Jeruk Madu Besakih Sasar Pasar Domestik

  • Whatsapp
JERUK madu yang dikembangkan, I Gusti Ngurah Alit di lahan miliknya di Banjar Palak, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. Foto: ist
JERUK madu yang dikembangkan, I Gusti Ngurah Alit di lahan miliknya di Banjar Palak, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. Foto: ist

KARANGASEM – Sejak lima tahun ini, I Gusti Ngurah Alit mulai mengembangkan jeruk madu di lahan miliknya di Banjar Palak, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem. Jeruk madu yang dipelajari di Malang, Jatim itu kini berbuah manis, sama seperti hasil buahnya yang diminati banyak kalangan. 

Alit menceritakan awal mula ketertarikannya mengembangkan tanaman ini. Pada tahun 2014 dia bertandang ke Malang bersama Kelompok Tani Kintamani untuk studi banding tentang budidaya jeruk madu. “Saya belajar di sana. Mendapat pemahaman cara mengembangkan jeruk madu,” ujarnya, Rabu (25/8/2021).

Bacaan Lainnya

Ketertarikannya kian tinggi setelah merasakan langsung rasa manisnya jeruk madu itu, meski kala itu jeruk madu belum begitu berkembang di Malang. Dia pun langsung mengambil carang (batang) untuk dibawa ke Bali, dan selanjutnya carang tersebut dikembangkan dengan sistem mata tempel. “Saya tidak langsung bawa ke Besakih dulu, tapi dibawa ke Kintamani. Dikembangkan di sana, dan berhasil,” jelasnya.

Penanaman jeruk madu, kata Alit, akan berhasil ketika berada di ketinggian 600 sampai 1.000 meter di atas permukaan laut (MDPL). Kebetulan Kintamani dan Besakih memiliki demografi yang hampir sama dengan wilayah pegunungan di Malang. Dua tahun belakangan bibit dari Kintamani dibawa ke Besakih untuk ditanam, dan ternyata berhasil. Rasa jeruknya manis sekali.

Baca juga :  Pohon Pule Timpa Pura Penataran Pasekan

Lahan seluas 35 are dia gunakan untuk mengembangkan jeruk madu ini. Dengan jarak tanam 2,5 meter, lahan tersebut bisa menampung 60 pohon. Per pohonnya bisa menghasilkan 100 kilogram, dengan panen dua kali dalam setahun. “Puncak panen yang bagus itu di bulan Agustus,” paparnya.

Untuk satu kali panen, dia bisa mendapat hasil antara 2,5 sampai 6 ton. Diakuinya, pemasaran jeruk madu ini pun tidak sulit. Bahkan, sebelum pandemi, dia sempat kewalahan memenuhi kebutuhan konsumen. “Dulu sebelum pandemi yang ngambil jeruk saya dari swalayan dan hotel-hotel di Denpasar dan Badung. Mereka minta 1 ton setiap dua hari, tapi saya tidak sanggup,” kisah Alit.

Untuk per kilogram, Alit menjual seharga Rp20 ribu. Sementara harga eceran mencapai Rp35 ribu. “Sejak pandemi saya hanya melayani pedagang-pedagang kecil di Denpasar,” imbuhnya.

Perawatan tanaman jeruk madu ini, ulasnya, harus dilakukan secara ekstra. Misalnya ketika ancaman hama, obat yang digunakan harus benar-benar tepat. Perawatan paling bagus adalah perhatian serius setiap saat. “Kalau ada kutu loncat misalnya warna putih menyesuaikan racunnya. Obatnya bergantung hamanya, tidak bisa sembarangan,” terang Alit. nad

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.