Poling Pilkada dan Jebakan Kemenangan Palsu

Gus Hendra. Foto: hen
Gus Hendra. Foto: hen

“TOLONG forward ke group dan teman-temanmu ya. Pilih …….” begitu isi pesan yang masuk keWhatsapp saya dari seorang kawan. Rupanya nama dia masuk poling calon Gubernur Bali yang dibuat aplikasi polingkita.com di media sosial (medsos). Awalnya saya abaikan, tapi ternyata pesan serupa masuk lagi, kali ini dari orang berbeda dengan tujuan senada. Pendek tutur, saya diminta memilih sosok tertentu dalam poling. Persoalannya, sejauh mana signifikansi poling dalam mempengaruhi kandidasi kelak?

Dari obrolan dengan sejumlah pihak, tidak ada yang tahu siapa pembuat poling calon Gubernur Bali dan bupati itu. Tidak ada yang tahu juga sampai kapan poling berjalan, atau berapa batas maksimal voter yang dicari. Konsekuensinya, karena waktu tidak ditentukan, poling terkesan hanya buang-buang energi saja. Pihak yang bulan lalu menang misalnya, bisa saja kemudian kalah karena pendukungnya malas mengikuti poling lagi.

Bacaan Lainnya

Yang perlu digarisbawahi, tak ada jaminan pemilih poling memiliki hak suara atau pasti memilih figur itu dalam kontestasi nyata. Akurasi poling juga berbeda dengan riset lembaga survei yang memakai metodologi jelas, antara lain termasuk penentuan sampling dan jenis wawancara yang dilakukan. Poling bagus untuk pemetaan awal, tapi masih jauh jika ingin dipakai rujukan ilmiah karena akurasinya terlalu mudah dipatahkan.

Baca juga :  Rencana Program Kerja BUMDes

Posisi figur yang masuk dalam poling seperti dilema. Jika dicueki, hasilnya niscaya kecil dan mudah dikesankan tidak didukung publik. Lebih buruk lagi, persentase kecil akan dikapitalisasi pihak yang berkepentingan untuk mendegradasi. Tentu dengan narasi suka-suka. Jika tokoh itu masih menjabat, akan dibumbui cerita rendahnya dukungan poling gegara kebijakannya tidak disukai rakyat, bodoh mengelola anggaran, sering membuat kontroversi di media, atau lainnya.

Sebaliknya, jika nilainya besar, tetap akan dikapitalisasi secara elektoral. Contoh di grup Facebookmulai ada pihak menjual sosok X yang diklaim menang poling calon Gubernur. Situasi itu memanaskan polarisasi yang sebelumnya terjadi, berikut retorika untuk justifikasi posisi masing-masing.

Jika dicermati secara kritis, poling di medsos sebentuk sebangun dengan sekadar memberi ikon jempol atau “like” dalam suatu postingan di Facebook. Bedanya, jika “like” galibnya diberi secara spontan dan sesuai suasana hati, dalam poling tak jarang dengan cara pengerahan massa. Siapa punya modal sosial atau model ekonomi kuat, dia berpeluang mendapat suara besar. Padahal realitas di medsos bisa jadi berpunggungan dengan realitas di kehidupan nyata.

Karena di medsos, poling itu menghadirkan konstruksi dari realitas. Sebab, di ranah ini semua bahasa, realitas, objek, analogi, ekspresi, maupun objek yang berada di dunia nyata dikonstruksi atau direkonstruksi di media sosial melalui layar komputer (Gotved, 2006). Selain itu, medsos tidak hanya dimanfaatkan untuk menceritakan diri, tapi meningkat menjadi medium aspirasi warga secara daring (A.G. Wilhelm, 2000).

Baca juga :  TPS Sanjaya Menang Telak, TPS Panji Lebih Unggul

Bagi sosok yang serius mengikuti poling dengan mengerahkan semua sumber daya, mereka dapat dimaknai sekurangnya dalam tiga hal. Pertama, poling sebagai media menunjukkan eksistensi diri. Terlepas apakah hasilnya menentukan atau tidak dalam kandidasi, tapi hasrat unjuk diri lebih menonjol.

Kedua, membuat separasi yang tegas antara “kita” dengan “mereka”. Ketika terjadi polarisasi, maka konsekuensinya adalah terjadi oposisi binner: jika tidak milih aku, berarti kamu milih dia.Ketiga, merupakan bentuk narsisme digital. Dengan mendapat angka poling tinggi, selain untuk eksistensi diri, juga bentuk panggung pertunjukan guna menarik kesan pengakses atau pengguna lain dalam jaringan pertamanan di media sosial.

Sosiolog Karl Marx mencetuskan istilah kesadaran palsu, yakni fenomena dominasi laten kelas masyarakat tertentu, terhadap kelas masyarakat lain di bawahnya, tapi terjadi seolah-olah alamiah, tanpa disadari kelas masyarakat tersebut. Misalnya buruh yang bekerja di industri milik kapitalis tidak merasa sedang dieksploitasi kekuatan kaum borjuis. Kehidupan kelas buruh sesungguhnya amat bergantung rumusan kepentingan dan kebijakan level atas, yang dikuasai kelompok borjuis.

Kembali ke poling di medsos, sejatinya yang diuntungkan adalah pengelola aplikasi poling tersebut. Dengan menawarkan status “menang” atau “terkenal”, para figur secara halus didorong untuk merebut status tenar. Apa gunanya? Jelas demi hal imajiner bernama kebanggaan diri. Sadar atau tidak, konsep kebanggaan diri dipersuasi seakan “dibutuhkan” agar bisa menikmati kehidupan di medsos.

Baca juga :  Dampak Corona, Bali United Perpanjang Masa Libur Pemain

Gampangnya macam ini. Dengan makin tinggi skor poling, akan berpeluang mengundang makin banyak pujian atau sanjungan yang berkorelasi dengan prestise sosok tersebut. Yang dibuat tersanjung itu dalam kondisi sadar, tapi itulah kesadaran palsu. Maka, dengan sendirinya, kemenangan yang diperoleh dalam poling di medsos itu sejatinya juga kemenangan seolah-olah alias kemenangan palsu.

Terlepas dari kisah di panggung belakang, tentu tidak ada hal dilanggar ketika ada yang membuat poling calon kepala daerah. Oke-oke saja jika ada yang serius berjuang guna memenangkan poling itu dengan segala kekuatan yang dimiliki. Tidak masalah juga bila kemudian hasil poling itu dipakai sebagai alat posisi tawar kepada pihak lain, entah di internal partai atau pihak yang akan diajak koalisi. Memenangkan poling? Bagus juga, syukur-syukur kemudian bisa dibuktikan dalam Pilkada 2024 mendatang. Yang penting menang poling jangan takabur, kalah poling juga bukan berarti kiamat bukan?

Karena pandemi masih terjadi, siapapun yang serius mengikuti poling berpeluang jadi pemimpin. Menurut Napoleon, pemimpin adalah penebar harapan. Bukan hanya karena orasi nan menggugah, penampilan yang dicitrakan merakyat, tapi lebih karena gagasan yang merangkum harapan dan kecemasan rakyat (Karim Suradi, 2017). Jadi, senyampang Pilkada 20204 masih dua tahun lagi, siapkah sosok dalam poling mewujudkan itu? Gus Hendra

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.