DENPASAR – Sesuai janjinya, KPU Denpasar langsung mengirim surat usulan pelantikan Jaya Wibawa sebagai paslon terpilih Pilkada Denpasar 2020 ke DPRD Denpasar, Minggu (24/1/2021). Surat tersebut ditindaklanjuti dengan sidang paripurna pengumuman usulan pelantikan tersebut oleh DPRD Denpasar, Senin (25/1/2021). Demikian diutarakan Ketua KPU Denpasar, I Wayan Arsajaya, kemarin.
Sesuai PKPU 19/2020, sebutnya, surat disampaikan sehari setelah pleno penetapan paslon terpilih, Sabtu (23/1/2021). Meski hari Minggu bukan hari kerja, dia berujar sudah ada koordinasi dengan Sekretaris DPRD Denpasar untuk menerima surat tersebut. “Untuk selanjutnya, merupakan kewenangan DPRD Denpasar meneruskan ke Kemendagri melalui Gubernur. Bisa dikatakan tugas kami untuk tahapan Pilkada 2020 sudah selesai,” jelasnya.
Lomba APS Minim Peserta
Untuk kegiatan internal, kemarin KPU Denpasar menyerahkan hadiah lomba alat peraga sosialisasi (APS) yang diikuti sekaa teruna di Denpasar. Lomba ini dilangsungkan mulai Oktober sampai 9 Desember 2020 lalu. Tujuannya untuk melibatkan aktif para pemilih pemula di lingkungan sekaa teruna, memberi pendidikan politik kepada generasi muda, sekaligus sosialisasi Pilkada Denpasar 2020. Sayang, kegiatan ini minim peminat.
Menurut Arsajaya, lomba ini mengandung pesan agar generasi muda tidak mengabaikan hak politiknya di Pilkada. Karena itu temanya adalah pentingnya menggunakan hak pilih, pentingnya pemilihan, dengan berbahan ramah lingkungan atau daur ulang. “Penilaian dilakukan tim KPU Denpasar dan pokja sosialisasi. Kami siapkan insentif untuk tiap peserta dan hadiah uang,” ulasnya.
Dia tidak memungkiri peserta lomba jauh dari harapan. Sebab, dari 400-an sekaa teruna di Denpasar, yang mengikuti hanya 18 peserta. Meski begitu, sambungnya, lomba lebih kepada upaya sosialisasi adanya Pilkada Denpasar. Bahwa hasilnya tidak sesuai harapan, dia menjawab itu hal lain.
“Upaya kami sudah maksimal, misalnya saat mendaftar mereka kami bagikan masker berisi tanggal pilkada supaya mereka tahu. Harapan kami ada proses mereka menggali lebih dalam apasih pentingnya pilkada,” ucapnya.
Arsajaya memilih tidak berkomentar saat ditanya berhasil atau tidaknya sosialisasi dengan lomba APS itu, mengingat partisipasi pemilih di Denpasar hanya 54 persen, menurun 2 persen dibandingkan Pilkada 2015 lalu. Dia pun hanya tersenyum simpul ketika disinggung minimnya peserta sebagai tanda apatisme warga Denpasar. “Saya tidak komentarlah,” katanya kalem.
Komisioner KPU Denpasar, Ni Ketut Dharmayanti Laksmi, juga terlihat sangat hati-hati ketika disodori pertanyaan soal minimnya partisipasi sekaa teruna tersebut. Memastikan apa penyebabnya, dia berkata perlu dilakukan survei dulu apa alasan sekaa teruna tidak mendaftar. Hanya, dia menyebut sosialisasi lomba itu memang tidak langsung ke sekaa teruna, melainkan diperantarai perbekel atau lurah di seluruh Denpasar.
“Kami tidak tahu apakah pemberitahuan itu sampai ke sekaa teruna atau belum, karena dilakukan secara daring. Atau bisa juga karena pandemi, mereka mengurangi aktivitas berkumpul, karena bikin APS itu kan harus bersama-sama juga,” duganya.
“Yang jelas ini kami jadikan evaluasi ke depan, agar jauh-jauh hari menyosialisasikan ke sekaa teruna pentingnya pilkada atau partisipasi pemilih,” imbuhnya menandaskan. hen
























