Masker Kurang, Nihil Baju “Astronot”, Tenaga Medis di NTB Andalkan Baju Operasi

  • Whatsapp
RELAWAN Covid-19 saat membagikan bantuan APD bagi tenaga medis di Puskesmas Gunungsari, Lombok Barat. Foto: fahrul
RELAWAN Covid-19 saat membagikan bantuan APD bagi tenaga medis di Puskesmas Gunungsari, Lombok Barat. Foto: fahrul

KASUS Covid-19 di NTB meningkat hari demi hari, dan pasien berdatangan ke puskesmas hingga rumah sakit terus bertambah. Kendati pasien positif terus meningkat, ketersediaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis di puskesmas dan rumah sakit tidak seimbang dengan jumlah pasien yang berdatangan. Akibatnya, banyak tenaga medis menggunakan perlengkapan seadanya, bahkan ada membeli sendiri. Keselamatan tenaga medis sangat terancam dengan kondisi tersebut.

Dokter piket di Puskesmas Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Lobar, Gusti Ayu Kartika, mengaku kerap khawatir setiap kali menerima pasien yang diduga terjangkit Covid-19 lantaran tak dibekali APD yang lengkap. Namun, dia mencoba menepikan rasa khawatirnya demi melayani pasien dengan baik. Hal itu, sebutnya, merupakan risiko tenaga medis yang melayani pasien meski tahu penyakit itu bahaya pula untuknya.

Baca juga :  52 Warga Duda Timur Dites Cepat

“Kalau dibilang takut ya pasti takut, tapi kita berserah pada Tuhan saja. Ini udah bagian dari profesi yang aku pilih. Aku khawatir, apalagi APD seadanya,” kata Ayu, ditemui Jumat (11/4/2020) lalu.

Menangani pasien terduga Covid-19, Ayu mendaku hanya dibekali pakaian operasi yang sebenarnya tidak sesuai dengan standar. Setiap hari dia melayani enam hingga tujuh pasien terduga Covid-19, tanpa tahu apakah nantinya status terduga itu akan naik jadi positif atau tidak. Di wilayahnya, kata Ayu, pasien PDP yang ditangani kebanyakan merupakan kluster asal Gowa (jamaah tabligh). “Aku cuma pakai baju gaun yang dipakai buat operasi, bukan baju astronot yang sesuai standar,” sambungnya. Selain itu, dia dibekali masker N-95 yang digunakan selama seminggu merawat pasien terduga Covid-19.

Baca juga :  Hotel Inna Grand Bali Beach Kembali Terbakar

Keadaan tersebut yang kadang membuatnya prihatin. Bahkan tak jarang dia mengeluh dengan keadaan paramedis. “Kalau lagi ngeluh terkadang terpikir gitu, lebih milih nerima pasien serangan jantung ketimbang pasien terduga Covid-19,” kisahnya lesu sambil menemani salah satu perawat yang baru selesai menangani pasien perempuan dan anaknya yang berstatus PDP asal Desa Duman, Kecamatan Lingsar.

Kondisi serupa juga diutarakan Susila D, salah satu perawat di Puskesmas Narmada. Menurut dia, baju hazmat yang dimiliki merupakan milik pribadi. Hampir seluruh tenaga medis di puskesmas di Lobar tidak dibekali APD lengkap oleh pemda. Karena itu, dia bersyukur ada kepedulian dari Manageman Pojok NTB yang tergabung dalam relawan Peduli Covid-19 Nusa Tenggara Barat, yang menyerahkan bantuan sejumlah APD dan masker untuk petugas medis di sejumlah puskemas di Lombok. “Baju bantuan ini langsung kami pakai, karena baju yang kami punya biasanya setelah dipakai menangani pasien langsung dicuci dan dijemur. Jadi, bisa dipakai lagi ke depan,” sambungnya lirih. rul

banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 banner 728x250 SMK BALI DEWATA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.