Kasus Narkoba Meningkat di Bangli, Polisi Petakan Potensi Warga Bunuh Diri

  • Whatsapp
KAPOLRES Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan, dalam jumpa media akhir tahun di Polres Bangli, Jumat (24/12/2021). Foto: ist

BANGLI – Pengungkapan kasus narkoba di Bangli pada tahun 2021 mengalami peningkatan 4,55 persen dibanding tahun sebelumnya, yakni menjadi 23 kasus. Peningkatan kasus ini dinilai sebagai peringatan agar masyarakat Bangli kian waspada, dan bersama-sama memerangi narkoba.

Demikian diutarakan Kapolres Bangli, AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan, dalam jumpa media akhir tahun di Polres Bangli, Jumat (24/12/2021).

Bacaan Lainnya

Kasatnarkoba AKP I Gusti Made Dharma Sudira menguraikan, semua tersangka kasus narkoba merupakan orang Bali. Modusnya semua janjian transaksi dengan ditempel di suatu tempat tanpa saling bertemu.

Mereka bertransaksinya secara online (daring), tidak saling kenal, tidak pernah bertemu. “Jaringannya juga terputus. Begitu satu tertangkap, komunikasi di atasnya langsung terputus,” jelasnya.

Untuk pengedar di Bangli, dia mendaku sejauh ini terdeteksi tidak ada. Yang ditangkap sebatas kurir. Meski begitu, tahun 2022 pihaknya tetap menarget mampu mengungkap kasus lebih banyak dibandingkan tahun 2021.

Dia menambahkan, jumlah kasus yang ditangani pada tahun 2020 sebanyak 22 kasus dengan 28 tersangka. Sementara tahun 2021 jumlah kasus yang ditangani sebanyak 23 kasus dengan 27 tersangka. Barang bukti yang disita pada tahun 2020 sebanyak 5,1 gram sabu, 6,25 gram ganja; sedangkan tahun 2021 barang bukti yang disita 7,73 gram sabu saja.

Baca juga :  Badung Tata Sarana Utilitas Terpadu Fiber Optik

Sementara itu, untuk kasus bunuh diri, pada tahun 2020 tercatat sebanyak 20 kasus, dan tahun 2021 tercatat 12 kasus “Memang menurun, tapi masih cukup tinggi jika dibandingkan kabupaten lain” jelas Kapolres.

Secara rerata, kasus bunuh diri terjadi di wilayah Kintamani dengan faktor yang mendominasi yakni sakit menahun atau ekonomi.

Mengatasi masalah ini, Kapolres berkata berupaya berkomunikasi langsung dengan para perbekel. Mereka diminta memetakan melalui kepala dusun (kadus) dan kepala lingkungan (kaling) siapa saja warganya yang memiliki potensi bunuh diri.

Karena melihat penyebabnya dominan faktor sakit menahun dan ekonomi, lugas Kapolres, dengan pemetaan itu bisa dengan mudah berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya.

Mulai dari Dinas Sosial sampai Rumah Sakit Jiwa. Upaya lain, Satuan Bimas memberi sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya bagaimana mengantisipasi keluarga yang berpotensi bunuh diri. gia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.