Lonjakan Harga Kedelai Pengaruhi Produksi Tempe

PEDAGANG tempe di wilayah Karangasem menghadapi tantangan karena harga kedelai meroket. Harga kedelai yang sebelumnya berkisar antara Rp8.000 hingga Rp9.000 per kg, kini naik menjadi Rp10.100 per kg. Foto: ist

POSMERDEKA.COM, KARANGASEM – Pedagang tempe di wilayah Karangasem menghadapi tantangan karena harga kedelai meroket. Harga kedelai yang sebelumnya berkisar antara Rp8.000 hingga Rp9.000 per kg, kini naik menjadi Rp10.100 per kg. Kondisi ini memaksa pengusaha tempe mengurangi jumlah kedelai yang digunakan dalam produksi agar tetap memberi untung.

Samsudin, pengusaha tempe asal Segara Katon, Kecamatan Karangasem, mengungkapkan, dampak kenaikan harga kedelai saat ini sangat terasa. Dia terpaksa menyesuaikan takaran kedelai dalam setiap bungkus tempe. Sementara produksi tempe di daerah tersebut masih berjalan normal, sekitar 200 kg per hari.

Bacaan Lainnya

Namun, saat hari raya, Galungan-Kuningan kemarin, produksinya menurun jadi sekitar 100-150 kg per hari. “Karena hari raya, kami sengaja menurunkan jumlah produksi,” katanya, Senin (5/5/2025).

Meskipun begitu, harga tempe per bungkusnya tetap tidak terpengaruh. Cuma takarannya dikurangi.
Kenaikan harga kedelai ini jelas berdampak pada keuntungan para pengusaha tempe, yang kini harus mencari cara untuk bertahan dengan biaya produksi lebih tinggi. Pengusaha harus membayar para karyawan.

“Karena kenaikan harga ini terjadi secara bertahap, saya khawatir harga kedelai di pasaran terus naik, mudah-mudahan tidak terjadi kenaikan lagi. Saya harap harga kedelai kembali seperti sediakan,” pungkasnya. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses