Komunikasi Nonverbal Tenaga Kesehatan

  • Whatsapp
Ilustrasi. Foto: net
Ilustrasi. Foto: net

“JANGAN rindu, ini berat. Kau takkan kuat. Biar aku saja!” Sepenggal kalimat populer dari tokoh film laris Dilan, bisa menggambarkan tanggungjawab dan perjuangan para tenaga kesehatan saat menjadi orang terakhir dalam penanganan pandemi Covid-19.

Tenaga kesehatan harus menahan rindu untuk bertemu orang-orang terkasih. Mereka bahkan ada yang ditolak keberadaannya di masyarakat. Seolah-olah tenaga kesehatan sebagai sumber penyebaran virus yang mendera warga dunia.

Bacaan Lainnya

Pemerintah Indonesia yang sejak 11 Maret 2020 lalu merilis mulai terjangkit Covid-19, telah melakukan penanggulangan dengan bersinergi dengan rakyat. Yang kuat menolong yang lemah dengan spirit nilai-nilai gotong royong yang terus didengungkan. Dampak pandemi terhadap perubahan perilaku manusia begitu dahsyat bisa kita amati bersama.

Semula arti mencuci tangan dan menutup mulut ketika bersin atau batuk dianggap remeh. Saat ini hal itu menjadi salah satu kunci mencegah penularan Covid -19. Imbauan pemerintah begitu jelas, tetaplah di rumah, memakai masker- atur jarak ketika terpaksa harus keluar rumah, menutup mulut ketika bersin atau batuk, tidak memegang bagian wajah, cucilah tangan selama dua puluh detik di air mengalir.

Tapi, dalam praktiknya, betapa sungguh sulit imbauan tersebut dipatuhi. Masih ada saja individu-individu yang tidak memakai masker, berpergian, bahkan nongkrong atau belanja dengan santai di warung. Individu-individu yang bebal ini yang justru rentan sebagai transmisi penyebaran virus. Adakah yang salah dari pola komunikasi kita?

Baca juga :  Cegah Penyebaran Covid-19, Satpol PP Denpasar Bubarkan Kerumunan di Jalan Tukad Unda

Mengapa imbauan yang begitu jelas dan terus-menerus diingatkan tidak juga diindahkan? Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi menjelaskan, bahwa, komunikasi terjadi di banyak tempat. Komunikasi dipakai untuk menyampaikan pesan yang bertujuan memberi informasi, menghibur, bahkan mempengaruhi.

Ada berbagai faktor dalam diri manusia yang membuat pesan tersebut dimaknai kemudian diejawantahkan menjadi berbeda-beda. Upaya melakukan komunikasi, baik verbal maupun nonverbal terus-menerus dilakukan agar masyarakat patuh dan taat. Dalam konteks itu, menarik mencermati, ketika para tenaga kesehatan menyebarluaskan foto mereka sambil membawa kertas yang bertuliskan “Kamu di rumah, biar kami bekerja di sini”.

Bentuk komunikasi itu diikuti oleh profesi lain yang menunjang hajat hidup orang banyak. Bentuk komunikasi yang intinya meminta masyarakat tetap di rumah. Perjuangan tenaga kesehatan beriringan dengan stigma negatif yang muncul di masyarakat. Orang-orang yang memiliki pemikiran negatif tidak menyadari bahwa tenaga kesehatan juga memiliki orang-orang yang dirindukan.

Berhari-hari bahkan ada yang dalam hitungan bulan tidak bertemu orang terkasih karena bertugas menangani pasien Covid-19. Foto-foto tenaga kesehatan di media sosial menggambarkan kedalaman rasa rindu itu. Contoh Foto-foto tersebut menjadi pola komunikasi nonverbal yang nyata. Seperti, foto seorang anak berada di dalam mobil, sementara di luar mobil ada seseorang dengan APD (Alat Perlindungan Diri) berdiri di dekat kaca mobil menjadi satu bukti dalamnya rasa rindu mereka.

Baca juga :  Buruh Pasar Kayuambua Pulang Bawa Senyum Usai Terima Sembako

Orang dengan APD belakangan diketahui adalah ayah dari anak tersebut. Tidak bisa memeluk dan mencium, namun ingin rindu dendam mereka terobati. Pesan fasial nampak pada ayah, wajahnya sedih karena tidak bisa memeluk anak.

Pesan gestural nampak ketika wajah anak dan ayah mendekat dengan batasan kaca mobil seperti ingin mencium dan memeluk. Pesan arti faktual, yaitu komunikasi yang diungkapkan melalui penampilanan atau pun pakaian juga tergambar jelas. Saat menemui anak, ayah masih memakai APD sehingga di awal keberadaannya tidak dikenali oleh anak.

APD menjadi komunikasi yang nyata bahwa ayah menjadi salah satu garda terakhir dalam penangan Covid- 19. Kaca mobil sebagai pesan prosemik adanya jarak antara anak dan ayah, tapi mampu menembus rasa kerinduan. Senyum menggambarkan kerinduan itu terobati, walau sesaat. Komunikasi nonverbal melalui sebuah foto, bagi penulis hal itu begitu jelas menyampaikan pesan mendalam.

Bahwa, pandemi kini membawa perubahan nyata pada perilaku manusia. Pandemi kini mengubah rasa kita sebagai manusia dalam memandang arti kebersamaan. Bersama memerangi pandemi Covid- 19 supaya banyak hati yang merindu bisa segera terobati.

Mari bersama-sama mematuhi imbauan pemerintah. Mematuhi demi menyelamatkan seluruh umat manusia. ”Terkadang rindu hadir di luar nalar. Ingin segera berlari dan terbang menghampiri” ( film Dilan 1990). (*)

Tim Penulis;

I Putu Alexandro Najundra,

Ni Kadek Tya Listiya Dewi,

Aritya Widianti, S.Psi., M.Psi. (Universitas Bali

Internasional-UNBI)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.