Laporan Perselingkuhan Istri Mentok, WN Malaysia “Curhat” ke Kapolri

PELAPOR Ng Boon Kwee (tiga kiri) bersama kuasa hukummya, Ni Wayan Umi Martina, saat memaparkan peristiwa yang dirasa ketidakadilan hukum kepada media, Minggu (24/4/2022). Foto: hen
PELAPOR Ng Boon Kwee (tiga kiri) bersama kuasa hukummya, Ni Wayan Umi Martina, saat memaparkan peristiwa yang dirasa ketidakadilan hukum kepada media, Minggu (24/4/2022). Foto: hen

DENPASAR – Warga negara Malaysia bernama Ng Boon Kwee (68) mesti tertatih-tatih berjalan mencari keadilan atas tindakan istrinya, Meivi Marce, yang diduga berselingkuh dengan Armb, dan menelantarkan tiga anaknya. Meski dia bersama polisi memergoki istri dan Armb yang pengacara itu dalam satu kamar vila, tapi kasusnya dihentikan Satreskrim Polres Badung. Ng Boon Kwee kemudian menulis surat curhat ke Kapolda Bali dan Kapolri untuk memohon keadilan.

Ditemui di Denpasar, Minggu (24/4/2022), pria kelahiran Selangor yang akrab disapa Daniel itu didampingi penasihat hukum, Ni Wayan Umi Martina. Dia berujar, kisah pilunya berawal pada Januari lalu saat ditinggal istri selama dua hari, dan meninggalkan tiga buah hatinya. Kejadian ini dilaporkan ke Polsek Kuta Utara, yang sigap membantu pencarian sampai kemudian menemukan lokasi istrinya di salah satu villa di kawasan Kuta Utara pada tanggal 8 Januari.

Bacaan Lainnya

Didampingi beberapa anggota Polsek Kuta Utara, Daniel menggerebek vila tersebut. Benar saja, Meivi yang menjadi pengurus gereja itu didapati sedang bersama pria lain yang belakangan diketahui bernama Armb. “Saya temukan dia dengan pria lain jam 11 malam di vila,” jelasnya.

Baca juga :  Satgas Imbau Masyarakat Denpasar Rayakan Tahun Baru 2021 dengan Merenung

Selanjutnya, Meivi, Armb dan beberapa barang bukti dibawa ke Polres Badung untuk diperiksa atas dugaan perzinahan sesuai Pasal 284 KUHP. Setelah penyelidikan berjalan sekitar dua pekan, tepatnya pada 28 Januari, penyidik Polres Badung mengeluarkan SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Pengawasan Penyelidikan) yang isinya menghentikan perkara tersebut. ”Alasannya waktu itu karena kurang alat bukti,” ucap Daniel dengan wajah sedih sembari menunjukkan SP2HP tersebut.

Terpukul karena merasa tidak mendapat keadilan, Daniel berjuang untuk dapat melanjutkan laporannya dengan bersurat ke Dit. Reskrimum Polda Bali, Bid. Propam Polda Bali hingga Irwasda Polda Bali. Saat itu, dia diminta mencari legal opinion dari saksli ahli pidana untuk dipakai rujukan memeriksa kasus ini. Daniel lalu minta pendapat ahli dari Universitas Udayana, Gde Made Swardhana, yang intinya menyatakan dalam kasus ini alat bukti cukup untuk bisa dilanjutkan ke tahap selanjutnya. “Saya juga sudah bersurat ke Kapolri dan Kapolda Bali untuk meminta perlindungan hukum, dan minta keadilan dalam perkara saya ini,” cetus Daniel.

Umi Martina menambahkan, dalam perkara ini polisi seyogianya tidak bisa hanya berpatokan pada satu pasal saja, yakni pasal 284 KUHP tentang perzinahan. Karena kasus ini bisa dijuntokan dengan pasal lainnya seperti UU Perlindungan Anak, UU Penghapusan KDRT ataupun pasal-pasal lainnya. Meski begitu, dia dan Daniel tetap mengapresiasi langkah-langkah kepolisian dalam menangani perkara ini.

Baca juga :  Semringahnya Kelompok Nelayan dan Tukang Suwun Terima Sembako

“Polsek Kuta Utara sangat membantu saat menggerebek istrinya, itu sangat kami apresiasi. Namun, kami juga mohon penyelidikan bisa dlanjutkan agar kasus terang benderang, dan memberi keadilan hukum untuk klien kami,” pintanya.

Masih menurut Umi, Meivi kini menggugat cerai Daniel di Pengadilan Negeri Denpasar. Menariknya, yang menjadi kuasa hukumnya adalah ARMB, pria yang diajak sekamar oleh Meivi di vila saat digerebek polisi dan Daniel. hen

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.