Menyesuaikan WHO, Bali Sulit “Berdamai” dengan Corona, Negara Kompetitor Cepat Bergerak

Cok Ace (kiri) saat rapat paripurna DPRD Bali. Foto: hen
Cok Ace (kiri) saat rapat paripurna DPRD Bali. Foto: hen

DENPASAR – Sejumlah negara di Asia dan Eropa yang memilih “berdamai” dengan Covid-19 dengan membuka lebar-lebar pintu negaranya, antara lain untuk pariwisata. Mereka memilih mengubah situasi pandemi (bersifat global) menjadi endemi (bersifat lokal) untuk meringankan beban ekonomi negaranya. Namun, kebijakan semacam itu sulit diterapkan di Bali yang menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung ekonominya.

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Senin (14/2/2022), mengakui memang beberapa negara, bahkan negara-negara besar, sudah memperlakukan Covid-19 sebagai endemi. Kebijakan itu dibuat, sebutnya, tentu berdasarkan kajian-kajian. Saat ini sejumlah perguruan tinggi besar melakukan kajian seperti itu.

Read More

“Tapi sampai saat ini WHO belum mengumumkan (pandemi jadi endemi), sedangkan di Bali banyak event di bawah pengawasan WHO. Antara lain G20, juga beberapa kongres dunia pada bulan Maret dan Mei. Kami menyesuaikan (dengan kebijakan WHO). Pemerintah ingin (diubah jadi endemi) seperti itu, tapi di sisi lain tidak ingin keluar juga dari apa yang distandarkan WHO,” terangnya didampingi Ketua DPRD Bali, Nyoman Adi Wiryatama, usai rapat paripurna di DPRD Bali.

Dia mengakui Singapura sebagai salah satu kompetitor pariwisata Bali saat ini sudah “berdamai” dengan Corona. Disusul kemudian oleh Filipina yang membuka diri untuk pariwisata tanpa wajib karantina. Selama hasil tes PCR negatif, pelancong bisa jalan-jalan di Filipina. Hanya, soal apakah Bali bisa meniru kebijakan yang sama dalam skala lokal, dia tidak menjawab tegas.

“Ini sudah kami lakukan kajian, di luar Bali dan Indonesia begitulah (negara) kompetitor cepat bergerak. Mudah mudahan di Indonesia jadi bahan pertimbangan, karena keputusan (mengizinkan jadi endemi atau tidak) ada di pusat,” urai politisi yang akrab disapa Cok Ace itu.

Soal kondisi pariwisata Bali saat ini, dia berujar secara pasti meningkat terus dari hari ke hari. Selasa (15/2) Singapore Airlines akan datang dengan 70 penumpang. Ada juga permintaan maskapai internasional mau buka penerbangan ke Bali. Kondisi itu, sebutnya, merupakan hal positif bagi Bali. Mereka mau buka penerbangan ke Bali, tentu dengan indikasi ada permintaan pasar pelancong mau ke Bali.

“Kalau dampak MotoGP (di Lombok) tidak ada, bookingan ada keluarga dan teman-temannya. Ada dirasakan, tapi belum dihitung berapa untuk Bali,” tandasnya.

Adi Wiryatama menambahkan, jika Bali terus banyak restriksi seperti saat ini, lama kelamaan sumber daya akan tersedot habis. Secara pribadi dia mengakui ingin segera Bali bisa dibuka lebar untuk pariwisata, tentu dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. “Tapi semua kankembali ke pusat. Semoga suara kita didengar,” jawabnya dengan ekspresi tersenyum. hen

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.