berharap sektor pariwisata akan menjadi andalan utama ekonomi rakyat.

Kalau demikian halnya, masyarakat harus tetap konsisten hidup bersih, damai, aman serta bebas plastik.

Bali harus selalu menjaga keamanan, kebersihan, kesehatan serta kenyamanan sehingga turis kembali ramai ke Bali.

Menuju Bali Era Baru tiada lain menjaga keseimbangan niskala dan sekala berbasis desa adat, tetap hidup rukun satu dengan yang lainnya. Jangan berhalu ada perubahan drastis….. [Made Nariana]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.