Majukan Petani Arak Tradisional, Koster Sumbang Alat Destilasi

GUBERNUR Bali, I Wayan Koster, menyalurkan bantuan alat destilasi pengolahan arak tradisional di Taman Soekasada Ujung, Karangasem, Minggu (20/2/2022). Foto: ist
GUBERNUR Bali, I Wayan Koster, menyalurkan bantuan alat destilasi pengolahan arak tradisional di Taman Soekasada Ujung, Karangasem, Minggu (20/2/2022). Foto: ist

KARANGASEM – Untuk meningkatkan kemajuan ekonomi masyarakat lokal di Karangasem, Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyalurkan bantuan alat destilasi pengolahan arak tradisional di Taman Soekasada Ujung, Karangasem, Minggu (20/2/2022). Penyaluran bantuan ini serangkaian sosialisasi implementasi Pergub Bali Nomor 1 tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi Destilasi  Khas Bali, juga fasilitasi peralatan destilasi kepada kelompok perajin minuman fermentasi destilasi.

Bupati Karangasem, I Gede Dana, pada kesempatan itu mengatakan, di Karangasem ada 1.798 perajin arak. Dari semua wilayah di Karangasem, yang tidak memiliki perajin arak hanya ada dua kecamatan yaitu di Kecamatan Rendang dan Kecamatan Karangasem. Untuk Kecamatan Karangasem, sebenarnya wilayah Seraya punya potensi dan masih bisa dikembangkan untuk perajin.

Read More

“Pada hari ini (kemarin) Gubernur sosialisasi peralatan fermentasi khas Bali di Karangasem. Pemerintah juga berinovasi dalam bidang teknologi agar perajin arak dapat menghasilkan lebih banyak dan hasil lebih bagus,” terangnya.

Lebih lanjut diuraikan, sejak tahun 2018 dia memikirkan kondisi perajin arak. Beberapa hal yang bersifat tradisional juga diperhatikan. Intinya, seiring perkembangan, tidak dari sisi tradisionalnya saja dipertahankan, tapi sisi modern juga perlu dipadukan dan diperhitungkan.

Gubernur Koster menjelaskan, ketahanan ekonomi mandiri dengan usaha-usaha tradisional warisan leluhur harus benar-benar dipertahankan. Perajin arak merupakan satu-satunya usaha warga lokal di pelosok-pelosok dusun, dan ini berarti potensi di wilayah itu bisa membantu bertahan hidup dari sisi sektor ekonomi. “Harus itu diperjuangkan dan dipertahankan pemerintah untuk kesejahteraan hidup mereka. Saya usahakan supaya sektor ekonomi tradisional jadi lebih berkembang, contohnya arak, perajin endek, buah-buahan lokal,” ulasnya.

Terkait pemasaran supaya terjangkau, Koster menegaskan berjuang hingga ke kementerian terkait untuk berproses. Dia tetap berjuang demi masyarakat kecil, agar masyarakat bawah bisa menikmati kebijakan-kebijakan pemerintah.

Mengenai gula arak yang banyak beredar, Koster mengakui kewenangannya terbatas meski sudah memarahi. Dia mengimbau mereka mau berhenti. Jika ini dibiarkan, dia khawatir perajin arak tradisional akan punah. Perajin arak tradisional, tegasnya, murni dari sulingan tuak kelapa, tuak jaka pohon enau, dan pohon lontar.

“Sekarang upaya inovasi kita berikan sumbangan alat destilasi pengolahan arak supaya lebih efisien dari sisi pengolahan,” lugasnya.

I Nyoman Yasa, petani arak tradisional dari Desa Labasari, Kecamatan Abang, mengucapkan terima kasih atas bantuan alat destilasi dari Gubernur Koster. “Mudah-mudahan dengan bantuan alat ini kami selaku perajin arak bisa meningkatkan taraf ekonomi, karena hasil dari alat tersebut cukup memuaskan. Selain itu efisien waktu, termasuk proses penyulingan,” tuturnya.

Ada lima kelompok yang mendapat bantuan yang diserahkan secara simbolis oleh Gubernur Koster yakni Petani Arak Cipta Bhuana, Desa  Tri Eka Bhuana; Petani Arak Tri Darma Tunggal, Desa Tri Eka Bhana; Petani Arak Desa Talibeng, Sidemen; dan Kelompok Petani Arak Api Merita, Kecamatan Abang, serta Petani Arak Tirta Tipala. nad

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.