Pandemi Dinilai Momentum Kembangkan Potensi Kelautan dan Perikanan

  • Whatsapp
MENTERI Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono (kiri) saat menerima cenderamata dari Gubernur Bali, Wayan Koster. foto: ist

DENPASAR – Gubernur Bali, Wayan Koster, menyatakan rasa terima kasihnya atas komitmen pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang turut serta dalam upaya pemulihan ekonomi Bali saat pandemi Covid-19 ini.

“Kami sudah melakukan pembahasan dengan para ahli, akademisi di Bali untuk menyeimbangkan struktur fundamental pembangunan Bali antara pariwisata, pertanian, dan kelautan beserta industrinya,” kata Gubernur Koster saat menerima kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono beserta jajaran di Gedung Gajah, Rumah Jabatan Jayasabha, Denpasar, Kamis (25/3/2021).

Bacaan Lainnya

Gubernur mengucap syukur atas langkah nyata yang diambil pihak KKP dalam membantu sektor kelautan Bali yang bukan hanya untuk pengembangan hulu ke hilirnya, tapi juga diharapkan mampu menjadi industri baru di Pulau Dewata.

“Ini adalah ekonomi kerakyatan, dan mungkin ini sudah waktunya dikembangkan di saat yang tepat. Pandemi juga punya hikmah untuk momentum yang tepat untuk menyentuh dan menggali kembali sektor pertanian dan kelautan,” katanya.

Gubernur asal Sembiran juga menjelaskan bahwa telah punya konsep matang untuk merealisasikan pembanguanan yang mensinergikan ketiga sektor tumpuan ekonomi Bali tersebut.

“Bali tradisi pertanian, budaya pertaniannya sangat kuat. Ada subak sebagai warisan budaya yang (sayangnya,-red) ditinggal karena maraknya dunia pariwisata. Karenanya pertanian, produk unggulan branding Bali seperti terlupakan, untuk itu kita buatkan skenario pengembangan produk pertanian Bali dari hulu sampai hilir,” ungkapnya.

Baca juga :  Wabah Covid-19 Turunkan Pariwisata Bali

Termasuk untuk sektor perikanan dan kelautan, kata Gubernur telah menyusun suatu konsep yang nantinya akan secara efektif memaksimalkan potensi-potensi kelautan dan perikanan Bali.

“Ternyata Bali ini pulaunya kecil tapi potensi kelautannya besar, ada keunikan dan keragaman yang luar biasa. Ini belum pernah digali secara serius sebagai kebijakan dengan program yang dikembangkan dari hulu sampai hilir,” lugas Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini.

Menurutnya, pandemi Covid-19 ini membuat banyak mata terbuka bahwa ke depan Bali tidak bisa dan tidak boleh lagi untuk terus-menerus bergantung hanya pada sektor pariwisata, karena sektor ini yang meskipun mampu mendatangkan pendapatan yang besar namun sangat sensitif pada peristiwa-peristiwa alam maupun nonalam.

“Ada bom, virus, erupsi bahkan yang gunungnya bukan di Bali, bisa mengganggu kedatangan wisatawan kita. Dan kini, pandemi Covid-19 ini yang paling lama, yang paling besar dampaknya bagi pariwisata dan ekonomi kita,” bebernya.

Dijelaskan Gubernur Koster, kontribusi pariwisata selama ini mencapai 54 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali secara langsung dan jika dihitung pendapatan tidak langsung bisa mencapai 70 persen.

Sebelum pandemi lanjut dia, wisatawan domestik yang berkunjung ke Bali mencapai 10, 5 juta orang, sedangkan wisatawan mancanegara mencapai 6,3 juta lebih. “Jadi 16, 8 juta wisatawan yang datang ke Bali 2019, meningkat 20 persen dari tahun 2018. Ini juga dapak kebijakan pembatasan sampah plastik, kendaraan listrik dan lainnya juga punya dampak pada ketertarikan wisatawan untuk ke Bali,” kata alumnus ITB Bandung ini.

Baca juga :  Kapolda NTB Ingatkan Masyarakat Waspadai Bencana

Kondisi demikian menurut Gubernur Koster, tentu sangat berdampak positif kepada ekonomi Bali yang jadi nomor satu dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi secara nasional, 5,4 persen pada 2019.

“Sekarang kondisi ini stuck (macet) karena pandemi, karena larangan penerbangan domestik maupun internasional. Meskipun kini sudah dibuka untuk domestik, masih belum bisa maksimal karena rataan okupansi hotel hanya 5-10 persen,” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono mengamini bahwa Bali sekian puluh tahun terlena dengan gelimang pariwisata, sehingga agak meminggirkan sektor kelautan dan perikanan sebagai satu tumpuan perekonomian. “Padahal Tuhan sudah memberikan banyak sekali ruang di Bali yang bisa dikembangkan,” ujarnya.

Ia mendaku kedatangannya juga membawa langsung tim ahli yang diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah daerah dalam pengembangan potensi kelautan dan perikanan.

“Potensi kelautan kita, perikanan tangkap akan kita jadikan modal utama dan budidaya dengan orientasi ekspor. Kita harus ada upaya antara pemerintah pusat dan daerah sebagai booster, pariwisata jalan terus tapi masalah kelautan juga jangan ditinggalkan,” katanya.

Dia menambahkan, juga ada upaya-upaya untuk membuat kampung-kampung budidaya perikanan air tawar dan payau dengan berbasiskan kepada kearifan lokal di Bali. Disamping itu, Menteri Trenggono juga menaruh perhatian khusus kepada garam produksi Bali yang dihasilkan dengan cara-cara yang masih alami dan tradisional, namun memiliki kualitas tinggi juga keunikan tersendiri.

Baca juga :  Jelang "Piodalan", Areal Pura Dalem Penataran Desa Adat Sumerta Disemprotkan Disinfektan

Produk garam yang diproduksi di Kusamba, Tejakula hingga Pemuteran tersebut terkenal memiliki kandungan mineral yang tinggi dengan cita rasa khas atau dikenal juga dengan ‘garam artisan’ atau ‘garam gourmet’. alt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.