DENPASAR – Kondisi ekonomi yang anjlok akibat pandemi Covid-19 alias Corona berimplikasi tingginya pengharapan masyarakat kepada pemerintah daerah. Salah satu bentuknya yakni ingin ada calon pemimpin alternatif yang mampu memperbaiki keadaan. Harapan politik ini yang hendak dikapitalisasi menjadi kemenangan oleh koalisi yang digalang Partai Golkar di Pilkada 2020 di Bali.
Ketua DPD Partai Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry, menyebut dalam kondisi lesu akibat pandemi ini ada nuansa cukup deras di masyarakat butuh sosok alternatif. Meski secara merata di Bali demikian, yang lebih spesifik diklaim terjadi di Badung, Jembrana, Tabanan dan Denpasar. “Itu ada hasil surveinya,” kata Sugawa, Sabtu (18/7/2020).
Meski mengklaim seperti itu, Sugawa tidak memungkiri koalisi besar yang digalang bersama sejumlah parpol belum melangkah sejauh PDIP yang punya calon sendiri untuk ditandingkan di enam kabupaten/kota di Bali. Kondisi itu juga tidak dirisaukan, dengan alasan semua sedang berproses. Dia pun berkata waktu yang tersedia masih cukup untuk sosialisasi semua calon yang diusung koalisi, meski belum dipastikan kapan batas waktu pengumuman calonnnya.
“Para calon itu sudah sosialisasi sejak lama, misalnya paket Tamba-Ipat di Jembrana, itu kan sejak lama sosialisasi. Termasuk di Denpasar, cuma Badung masih godok. Saya optimis tinggi dengan calon dari partai koalisi, karena ada nuansa cukup deras di masyarakat dengan kondisi sekarang mereka butuh alternatif,” ujarnya.
Menanggapi “misteriusnya” calon yang direkomendasi PDIP, Sugawa menyebut gembira karena koalisi justru lebih dulu resmi mengumumkan ke publik, meski secara kuantitas lebih kecil. Yang dimaksud yakni untuk Jembrana, Bangli, dan Karangasem. Kalaupun tiga daerah lain belum ada calon, itu karena memang Golkar tidak bisa mengusung sendiri, harus berkoalisi dengan partai lain. “Kemarin kan Nasdem ada kendala sedikit, jadi kami harus menunggu dan tidak mencampuri ke dalam. Sekarang sudah selesai, koalisi sudah jelas,” cetus politisi asal Buleleng itu.
Untuk di Tabanan, tuturnya, Golkar memberi surat tugas kepada AA Ngurah Panji Astika untuk lebih awal sosialisasi ke publik sebagai calon Bupati menggunakan infrastruktur partai dan relawannya. Jadi, ketika calon Wakil Bupati yang disodorkan Nasdem dan disetujui, paket itu sudah dikenal. “Kami serahkan ke Nasdem mengajukan calon wakil untuk disurvei, untuk cari elektabilitas tertinggi dalam konteks paket. Nama-nama sudah ada, formalnya menunggu diumumkan,” terangnya.
Mengapa Golkar sigap memberi surat tugas untuk Panji Astika tapi tidak untuk calon di Denpasar dan Badung? Berpikir sejenak, Sugawa menjawab, “Itu rahasia dapur, tidak bisa dibuka. Masing-masing daerah racikannya berbeda.”
Kembali Sugawa mengklaim Golkar tidak ada kesulitan memilah dan memilih calon, hanya masalah waktu untuk keputusan objektif, profesional, dan yang punya potensi menang. Tugas parpol, tegasnya, memastikan demokrasi berjalan melalui kompetisi, bukan fenomena kotak kosong. “Golkar harus membangun demokrasi yang sehat, dan ini bentuk tanggung jawab partai. Strateginya ya head to head, dan itu rasanya pasti terwujud,” pungkas pegiat koperasi tersebut. hen
























